Kisah Abu Nawas: Modal Palu dan Pahat, Abu Nawas Atasi Masalah Anak Menteri Bikin Berisik Main Rebana

Kisah Abu Nawas: Modal Palu dan Pahat
Kisah Abu Nawas: Modal Palu dan Pahat. Foto: ilustrasi

banner 678x960

banner 678x960

Hajinews.id – CERITA lucu Abu Nawas kali ini bermula dari seorang menteri istana yang mempunyai anak suka menabuh rebana. Mungkin hal ini sekilas terlihat wajar, tapi di balik kebiasaan itu membuat orangtuanya sangat terganggu. Bagaimana tidak, baik siang maupun malam, si anak terus menabuh rebana.

Perilaku ini tentu saja membuat orangtuanya resah setiap malam. Saat menjelang istirahat, si anak masih saja menabuh rebana.

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Ia akan berhenti manakala sudah mulai mengantuk. Begitu juga saat siang hari ketika suasana terik matahari yang panas si anak menabuh rebana tanpa henti.

Dikarenakan sudah tidak tahan dengan perilakunya, sang ayah yang seorang menteri coba menasihati, tapi si anak tidak peduli. Ini membuat ayahnya emosi lalu rebana yang ada di tangan anaknya segera direbut dan dibuang.

Melihat hal itu, anaknya langsung mengamuk. Ia berteriak semalaman sampai pagi, bahkan nekat akan terjun ke sumur.

Untunglah beberapa pekerja rumah segera menghalau niat anak sang menteri. Atas kejadian ini dengan sangat terpaksa tuan menteri mengembalikan rebana kepada anaknya. Si anak pun kembali ceria dan menabuh rebananya tanpa henti. Suatu ketika salah satu pekerja menghadap tuan menteri.

“Ampun tuan menteri, sepertinya anak tuan diganggu makhluk halus, sebab perilaku dan kebiasaannya tidak wajar. Kenapa tuan tidak minta bantuan orang pintar?” kata si pelayan menyarankan, seperti dikutip dari kanal YouTube Humor Sufi Official, Ahad (22/1/2023).

Atas saran si pelayan maka dipanggillah seorang tabib untuk menyembuhkan kebiasaan aneh anak tersebut. Sang tabib menasihati kepada si anak bahwa jika terus menabuh rebana akan melubangi gendang telinganya. Namanya saja anak kecil, dia tidak menghiraukan nasihat tersebut.

Dikarenakan usahanya tidak membuahkan hasil, esok harinya dipanggillah tabib kedua. Tapi tabib kedua mengatakan bahwa menabuh rebana adalah kegiatan suci dan harus dilakukan hanya pada acara-acara khusus. Usaha ini juga menemui kegagalan.

Maka dipanggillah tabib ketiga. “Hamba perhatikan anak tuan memang susah dikendalikan, lebih baik kalian mengalah saja sebagai orangtua,” kata tabib ketiga.

“Mengalah bagaimana maksudnya?” tanya tuan menteri.

“Biarkan anak tuan menabuh rebana sesuka hati. Agar tuan sekeluarga tidak terganggu, tutup telinga dengan kapas,” saran tabib ketiga.

Namun saran tersebut ditolak mentah-mentah oleh keluarga tuan menteri. Hari berikutnya tuan menteri memanggil tabib keempat. Sang tabib membawakan buku berisi cerita dongeng anak. Ia pun mendekati anak tuan menteri dan membacakan cerita yang ada di dalam buku tersebut.

Awalnya si anak tertarik, tapi akhirnya memilih kembali menabuh rebana. Usaha tabib keempat pun dianggap gagal.


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *