Yang Lebih Jahat Dari “Sekadar” Membakar Al-Quran

Yang Lebih Jahat Dari "Sekadar" Membakar Al-Quran
Pembakar Al-Qur'an Rasmus Paludan

banner 678x960

banner 678x960

Oleh: Arief B. Iskandar

Hajinews.id – AL-QURAN kembali dibakar. Membuat hati setiap Muslim ikut terbakar. Tentu jika mereka masih punya setitik iman dan dalam keadaan sadar.

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Kali ini pelaku pembakaran al-Quran mulia tersebut seorang politisi pecundang kafir dari Swedia. Dunia Islam pantas marah. Kaum Muslim di seluruh dunia layak dan wajib murka. Tak bisa sekadar berdiam diri. Apalagi sampai tidak peduli. Saat di hadapan mereka kaum kafir berkali-kali menistakan dan merendahkan al-Quran yang suci.

Namun demikian, sikap marah dan murka karena al-Quran suci dinistakan dan direndahkan–dengan cara dibakar atau cara apapun–seolah menjadi tak berarti. Tentu jika penistaan al-Quran dalam bentuk lain yang lebih nyata tidak pernah ditanggapi. Ini sebetulnya telah lama terjadi.

Sebagaimana dipahami, al-Quran bukan sekadar kumpulan lembaran kertas berbentuk mushaf yang bertuliskan firman Allah SWT dengan menggunakan bahasa/tulisan Arab. Al-Quran adalah kitab petunjuk dan kitab hukum yang di dalamnya berisi seluruh konsep dan aturan yang diperlukan dan dibutuhkan oleh seluruh manusia, tak hanya kaum Muslim.

Faktanya, sebagai kitab petunjuk dan kitab hukum, al-Quran sesungguhnya sudah lama dinistakan dan direndahkan oleh kaum Muslim. Terutama oleh para penguasa mereka. Buktinya, petunjuk hidup dan aturan hukum untuk mengatur kehidupan kaum Muslim saat ini bukan diambil dari al-Quran, tetapi dari ideologi dan peradaban Barat sekuler.

Dalam pengaturan ekonomi, para penguasa Muslim–sebagaimana para penguasa di Barat–mengambil sistem ekonomi kapitalis-liberal yang digagas oleh Adam Smith, David Ricardo, John Maynard Keynes dan para ahli ekonomi Barat kapitalis lainnya. Bukan sistem ekonomi Islam yang digali dari al-Quran.

Di bidang politik, para penguasa Muslim–sebagaimana para penguasa Barat–menerapkan sistem politik demokrasi modern yang digagas oleh Montesquieu, John Locke, JJ Rousseau, dll. Bukan sistem politik Islam yang digali dari al-Quran.

Di bidang hukum, para penguasa dan kaum Muslim juga menerapkan hukum-hukum Barat sekuler yang digagas Imanuel Kant, Hugo De Groot, dll. Bukan hukum-hukum Islam yang digali dari al-Quran.

Artinya, jika benar kita marah dan murka saat mushaf al-Quran dihinakan dan dinistakan (dibakar, dilemparkan ke kloset, diduduki atau diinjak-injak, dll), sepantasnya kita jauh lebih marah dan lebih murka saat isi/kandungan al-Quran yang berupa petunjuk dan aturan hidup manusia dicampakkan dan tidak diterapkan secara total dalam kehidupan kaum Muslim, sebagaimana saat ini.

Dalam hal ini menarik apa yang dinyatakan oleh Joseph Brodsky–

seorang penyair, pengkritik dan Peraih Nobel Sastra (1987) dari Rusia–saat dia menyatakan, “Ada kejahatan yang lebih mengerikan dari sekadar membakar buku. Salah satunya adalah tidak membaca buku.”


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *