Kultum 115: Abdullah bin Mas’ud, Umar bin Khattab, dan Abu Bakar As-Shiddiq

Umar bin Khattab dan Abu Bakar As-Shiddiq
Dr. H. Rubadi Budi Supatma, Wakil Ketua Departemen Kelembagaan dan Hubungan Luar Negeri Pengurus Pusat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia, PP IPHI.
banner 678x960

banner 400x400


Oleh: Dr. H. Rubadi Budi Supatma, Wakil Ketua Departemen Kelembagaan dan Hubungan Luar Negeri Pengurus Pusat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia, PP IPHI.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Bacaan Lainnya



اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ

Pembaca yang dirahmati Allah,

Hajinews.id – Semasa mudanya, yakni sebelum melewati usia pubertas, dia biasa menjelajahi jalur pegunungan Mekah yang jauh dari keramaian, dan menggembalakan ternak seorang kepala suku Quraisy bernama Uqbah ibn Muayt. Orang-orang memanggilnya “Ibn Umm Abd”, putra seorang budak. Nama aslinya adalah Abdullah, dan nama ayahnya adalah Mas’ud.

Para pemuda telah mendengar berita tentang Nabi yang muncul di antara kaumnya. Akan tetapi dia tidak menganggap hal itu penting, baik karena usianya maupun karena dia biasa jauh dari masyarakat Mekah. Dan sudah menjadi kebiasaannya, untuk pergi bersama kawanan Uqbah di pagi hari dan tidak kembali sampai malam tiba.

Suatu hari ketika sedang menggembalakan ternak, Abdullah melihat dua pria, setengah baya dan terlihat keren, datang dari kejauhan ke arahnya. Mereka jelas nampak sangat lelah dari penampilannya. Mereka juga sangat haus, terlihat dari bibir mereka yang kering. Mereka mendekat dan menyapanya, dan berkata, “Anak muda, perahlah salah satu domba ini untuk kami agar kami dapat memuaskan dahaga kami dan memulihkan kekuatan kami”.

“Aku tidak bisa”, jawab Abdullah. “Domba-domba itu bukan milikku. Saya hanya bertanggung jawab untuk menjaga mereka”. Kedua pria itu tidak mau berdebat dengannya. Meskipun mereka sangat haus, mereka sangat senang dengan jawaban yang jujur. Rasa gembira terlihat di wajah mereka. Kedua orang itu sebenarnya adalah Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, dan Abu Bakar Shiddiq, temannya.

Pada hari itu mereka pergi ke pegunungan Mekah untuk menghindari penganiayaan yang kejam dari kaum Quraisy. Pada gilirannya, Abdullah pun terkesan dengan Nabi dan temannya dan segera menjadi sangat dekat dengan mereka.

Tidak lama kemudian Abdullah bin Mas’ud menjadi seorang Muslim dan menawarkan diri untuk mengabdi kepada Nabi. Nabi setuju dan sejak hari itu Abdullah bin Mas’ud yang beruntung berhenti menggembalakan domba sebagai ganti memenuhi kebutuhan Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Abdullah bin Mas’ud tetap dekat dengan Nabi. Dia selalu memenuhi kebutuhannya baik di dalam maupun di luar rumah. Dia akan menemaninya dalam perjalanan dan ekspedisi. Dia akan membangunkan Nabi ketika dia tidur, dia akan melindungi Nabi ketika Nabi mandi. Dia akan membawa tongkat dan siwak Nabi dan mengurus kebutuhan pribadi Nabi yang lain.


banner 800x800

Pos terkait


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *