Waduh! Kepala BIN Mendadak Bahas Rupiah, Ada Apa?

Waduh! Kepala BIN Mendadak Bahas Rupiah (Foto istimewa)

banner 678x960

banner 678x960

Hajinews.id — Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Polisi (Purn) Budi Gunawan memaparkan terkait analisa situasi perekonomian di tahun 2023. Dimana ia menyinggung soal adanya ancaman ekonomi dari kacamata intelijen.

Budi mengingatkan bahwa ketidakpastian akan mengancam dunia dan Indonesia pada 2023. Berdasarkan foresight intelijen, analisis big data BIN, dan counterpart intelijen dunia, Budi menggambarkan ada beberapa potensi ancaman dan tantangan global pada tahun 2023 yang perlu menjadi perhatian semua pihak.

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Foresight (tinjauan ke masa depan) dari intelijen dunia itu menggambarkan bahwa tahun 2023 sebagai tahun yang gelap dan penuh dengan ketidakpastian. Istilah intelijen disebut dengan winter is coming,” ujarnya, dalam Rapat Koordinasi Nasional Kepala Daerah dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah se-Indonesia di Sentul City, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, dikutip Rabu (18/1/2023).

Dari sejumlah ancaman, dia menyoroti perihal pelemahan nilai tukar rupiah kita terhadap dolar AS. Hal ini akibat tingginya inflasi global sehingga menyebabkan tingginya beban impor yang berdampak pada industri nasional, meningkatnya pengangguran serta menurunnya daya beli masyarakat.

Adapun, rupiah cenderung menguat tajam pada pekan ini. Selama 4 hari beruntun rupiah menorehkan kinerja ciamik. Pada awal pekan kemarin, rupiah bahkan sempat menyentuh Rp 14.975/US$.

Sentimen yang membuatnya naik tak lain adalah rencana Presiden Joko Widodo (Jokowi) merevisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2019 tentang Devisa Hasil Ekspor (DHE).

Selain itu, penguatan dipengaruhi oleh asing yang kembali masuk. Dari catatan Kemenkeu, minat investor asing untuk membeli Surat Utang Negara (SUN) melalui lelang terus melonjak. Jumlah utang yang diambil dari investor asing bahkan menembus Rp 10,74 triliun atau tertinggi dalam 3,5 tahun lebih.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Edi Susianto bahwa penguatan rupiah dipengaruhi oleh faktor pelemahan indeks dolar AS dan NDF beberapa mata uang Asia yang mengalami penurunan.

“Kondisi risk on tersebut mendorong inflow asing di pasar SBN ke negara2 Asia, utamanya Indonesia mengalami peningkatan yg lumayan besar, di tengah masih adanya sedikit net outflow asing di pasar saham,” kata Edi kepada CNBC Indonesia, Rabu (18/1/2023).

Di global, lanjutnya, ekspektasi data inflasi US yang menurun. Kemudian, perkiraan pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang meningkat sebagai dampak dari reopening policy terkait Covid-19.

“Sementara di sisi lain persepsi investor terhadap kondisi fundamental Indonesia yang masih positif. Hal tersebut yang mendorong rupiah mengalami penguatan,” sambungnya.

Namun, dia menuturkan BI masih mencermati perkembangan global khususnya terkait perkembangan data di AS. “Saya melihat January effect sepertinya sedang terjadi, meskipun hari kemarin tampaknya ada koreksi,” katanya.


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *