Operasi Senyap

Operasi Senyap
Rosdiansyah, Peneliti pada JPIP Network

banner 678x960

banner 678x960

Oleh : Rosdiansyah, Peneliti pada JPIP Network

Hajinews.id – SAAT ini, Anies Baswedan dan Partai Nasdem menjadi target operasi senyap. Tak perlu disanggah, tak perlu pula disangkal. Itu sudah jelas tegas lugas bernas. Baik Anies maupun Partai Nasdem sudah dianggap ”the enemy of the state”. Ruang geraknya dibatasi. Suasana itu terasa sekali di tingkat nasional sampai lokal. Oknum-oknum pejabat yang sedang berkuasa menjadi pelaksana secara langsung maupun tak langsung operasi senyap ini.

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Ibarat bau kentut, operasi ini bisa dirasakan namun sulit dibuktikan keterlibatan oknum-oknum kaki-tangan rezim. Bau busuk operasi ini bisa tercium kok. Contohnya, mendadak muncul spanduk-spanduk anti-Anies dimana-mana. Di beberapa kota di Jawa Timur, spanduk-spanduk anti-Anies atau menolak Anies bertebaran, meski kemudian diturunkan oleh petugas di lapangan.

Tujuan utama pemasangan spanduk anti-Anies adalah mempengaruhi publik agar mewaspadai Anies. Mengarahkan publik supaya mencurigai Anies. Spanduk itu berisi tulisan sarat kebencian kepada Anies serta menunjukkan upaya memecah-belah masyarakat. Berusaha mengadu-domba komponen masyarakat. Tak ada nama spesifik siapa pemrakarsa spanduk tersebut. Benar-benar gelap. Hanya diberi lambang burung Garuda, lambang negara.

Demi tujuan sesat, pemrakarsa spanduk telah rela mengorbankan lambang negara. Ia menghalalkan segala cara demi tujuannya memojokkan anak bangsa. Perilaku pemrakarsa spanduk pecah-belah telah menodai kesucian lambang negara. Demi memprovokasi massa, pemrakarsa spanduk gelap telah memporak-porandakan cita-cita Pancasila. Merobek Sila ke-3 Pancasila, Persatuan Indonesia.

Operasi Senyap

Pemrakarsa spanduk tidak sedang melakukan kampanye negatif (negative campaign), sebab ia tak punya bukti kelemahan atau kekurangan sosok atau lembaga yang diserangnya. Maka, yang bisa dilakukan hanyalah kampanye hitam (black campaign). Lebih spesifik lagi, disebut propaganda kampanye hitam. Di luar dari masa kampanye Pemilu, biasa juga disebut propaganda hitam (black propaganda).

Caranya, menghembuskan SARA. Mengobok-obok rasa kebangsaan warga. Menciptakan upaya pembelahan. Nusantara versus politik identitas. Indonesia versus bukan Indonesia. Agama asli versus agama pendatang. Islam sini versus Islam sana/pendatang. Itu contoh pembelahan.

Kampanye hitam dalam kajian intelijen dan kontra-intelijen disebut propaganda dan Perang Urat Saraf (PUS). Mahaguru kajian intelijen Universitas John Hopkins, AS, Paul Myron Anthony Linebarger, mendefinisikan PUS sebagai upaya penggalangan di lapangan tanpa melibatkan kekuatan militer. Berkalimat persuasif sekaligus agitatif. Dalam bukunya ”Psychological Warfare” yang terbit tahun 1948, Linebarger propaganda menjadi langkah penting dalam PUS. Untuk mempengaruhi publik. Menciptakan musuh ke dalam benak publik.


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *