Gempa Cianjur, Syahwat dan Anomali Politik

Syahwat dan Anomali Politik
Mulawarman, Jurnalis, Alumnus FEB Unhas. Foto: ist

banner 678x960

banner 678x960

Oleh: Mulawarman, Jurnalis, Alumnus FEB Unhas

Hajinews.id Mengapa sebagian orang jengah akhir-akhir ini dengan politik di tanah air. Dengan perilaku elite yang terang-terangan memamerkan kasak kusuknha menjelang Pemilu 2024, dari mobilisasi relawan, koalisi partai, hingga para pengusul tiga periode.

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Media kerap memberitakan perilaku para petinggi politik itu. Dari pagi sampai sore, hingga seakan tidak ada berita lain yang dapat disampaikan ke publik. Seakan menjadi berita penting untuk diketahui rakyat. Dan seakan tidak ada berita lain yang dapat disampaikan ke publik.

Pertanyaannya, apakah harus begitu memaknai politik itu? Tidakkah ada hal yang harus dilakukan seorang politisi dalam kerja politiknya? Seberapa penting manuver politik dilakukan sekarang untuk Pemilu 2024?. Apakah tugas utama sebagai pemimpin negara audah dilakukan secara baik, sehingga merasa perlu melakukan tugas yang lain? Apakah dengan tidak bermanuver seorang politisi jadi tertinggal? Apakah manfaat informasi tersebut diketahui oleh rakyat? Bisakah media untuk tidak memberitakannya?

Mengembalikan Makna Politik

Apa itu politik? Ini pertanyaan dasar, namun seringkali politisi dan elite politik abai. Yaitu kebijakan atau kebijaksanaan. Pengertian ini menjadi nilai dasar politik. Artinya politik yang benar adalah yang menjunjung nilai-nilai kebijaksanaan. Di luar itu belum bisa dikatakan politik.

Artinya konsep politik, adalah tindakan atau perilaku yang bertujuan untuk merebut kekuasaan guna memerintah dengan secara bijaksana dan arif. Persaingan atau kompetisi dilakukan secara adil di mana satu partai dengan partai lain punya kewenangan yang sama.

Dengan melihat konsep dasar ini, maka dengan mudah kita menyebut bahwa tindakan elite politik penguasa yang dengan kepentingannya melakukan tindakan politik tidak sesuai nilai kebijaksanaan. Apalagi dengan cara menghalalkan segala cara, dipastikan dia sudah melenceng dari nilai nilai-nilai keadaban berpolitik.

Mengapa seseorang cenderung melakukan tindakan politik yang tidak sesuai nilainya? Jawabannya adalah syahwat dan keserakahan dalam politik. Ada keinginan yang berlebihan untuk menguasai jabatan, harga dan kedudukan, sehingga membuat mereka lupa diri dengan nilai politik, bahkan dengan dimensi kemanusiaannya untuk mau berempati dan peduli kepada sesama.

Homo Homininlupu

Manusia adalah serigala bagi manusia yang lain. Memangsa atas yang lain, karena keinginan untuk menguasai atau memiliki yang lain. Tak peduli dengan orang lain. Semuanya ingin dimilikinya dan dikuasainya.

Persis seperti seorang pejabat yang melakukan tindakan korupsi, meski dirinya sudah berkecukupan. Harta boleh jadi dia berlimpah, namun dirasanya seperti tidak pernah merasa puas dan cukup. Jadilah terjerumus pada tindakan korupsi.

Di sisi yang lain, pihak pihak yang diberi tanggung jawab untuk melakukan pengawasan juga tidak efektif bekerja. Lembaga penegak hukum, dari polisi, jaksa hingga KPK cenderung tidak mampu menjangkau kejahatan korupsi tersebut. Alih-alih mengawasi bahkan tidak ada jarak lembaga penegak hukum sendiri ikut dalam pelanggaran hukum. Laksana lingkaran setan.

Kerja Belum Selesai

Apa yang dipertontonkan oleh para laku elite seringkali menggambarkan tidak sensitifnya perasaan terhadap masalah publik. Betapa tidak, masalah demi masalah yang dihadapi oleh masyarakat seringnya tidak tuntas untuk dikerjakan oleh para pemimpin di negeri ini, mengingat kesibukannya dengan mengurus politik pencitraan.


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *