Prof Haedar Nashir Menegaskan Posisi Modernitas Muhammadiyah

Posisi Modernitas Muhammadiyah
Prof Haedar Nashir

banner 678x960

banner 678x960
Hajinews.id – Selain sebagai gerakan tajdid, Muhammadiyah kerap dianggap sebagai gerakan modern. Ulama terkenal seperti Deliar Noer, James L. Peacock, Mitsuo Nakamura dan Clifford Geertz menggambarkan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modern dan moderat.

Kemajuan yang dialami langsung oleh masyarakat luas membuat para ulama ini memandang Muhammadiyah sebagai organisasi penting sebagai mesin pembaharuan pemikiran Islam, khususnya di Indonesia.

Prof Haedar menjelaskan, modern yang dimaksud adalah kekinian. Dalam bahasa Arab, modernisme sering disebut dengan al-‘ashariyyah.

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Pandangan ini sejalan dengan spirit QS. Al-‘Ashr yang menjelaskan tentang pentingya memanfaatkan waktu. Saking istimewanya surat ini, Imam Syafii menempatkannya sebagai inti dari ajaran Al Quran. Tidak heran bila Ahmad Dahlan mengajarkan surat ini hingga berbulan-bulan lamanya. Karenanya, spirit modernisme Muhammadiyah berakar dari tradisi Islam bukan dari pengalaman peradaban Barat.

Menurut Prof Haedar, modernisme Barat lahir akibat trauma terhadap Agama. Kala itu, gereja memiliki kontrol penuh terhadap kehidupan ekonomi, politik dan bernegara, sehingga siapapun yang bertentangan atau menentang gereja akan disingkirkan. Hal inilah yang kemudian mendorong lahirnya semangat humanisme-sekular dan menempatkan agama pada aspek ritual dan pribadi semata. Para raksasa pemikir Barat seperti Max Weber, Friedrich Nietzsche, Karl Marx berasal dari keluarga religius yang kemudian menjadi pengkritik utama kaum beragam.

“Modern kita berbeda dengan Barat. Barat lahir karena trauma Agama. Dasar modernisme Barat itu humanisme-sekular. Saat itu agama di Barat serba teosentrisme, serba hablu min Allah, dan punya kecenderungan anti terhadap kemanusiaan,” tutur Prof Haedar dalam acara Peresmian Gedung Kelas Putra Terpadu Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Boarding School (PPM MBS) Yogyakarta pada Sabtu (21/01).

Islam sejak awal telah menjadi gerakan modern dalam pengertian QS al ‘Ashr yaitu menghargai waktu, bergerak ke depan, membuat inovasi, dan lain-lain. Spirit QS. Al ‘Ashr ini bila dipadukan dengan QS Iqra 1-5 maka akan menjadi basis kemajuan Islam. Menurut Prof Haedar, Islam sebagai ajaran dan sejarah peradaban sungguh kaya dengan etos atau tradisi keilmuan.

Ayat Al-Qur’an yang pertama diturunkan dan merupakan titik awal kerisalahan Nabi Muhammad justru tentang “iqra”, yang mengandung pesan sekaligus perintah imperatif kegiatan intelektual.

Dengan demikian, Prof Haedar menegaskan bahwa modernisme Muhammadiyah sejatinya lahir dari Islam itu sendiri. Sejak awal kelahirannya, Islam sungguh-sungguh hadir menjadi agama sekaligus peradaban profetik yang kosmopolit, humanistik, kultural, dan saintifik. Islam bahkan dapat dikatakan sebagai agama kemajuan (din al-hadarah), yang mampu mengubah daerah Yastrib yang pedesaan menjadi kota peradaban (Madinah al-Munawwarah).

“Dari tradisi iqra lahir peradaban Islam yang maju, Islam yang kosmopolitan. Islam sampai bisa meluas Eropa Barat, ke kawasan Andalusia. Kalau kita ke Granada, jejak Islam begitu luar biasa di sana,” tutur Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini.


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *