Anwar Ibrahim, Islam, dan Jalan Tengah

Anwar Ibrahim
Anwar Ibrahim

banner 678x960

banner 678x960

Oleh: Anwar Ibrahim

Hajinews.id – Di puncak karir politiknya pada masa lalu, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim yang baru terpilih tergolong pemikir Islam yang rajin menulis. Pemikiran-pemikirannya terkait erat dengan kebangkitan kaum intelektualitas Islam di Tanah Air pada 1990-an. Berikut salah satu paparannya yang ia kirimkan untuk Harian Republika edisi 27 September 1996.

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Muslim Melayu dan Prinsip Jalan Tengah

Dalam perjalanannya dari Cina ke Levant pada tahun 1292, Marco Polo sempat tinggal selama lima bulan di Perlak, timur laut Sumatera. Di sana ia mengamati bagaimana ”orang-orang Perlak yang sebelumnya penyembah berhala, setelah melakukan kontak dengan pedagang Sarasin yang sering berlabuh di sini, berganti keyakinan ke agama Muhammad. Hal ini hanya terjadi pada masyarakat kota, sementara penduduk gunung masih hidup seperti binatang.”

Catatan awal tentang komunitas Islam di kepulauan Malaya ini memberi nuansa khas pada wilayah tersebut. Islam menyebar ke Asia Tenggara lebih banyak dibawa oleh pedagang melalui laut ketimbang melalui pasukan dengan pedang di tangan.

Penduduk menjadi Islam karena pilihannya sendiri, tanpa paksaan, dan diawali oleh kelompok yang berpengaruh di kota dan kaum pedagang. Islamisasi secara damai dan perlahan ini membentuk ciri Muslim Asia Tenggara yang kosmopolit, berwawasan luas, toleran, dan dapat menerima perbedaan budaya. Tentu saja, pandangan mereka juga dipengaruhi oleh keberadaan orang non-muslim yang membalas sikap toleran orang Islam. Tidak seperti non-muslim di barat, persepsi mereka atas Islam tidak dipengaruhi oleh trauma Perang Salib.

Hampir tanpa kecuali, bangsa Muslim pernah dijajah. Banyak yang belum pulih dari trauma tersebut. Ini tercermin dari sikap ekstrim terhadap barat. Ada sejumlah orang yang menyalahkan Barat atas kegagalan yang mereka alami.

Pada sisi ekstrim lain adalah kelompok elit yang terkagum-kagum dan silau atas kebudayaan Barat. Ketika Muslim Asia Tenggara tidak semuanya tahan, mereka tidak membiarkan ketegangan-ketegangan internal tersebut melumpuhkan kesatuan bangsa atau meracuni hubungan mereka dengan dunia luar.

Alih-alih menghibur diri dari kepahitan penjajahan, mereka memilih jalan kebaikan yang secara esensial mencerminkan karakter Melayu. Pahlawan Filipina Jose Rizal telah memberi gambaran karakter bangsa Asia Tenggara. ”Bangsa Filipina” tulisnya, ”hanya mengingat kebaikan yang didapat; mudah melupakan kebencian, dan jika mereka hanya memiliki senyum dan air mata untuk orang yang telah memperlakukan mereka dengan kasar kasar pada saat kematian orang itu, maka apa yang mereka punyai untuk orang yang telah berlaku baik ketika ia mendapat musibah?”

Prinsip awsatuha — jalan tengah — yang berkaitan dengan ajaran Kong Hu Cu, Chun Yung, memperkuat unsur-unsur moderat melayu dan membentuk pemahaman dan praktek Islam mereka. Moderasi ini mengarah pada pendekatan pragmatis dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik.

Benar bahwa Muslim Asia Tenggara bukannya tidak bermasalah. Tetapi yang membedakan mereka dari muslim di belahan dunia lain adalah kepekaannya akan prioritas.

Persoalan penerapan hukum Islam atau pembentukan negara Islam adalah masalah pinggiran. Muslim Asia Tenggara lebih suka berkonsentrasi pada tugas untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menghapuskan kemiskinan ketimbang memotong tangan pencuri. Mereka lebih suka meningkatkan kesejahteraan wanita dan anak-anak di antara mereka ketimbang menghabiskan waktu mendefinisikan negara Islam yang ideal.


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *