Anies, Antara Realitas dan Rasional Politik

Anies Antara Realitas dan Rasional Politik
Anies Baswedan

banner 678x960

banner 678x960

Oleh: Taufiq Abdul Rahim, Dosen Universitas Muhammadiyah Aceh dan Peneliti Senior Political and Economic Research Center/ PEARC-Aceh

Hajinews.id – DALAM konstelasi politik nasional, menjelang berlangsungnya Pemilihan Umum ( Pemilu) Presiden Republik Indonesia (RI) pada tahun 2024 yang akan datang, beberapa calon Presiden RI telah dideklarasikan oleh beberapa partai politik dan koalisi antar partai, dengan harapan akan terpilih secara demokratis dengan model demokrasi Indonesia pada Pemilu sebagai Presiden RI yang besar dan heterogen ini.

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Sesungguhnya pertaruhannya akan semakin sengit, sementara ini hanya dan telah menilai dengan tingkat keyakinan yang tinggi, masing- masing partai politik, tim sukses atau pemenangan dengan mengandalkan survei elektabilitas calon Presiden RI, yang dijadikan modal kampanye politik, meskipun tahapan Pemilu serentak 2024 belum dimulai ataupun diberlakukan.

Namun usaha bahkan upaya partai politik pengusung sudah melakukan trik maupun “political games” meyakinkan rakyat, masyarakat atau publik, bahwa calonnya akan menjadi Presiden RI pada masa akan datang.

Karena itu, secara politik berbagai kajian dan analisis akan semakin menarik, bahwasanya “The Real President” di negara yang menganut sistem demokrasi politik modern, tidaklah sesederhana pemahaman serta prediksi para tim sukses atau pemenangan.

Maka diperlukan cara berpikir rasional dan realistis bahwa, dengan indikator, pertimbangan serta pemahaman analisis tertentu.

Dalam praktik politik yang serba mungkin dengan kajian akademik dikenal “probabilty theory” akan ikut berperan memahami praktik politik yang ada saat ini di Indonesia di tengah persaingan serta ketatnya dan sengitnya para calon menawarkan serta memperkenalkan diri dalam kehidupan rakyat, masyarakat dan publik secara luas.

Dalam kehidupan sosial masyarakat modern saat ini, praktik politik yang dilaksanakan serta dijalankan adalah, politics is the art of possible, maka secara cerdas serta rasional dibayangkan bahwa, politik sebagai salah satu fenomena yang serba mungkin dan tidak ada yang mustahil, meskipun tidak diduga pada saat awalnya.

Jika merujuk kepada Partridge and Partridge (1994) adalah, di dalam politik tidak ada teman atau musuh yang abadi, bahwa yang abadi adalah kepentingan.

Hal ini juga memberikan suatu gambaran serta kondisi yang serba mungkin.

Ilustrasinya adalah, seseorang yang merupakan teman baik dalam politik saat ini, secara tiba-tiba dapat menjadi musuh berat pada masa akan datang, demikian pula sebaliknya.

Pada prinsipnya pemahaman realisme maupun pendekatan yang bertendensi melihat sesuatu permasalahan itu sebagaimana wujudnya, atau what is, dan bukan berlandaskan kepada sebagaimana sewajarnya ataupun what ought to be.

Sehingga berdasarkan atas, prinsip landasan pendekatan ini diasumsikan oleh Scruton (1982) bahwa, tujuan utama aktor politik adalah kekuasaan, sehingga ditempuh cara penggunaannya dan bagaimana menambahkannya.

Dengan demikian terhadap cara penggunaannya dan penambahannya, ini sangat tergantung kepada karakter aktor politik atau politisi dalam mempraktikkannya, sesuai dengan karakter yang dimilikinya, juga taraf kapasitas tingkat kompetensinya, sehingga sering kali tanpa memedulikan kapasitas diri serta partai politiknya berprinsip kepada kekuasaan.

Maka praktik serba mungkin mesti dilaksanakan dengan menciptakan kondisi serta upaya bahwasanya, apa pun yang diinginkan untuk kekuasaan dapat saja menafikan prinsip etika dan moral, asalkan kekuasaan politik dapat diraih dan dimiliki.

Dalam hal realitas serta rasional politik, banyak pertimbangan serta indikator keberhasilan untuk mendapatkan serta meraih kekuasaan, juga diperlukan pemikiran, akal, hati serta suasana jiwa yang cerdas untuk mendapatkan kemenangan suatu kekuasaan.

Dalam kehidupan sosiologi dan antropologi politik di tengah perkembangan kehidupan sosial kemasyarakatan, bahwasanya rasional politik dengan menghadirkan salah satu calon Presiden RI ke Aceh, ini demikian gencar disuarakan, didengungkan bahkan dipromosikan/ diiklankan dengan berbagai cara serta upaya.

Sehingga tampaknya menjadi “wah atau meriah”, dari rangkaian kegiatannya diramaikan oleh sekitar 30 ribu relawan yang hadir, tumpah ruah dan mengikutinya, bahkan mendengarkan orasi politik pada lapangan bola kaki Gampong Pango, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh.

Ini awal yang relatif baik dan lancar meskipun ada riak kecil “political games” ikut mewarnai rangkaian aktivitasnya.

Secara realitas serta rasional politik, ini jeas adanya “mutually symbiosis” kepentingan politik partai pengusung dan bakal calon Presiden RI untuk Pemilu 2024 yang akan datang.

Dalam hal ini hubungan yang diperlukan oleh kepentingan partai pengusung adalah untuk “mendongkrak” menaikkan elektabilitas dan popularitas partai di Aceh yang terpuruk dan mengkhawatirkan pada Pemilu yang lalu terhadap kekuasaan politik legislatifnya, untuk Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI hilang dan DPRA hanya satu kursi.

Dimana partai politik setelah mendeklarasikannya, dan melakukan “curi start” kampanye politik, meskipun belum masuk dalam tahapannya, persis sama yang dilakukan oleh para bakal calon Presiden RI lainnya.

Untuk daftar pemilih di Aceh, berdasarkan Daftar Pemilih tetap (DPT), sekitar 3,5 juta orang, maka untuk tahap awal 30 ribu orang tidak signifikan, juga asumsinya lumayan dengan ekspose pemberitaan selama sepekan.


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *