Membakar Kitab Suci: Kebebasan atau Pelecehan?

Membakar Kitab Suci
pembakaran Al Qur'an

banner 678x960

banner 678x960

Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation

Hajinews.id – Pada hari Sabtu, 21 Januari lalu, seorang politisi radikal Swedia bernama Rasmus Paludan membakar Al Qur’an. Pembakaran ini dilakukan de depan Kedutaan Turkiye sebagai bentuk kemarahan kepada agama Islam yang dianggap mengancam masa depan negaranya.

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Kejahatan Rasmus Paludan ini bukan pertama kalinya. Beberapa waktu yang lalu dia juga pernah melakukan hal yang sama. Dan pada kedua kali kejahatan itu oleh pemerintah Swedia dianggap legal dengan jaminan kebebasan. Bahkan secara khusus mendapat izin dari Kepolisian dengan penjagaan keamanan di saat melakukan aksinya.

Kejadian demi kejadian yang sering terjadi di negara-negara Eropa dan Barat secara umum ini tentu menjadi pemicu bagi terjadinya reaksi keras dari kalangan Umat dan dunia Islam. Di Swedia sendiri sudah terjadi counter demonstrasi oleh Komunitas Muslim, khususnya dari Komunitas Turki.

Pemimpin-Pemimpin negara mayoritas Muslim telah menyampaikan protes keras dan kutukan atas peristiwa pembakaran Al Qur’an ini. Selain Erdogan dari Turki, juga Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, mengutuk keras pembakaran Al Qur’an itu. Kutukan yang sama juga disampaikan oleh Mentu Indonesia.

Pembakaran yang dilakukan ini memang karena kebenciannya kepada Islam yang semakin melaju berkembang di negara-negara Barat. Islam diprediksi oleh banyak kalangan akan menjadi agama mayoritas di banyak negara, bahkan secara global di masa yang tidak lama lagi. Di berbagai negara Eropa seperti Inggris, Jerman, Prancis dan banyak lagi Islam semakin tampil di mainstream bahkan pemerintahan.

Kebebasan berekspresi atau pelecehan?

Salah satu alasan yang selalu dipakai sebagai justifikasi dari aksi-aksi seperti ini, termasuk pembakaran Kitab Suci dan/atau penghinaan kepada nabi/rasul, khususnya Muhammad SAW adalah kebebasan berekspresi. Artinya melakukan hal seperti ini harusnya dijamin, bahkan dihormati karena merupakan ekspresi sebuah nilai yang mulia.

Sejujurnya Saya justeru semakin bingung memahami arti kebebasan dalam pandangan Barat/Eropa. Kebingungan saya itu semakin menjadi-jadi karena seringkali kebebasan itu pandang secara sepihak dan penuh ketidak jujuran. Jika berada di pihak yang menguntungkan mereka maka itu kebebasan. Tapi jika kebebasan itu berada di pihak lain maka serta merta dipandang terbalik sebagai “kungkungan”.

Contoh yang nyata di hadapan mata kita adalah ketika mereka mengekspresikan diri secara bebas dengan pakaian mereka. Mereka menganggap itu sebagai bagian dari kebebasan yang harus dihormati. Mereka marah ketika negara Islam menuntut wanita Eropa non Muslim misalnya untuk menutup aurat (berjilbab misalnya) di saat berada di negara mayoritas Muslim.

Tapi ketika orang-orang Islam ingin mengekspresikan kebebasan mereka dengan memakai pakaian yang menutup aurat, termasuk memakai jilbab, mereka bangun opini bahwa hal itu adalah pengungkungan kepada wanita. Bahkan dianggap bertentangan dengan nilai-nilai universal dunia, termasuk kebebasan dan kemajuan.


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *