Novel Muhammad Najib, “Bersujud Diatas Bara” (Seri-27): Menjenguk Suami

Menjenguk Suami
Muhammad Najib, Dubes RI Untuk Kerajaan Spanyol dan UNWTO

banner 678x960

banner 678x960

Karya: Muhammad Najib, Dubes RI Untuk Kerajaan Spanyol dan UNWTO

Hajinews.id – Udara pagi itu terasa masih dingin. Suara kokok ayam terdengar bersahut-sahutan menyambut fajar yang mulai menyingsing di ufuk Timur. Walaupun terasa malas dan mata masih mengantuk, sebagaimana hari-hari biasanya, Nur memaksakan diri menggeser selimut yang membungkus tubuhnya. Ditatapnya ketiga anaknya yang masih lelap dalam tidur di sampingnya. Si bungsu Iin yang posisinya paling dekat tampak mengepalkan tangannya yang didekapkan ke dada dengan tubuh melengkung kedinginan.

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Nur lalu mengambil selimutnya, diletakkannya di atas tubuh si bungsu dengan lembut. Ia lalu menggeser perlahan badannya agar tidak mengusik tidur anakanaknya. Dibukanya jendela kamar. Tampak langit masih gelap. Ia lalu pergi ke dapur untuk memasak air. Setelah menyalakan kompor, Nur ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Ia lalu menunaikan shalat kabliyah dua rakaat, diikuti dengan shalat Subuh dua rakaat. Usai shalat, ia pun berdoa:

“Ya, Allah, Tuhan yang Maha Pengasih lagi Penyayang, berilah kekuatan hamba-Mu yang lemah ini, menghadapi semua cobaan-Mu. Lindungilah Suami hamba, anak-anak hamba dan orang-orang yang teraniaya. Kami yakin tidak ada satu kejadian pun di dunia ini tanpa sepengetahuan-Mu, ya Allah. Kami yakin rencana- Mu lebih baik dari keinginan Kami. Maafkanlah jika Kami terlalu banyak mengeluh dihadapan-Mu. Amiiin”.

Doa seperti ini Ia ulang-ulang setiap kali usai menunaikan shalat lima waktu. Nur lalu mendekati si sulung.

“Sayang…! Bangun, Nak…! Sudah siang. Nanti sekolahmu terlambat”, katanya sambil mengusap-usapkan tangannya pada punggung Amil. Tubuh Amil menggeliat, tapi Ia masih enggan membuka matanya.

“Sayang…! Kamu harus rajin sekolah, biar nanti jadi insinyur kalau sudah besar”.

Nur mengusapkan kembali tangannya ke punggung Amil dengan tekanan yang lebih kuat. Amil mulai membuka matanya dengan malas.

“Ayo, Nak, Ibu sudah masakkan air panas untuk mandi”.

“Tapi teman-teman di sekolah jahat semua”, jawab Amil sambil menggosok-gosok matanya.

“Tidak, Nak! Teman-temanmu tidak jahat. Kamu harus pandai bergaul”, rayu Nur.

“Amil sudah baik pada mereka semua, tapi mereka tetap saja jahat”, keluhnya.

“Ya, nanti Ibu akan laporkan ke gurumu, biar mereka dihukum”, rayu Nur lagi.

Baru saja Nur sampai di rumah setelah mengantar Amil ke sekolahnya, seseorang yang mengendarai sepeda motor mengantarkan sepucuk surat beramplop cokelat. Nur melihat amplop itu berkop Kepolisian Republik Indonesia. Ia membukanya, kemudian membaca isinya.

“Alhamdulillah…!”, katanya sambil mendekap dan menempelkan surat itu ke dadanya.

Suamiku ditahan di kantor Polisi dan Aku boleh mengunjunginya”, katanya bergumam sendirian dengan dada berdegup kencang.

Nur lalu menemui mertuanya untuk mengabarkan berita gembira itu.

“Bagaimana pendapat Ibu ?”.

“Kita tidak punya siapa-siapa lagi, Kamu satu-satunya yang memungkinkan mengurusnya”, kata Bu Bisri.

“Maksudnya ?”, tanya Nur tak mengerti.

“Anak-anak biar Ibu dan Bapak yang jaga. Nanti Ibumu biar sering-sering ke sini. Atau jika Ia mau, boleh mengajak anak-anak bermalam di rumahnya. Ibu ada simpanan yang bisa Kamu bawa dan untuk ongkos ke Denpasar. Rumahmu di sana juga perlu dibersihkan supaya tidak menjadi sarang tikus”.

“Baik Bu !”, kata Nur dengan suara ragu.

Selama ini Ia tidak pernah ke luar kota sendirian, tetapi Ia tidak punya pilihan. Keberaniannya sedikit-demi sedikit mulai tumbuh.

Lewat telepon, Nur mengabari Hafiz rencana kedatangannya ke Denpasar setelah menerima surat dari Polisi. Hafiz berjanji akan membantunya.
Setelah mempersiapkan segala sesuatunya Nur berangkat menuju Surabaya, lalu dengan menggunakan Bus Malam langsung ke Denpasar. Setelah sampai, Ia mampir ke rumahnya sekedar untuk meletakkan tas, membersihkan diri, langsung menemui Hafiz.

“Mana suratnya? Boleh saya lihat?”, pintanya.

Nur lalu mengambil amplop cokelat yang disimpannya di tas kecil yang dibawanya. Hafiz membacanya dengan perlahan.

“Bagaimana?”, tanya Nur.

Hafiz diam saja, tidak menjawab, sambil tetap memegang surat itu.

“Mas bisa mengeceknya di kantor polisi?”, desak Nur.

“Bagaimana ya…! Saya belum pernah berurusan dengan polisi”, jawab Hafiz ragu.

Kalau Hafiz saja tidak pernah, apalagi Aku pikir Nur dalam hati. Lalu Aku harus minta tolong siapa? Ia bertanya pada diri sendiri. Otaknya terus berputar, sementara hatinya terus meronta dan mendesak. Nur yang pemalu dan jarang keluar rumah selama ini, mulai berpikir lain. Keberaniannya sedikit demi sedikit terus bertambah.

“Aku tidak punya pilihan”, simpulnya.

“Aku harus menemuinya sendiri”, pikirnya sambil melangkah ke meninggalkan Hafiz yang terus memperhatikan dirinya.

Setelah berkemas-kemas seperlunya, Nur kemudian meninggalkan rumahnya. Ia pergi dengan angkot. Sesampainya di kantor polisi, ia bertanya pada petugas jaga dan menjelaskan tujuannya.

“Alhamdulillah…! Ternyata kantor polisi tidak seseram yang Aku bayangkan”, pikirnya.

Ia diminta duduk menunggu di kursi kayu di ruang depan kantor polisi itu. Setelah menunggu sekitar setengah jam, seorang petugas datang menemuinya.

“Apakah Anda istri saudara Mujahid?”, tanya petugas itu.


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *