Muslim Dan Kewajiban Melaksanakan Ibadah Haji

Melaksanakan Ibadah Haji
Melaksanakan Ibadah Haji

banner 678x960

banner 678x960

Oleh Hasanuddin (Ketua Umum PBHMI 2003-2005), Redaktur Pelaksana Hajinews.id

Hajinews.id – Perbincangan perihal penyelenggaraan Ibadah Haji, kembali memperoleh perhatian setelah pihak pemerintah yang diwakili Menteri Agama mengusulkan kenaikan signifikan biaya pelaksanaan ibadah haji. Usulan Menag itu didasarkan pada besarnya subsidi yang ditanggung pemerintah dalam pelaksanaan ibadah haji, sehingga Menag mengusulkan agar subsidi ditiadakan. Dalil yang digunakan adalah surah Ali Imran ayat 97, bahwa “Allah mewajibkan berhaji bagi yang mampu. Frase “yang mampu inilah yang dijadikan dasar argumen bahwa negara atau pemerintah tidak perlu memberikan subsidi. Lalu dibuatlah perhitungan besaran biaya Haji tanpa subsidi itu, sehingga menemukan angka kisaran Rp. 63 juta sekian.

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Bagaimana sesungguhnya maksud “bagi yang mampu” sebagaimana yang ditemukan pada surah ali imran ayat 97 itu.

Prof Qurays Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, ketika menjelaskan makna ayat 85 surah Ali Imran ini mengatakan: “Inilah hakikat yang diperingatkan kepada semua pihak yang enggan patuh seperti kepatuhan yang dijelaskan ayat di atas”. Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, yakni ketaatan kepada Allah mencakup ketaatan kepada syariat yang ditetapkan-Nya, yang intinya adalah keimanan akan keesaan-Nya, mempercayai para rasul, mengikuti dan mendukung mereka, tunduk serta patuh pula akan ketentuan-ketentuan-Nya yang berkaitan dengan alam raya, yang intinya adalah penyerasian diri dengan seluruh makhluk dalam sistem yang ditetapkan-Nya, maka sekali-sekali tidaklah akan diterima agama itu darinya, dalam kehidupan dunia ini dan kelak di akhirat termasuk orang-orang yang merugi, karena semua amalnya tidak diterima Allah swt, walaupun amal-amal itu baik dan bermanfaat untuk manusia.

Sehubungan dengan ini Allah swt berfirman: “Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan” (QS. Al-Furqan (25): 23).

Sementara itu terkait dengan kewajiban melaksanakan ibadah haji yang disampaikan dengan redaksi wa li llahi alan nas yang mewajibkan seluruh manusia, dengan demikian bermakna semua manusia dipanggil Allah berhaji ke Baitullah. Namun segera setelah itu Allah memberikan pengecualian dengan manisthata’a ilaihi sabila (bagi yang mampu melaksanakan perjalanan ke sana). Ini berarti yang tidak sanggup, Allah memaafkan. Tuhan memaklumi keadaan mereka.

Ayat selengkapnya adalah sebagai berikut:

فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًاۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًاۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ

fīhi āyātum bayyinātum maqāmu ibrāhīm, wa man dakhalahū kāna āminā, wa lillāhi ‘alan-nāsi ḥijjul-baiti manistaṭā‘a ilaihi sabīlā, wa man kafara fa innallāha ganiyyun ‘anil-‘ālamīn

Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam. Q.S Ali ‘Imran [3] : 97

Asbabun Nuzul ayat ini diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur yang bersumber dari Ikrimah bahwa ketika turun ayat 85 surah Ali Imran berkatalah orang Yahudi: “Sebenarnya kami ini Muslim“. Maka Nabi SAW bersabda: “Allah telah mewajibkan atas kaum Muslimin naik haji ke Baitullah”. Mereka (orang Yahudi) berkata: “Ibadah haji tidak diwajibkan bagi kami”. Mereka menolak melaksanakan ibadah haji. Maka turunlah ayat ini yang menegaskan kewajiban haji bagi seorang muslim, sedang yang menolak melaksanakannya adalah kafir.


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *