Mengingat Ferry

Mengingat Ferry
Ferry Mursyidan Baldan

banner 678x960

banner 678x960

Oleh: Sayid M. Iqbal

Hajinews.id – Saya sebaya Sayid M. Iqbal Ferry Mursyidan Baldan. Ia lahir 5 hari lebih awal dari saya, 16 Juni 1961. Nama Ferry diambil dari nama Ferry Sonneville, kapten Tim Indonesia, yang memastikan kemenangan Tim Thomas Cup Indonesia di bulan Juni 1961.

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Pak Haji Baldan (T. Baldan Nyak Oepin Arif) dan Ibunda Syarifah Fatimah Al Idrus adalah perantau dari Aceh Selatan. Orang Aceh berbahasa Jamee yang banyak kosa katanya berasal dari bahasa Minang. Tapi biasanya mereka tetap lancar berbahasa Aceh yang umum. Mereka menetap di Slipi seperti juga banyak keluarga asal Aceh. Keluarga perantau asal Aceh, cukup kompak.

Secara rutin ada pengajian yang digilir dari rumah ke rumah. Dan pengajian dilakukan dengan membaca kitab Dalail Khairat bersama-sama bernada dan berirama khas Aceh. Buat anak-anak, yang ditunggu adalah acara makan dengan kue-kue khas Aceh.

Sekalipun punya tradisi yang sepertinya NU itu, hampir seluruh orang Aceh adalah motor dan pengurus masjid Al Muhajirin yang Muhammadiyah di Slipi.

Pak Haji Baldan adalah karyawan PTT kemudian menjadi PT Telkom. Dan sejak dulu sudah memiliki telepon (yang station) pada waktu itu masih sangat jarang yang memiliki telepon.

Rumahnya adalah rumah tempat Ferry lahir, dan dibesarkan. Ferry pindah karena kuliah di Bandung sebelum kembali ke rumah tersebut sekitar tahun 1998 sampai ia meninggal dunia.

Lingkungan rumah di Anggrek Cendrawasih itu, sangat akrab dalam bertetangga, untuk ukuran kehidupan kota Jakarta. Tetangga kiri kanan sdh seperti keluarga. Sesuatu yg telah dimulai oleh Pak H. Baldan dan dilanjutkan oleh Ferry dan adik-adiknya serta keluarga besarnya.

Pak Haji Baldan yang juga pengurus Al Muhajirin, masjid Muhammadiyah itu, berinisiatif mendirikan masjid Al Abraar di dekat rumah. Mesjid Al Muhajirin yang berada di depan lapangan sepak bola Romsol Slipi, memang lumayan jauh. Sekitar 3 kilometer dari rumah Ferry.

Sejak kecil Ferry sudah kelihatan sebagai pribadi yang tenang dan santun. Tidak pernah berkonflik, dengan wajah khas yang banyak senyum. Baju seragam dikancing sampai kerah.

Ferry jadi teman favorit. Disukai terutama oleh teman-teman putri. Kalau pun ada yang mengajak berantem gara-gara main bola, biasanya Zul atau Zulkautsar Baldan, adiknya mengambil alih urusan itu.

Di SD Slipi, Ferry Juara lomba shalat dan juara kedua lomba mengaji. Sebaliknya sy juara kedua lomba shalat dan juara lomba mengaji.

Saat saya diutus mengikuti lomba mengaji ke SD Petamburan, Ferry berinisiatif mengumpulkan kawan-kawan di lingkungannya untuk menjadi supporter. Kami beramai-ramai berjalan kaki dari Slipi ke Petamburan. Walau tidak juara, tapi kami jadi kontingen yang paling ramai dan kompak.

Sekali sekali kami menonton bola di Stadion Utama Senayan (GBK) seperti pertandingan Pre Olimpic Indonesia melawan Korea Utara. Pernah juga sast kejuaraan Soeharto Cup, ketika Persiraja Banda Aceh menenggelamkan Persipura Jayapura di Final.

Biasanya pulang berjalan kaki dari Senayan ke Slipi. Lumayan. Bis Gamadi jurusan Grogol sudah luar biasa penuh dengan penumpang bergelayut di pinggir pintu. Di ujung jalan Anggrek Cendrawasih, sudah ada es kelapa muda yang nikmat sekali. Penjualnya orang Batak yang juga berbisnis tambal ban.

Zaman itu kalau ke Stadion Utama Senayan banyak pedagang untuk jajan, yang tidak ada di tempat lainnya. Seperti gorengan tahu pong dan ubi pong. Tahu dan ubi yang digoreng sampai melendung dan kosong di tengahnya.


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *