Survei Indikator: 58,8 Persen Responden Berasumsi Ada Persaingan Tak Sehat di Polri

Foto: Ari Saputra (detik)

banner 678x960

banner 678x960

Hajinews.id — Lembaga survei Indikator Politik Indonesia merilis survei terkait pandangan masyarakat atas kinerja lembaga penegak hukum, termasuk Polri, terkait kasus-kasus besar. Salah satunya, survei menyinggung terkait penangkapan kasus narkoba Irjen Teddy Minahasa.

Survei dilakukan pada 30 Oktober sampai 5 November 2022 dengan melibatkan 1220 responden dari seluruh provinsi Indonesia. Metode survei menggunakan multistage random sampling. Margin of error survei +/- 2,9% dengan tingkat kepercayaan 95%.

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi membeberkan hasil survei terkait kasus kasus narkoba Irjen Teddy Minahasa. Dia menyebut 39% responden ternyata tahu dengan kasus tersebut.

“Soal penangkapan Irjen Teddy Minahasa, ini kasus yang belum lama, saya sebagai pelaku atau periset opini publik terus terang cukup kaget ya. Yang mengetahui kasus ini besar sekali 39%, jadi ini beda dengan isu-isi elite yang umum diketahui kecil,” kata Burhanuddin Muhtadi dalam konferensi via Zoom, Ahad (27/11/2022).

Burhanuddin menyebut ada 39% persen responden yang mengetahui pemberitaan terkait Irjen Teddy Minahasa. Dari mereka yang mengetahui, sebanyak 64,7% berpendapat jika Kapolri tak pandang bulu menindak bawahannya.

“Kalau ditanyakan dua pendapat, mengatakan bahwa terbongkarnya kasus Irjen Teddy Minahasa menunjukkan Kapolri tidak pandang bulu dalam menindak tegas anggota polisi yang melanggar,” katanya.

Sementara, 26,9% menyebut jika penangkapan Irjen Teddy menunjukkan Kapolri salah langkah dalam menentukan jabatan seseorang.

“26,9% mengatakan penangkapan Irjen Teddy Minahasa Putra menunjukkan bahwa Kapolri tidak becus dalam menentukan figur untuk Kapolda Jawa Timur,” ungkapnya.

Sementara sebanyak 8,4% memilih untuk tidak menjawab. Menurut Burhanuddin, dari responden yang tahu berita soal kasus Irjen Teddy Minahasa, sebagian berasumsi jika ada persaingan tak sehat di kubu Polri.

“64,7% mayoritas dari yang tahu juga setuju bahwa terbongkarnya kasus ini menunjukkan adanya persaingan antarkelompok dalam tubuh Polri yang tidak sehat, 58,8 %,” tandasnya.

Sumber: detikcom


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *