Cak Nun Mengajarkan Bahwa Hidup itu Harus Pintar Ngegas dan Ngerem

Bangsa Ini Mendadak "Kesambet"
Cak Nun

banner 678x960

banner 678x960

Hajinews.idCak Nun mengajarkan bahwa hidup itu harus pintar ngegas dan ngerem.

Apa yang diajarkan Cak Nun, ia tulis dalam buku “Hidup Itu Harus Pintar Ngegas & Ngerem.

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Apa yang diajarkan Cak Nun berkaitan dengan bagaimana seharusnya kita bersikap dalam kehidupan sehari-hari; bijak

Dalam buku setebal 244 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Noura itu, Cak Nun berbagi banyak wejangan kebijaksanaan.

Dengan bijak, keadilan dan belas kasihan dapat hidup berdampingan untuk membentuk kepribadian yang baik melalui perlakuan yang baik.

Oleh karena itu, sikap bijak dalam berbagai hal harus diutamakan.

Pengutamaan sikap bijak pun termasuk juga dalam penggunaan internet, terlebih ketika kita berselancar di dunia maya dengan media sosial.

Di internet, kebebasan kita seolah “tanpa batas”. Jika tidak mengedepankan sikap bijak, maka kita hanya akan menebar kebencian jika tidak turut membenci atau mendapatkan benci.

Cak Nun dalam buku tersebut mengatakan, “Internet itu bagus untuk membantu kita dalam berkomunikasi, tetapi sangat buruk untuk membangun mental manusia.”

“Di sisi lain,” lanjut Cak Nun, “tujuan agama hanya satu; mendidik manusia agar mampu mengendalikan diri.”

Cak Nun menambahkan, “Beribadah itu bisa mengendalikan diri. Sementara itu, internet memberikan peluang kepada kita untuk melampiaskan diri. Di internet, kita bisa berbicara apa saja, bohong atau tidak bohong, semua bisa.”

Di internet banyak dari kita malah saling bertengkar hanya karena berbeda. Hal itu justru sangat menunjukkan dengan terang dan jelas betapa kita masih tidak bijak, baik dalam beragama maupun dalam berinternet.

Lantas, jika kita mengaku sebagai kaum beragama, agama apa yang kita anut, yang ajaran-ajarannya kita amalkan?

Padahal, tidak satu pun agama mendoktrinkan kebencian dalam kacamata sosial.

Dalam buku tersebut, Cak Nun menyampaikan, “Kita sebagai manusia pun harus belajar dari sikap bijak Nabi Muhammad saw. karena beliau diutus sebagai manifestasi rahmatan lil’alamin (rahmat bagi semesta alam).”

“Kita adalah khalifah fi al’ardl yang harus bisa menjaga rahmatan lil’alamin,” tandasnya.

Cak Nun melanjutkan, “Kita bisa menembus dimensi-dimensi karena berkewajiban untuk rahmatan lil’alamin.”

“Jadi,” tambahnya, “hendaklah kita tidak sedikit-sedikit bertengkar hanya karena perbedaan cara pandang.

Bijak itu mampu menempatkan diri, tidak melampiaskan diri pada sesuatu yang bukan tempatnya.

Oleh karena itu, bijak bisa disebut sebagai nilai moral tertinggi dalam kehidupan.***


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *