Kisah Nyata Aksi `Nabok Nyilih Tangan` dari Para Tokoh Nasional

Nabok Nyilih Tangan
Nabok Nyilih Tangan. Foto: ilustrasi

banner 678x960

banner 678x960

Hajinews.id – Berbicara tentang kekuasaan memang selalu menarik. Sebab, seseorang yang berkuasa bisa melakukan apa saja, termasuk “memukul” orang lain atau lawan politik yang tidak disukainya.

Sebenarnya ada berbagai teknik dalam cerita untuk memukul wajah orang lain, yaitu dengan “tangan sendiri” atau bisa juga menggunakan “tangan lain”.

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Tokoh nasional yang juga aktivis gerakan Rizal Ramli ini menyebut teknik menggunakan tangan orang lain itu disebut dengan “Nabok nyilih tangan”.

Nabok nyilih tangan adalah teknik meminjam tangan orang lain untuk gebukin musuh,” ujarnya dalam akun media sosialnya, pada Minggu (20/11).

Para tokoh tersebut, katanya, berpura-pura tidak bereaksi. Namun mereka menusuk dari belakang.

“Pura-pura bijak tidak bereaksi, tapi kerahkan InfluenceRp dan BuzzeRp berbayar (pakai anggaran atau bandar) untuk gebukin tokoh-tokoh yang berbeda pendapat. Walaupun signal sempat keceplos ‘Tak Gebuk, Tak Gebuk’,” ujar ekonom senior tersebut.

Nabok nyilih tangan ini juga diungkapkan oleh politikus senior, Panda Nababan dalam sebuah acara di kanal YouTube Karni Ilyas, yang tayang beberapa waktu lalu. Wartawan senior tersebut membeberkan “true story” para tokoh nasional dalam pentas perpolitikan nasional.

Salah satu hal yang menarik disimak yaitu bagaimana kemampuan para tokoh tersebut untuk “membalas lawan politiknya”, mulai dari cara yang halus hingga cara yang “kasar”.

“Dalam track record hidup mereka (para tokoh tersebut, red.) punya bakat untuk membalas, dan itu ngeri,” ujar politisi senior itu memulai pembicaraan.

Bang Panda – sapaan Panda Nababan – memulai contoh dari tokoh Surya Paloh. Panda mengatakan bahwa dirinya telah puluhan tahun bersama Surya Paloh.

“Pada tahun 1998 ketika Panglima Safrie mau memeriksa dirinya (Surya Paloh, Red.) dia ingat seumur hidupnya. Pembalasannya yaitu tidak ada berita terkait Safrie di Media Indonesia maupun Metrotv. Dan ini adalah ‘true story’,” ujarnya.

Demikian juga sikap Surya Paloh kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang memerintahkan Jaksa Agung untuk memeriksa pemilik Media Group tersebut. Namun, setelah muncul reaksi dari Surya Paloh, akhirnya SBY menugaskan Sudi Silalahi untuk memanggil Jampdsus untuk menghentikan rencana tersebut.

Lain lagi dengan Presiden Jokowi. Menurut Panda, ada kesamaan sikap Jokowi dalam “membalas para lawan politiknya”.

Panda mengatakan, dalam acara ulang tahun (HUT) TNI ke-72 di Cilegon, Banten, Presiden Jokowi juga mengikuti acara tersebut. Sayangnya, Presiden Jokowi tiba di lokasi setelah acara selesai. “Presiden Jokowi tidak bisa mengikuti acara HUT TNI tahun 2017 tersebut. Pak Jokowi harus jalan kaki, kemudian harus naik ojek, dan jalan kaki lagi menuju tempat acara. Demikian pula istrinya, harus jalan kaki, naik ojek dan jalan kaki hingga tiba di tempat acara. Dan mereka tidak setelah acara selesai,” ujarnya.

Panglima TNI (waktu itu, red) Gatot Nurmantyo yang menyambut Presiden Jokowi bersama Tito Karnavian, mengatakan “Pak Presiden, rakyat sangat mencintai TNI, buktinya mereka membludak dalam perayaan ini hingga memenuhi jalan,” ujar Panda menirukan pernyataan Gatot Nurmantyo.

Diam-diam kemudian, Presiden Jokowi menugaskan Pratikno untuk menelepon Kapolda Banten, yang masih dijabat oleh Listyo Sigit Prabowo untuk menanyakan peristiwa tersebut. Dan, Listyo menjawab “Mohon maaf Pak, kami tidak dilibatkan,” ujaranya.

Kemudian, ditelepon juga Kakorlantas, dan juga mendapatkan jawaban yang sama bahwa pihaknya tidak dilibatkan.

Tibalah saatnya pembalasan Presiden Jokowi. Satu bulan kemudian, di acara pernikahan puteri presiden, Kahiyang Ayu. Di samping Panda, duduk ekonom senior Rizal Ramli.

Bang RR – sapaan Rizal Ramli – mengatakan pada Panda, “Bang sudah tahu raja Soeharto merupakan Raja Jawa yang paling sadis. Namun, yang satu ini lebih sadis lagi”.

Kemudian saya bilang, “Kau ngomong apa lagi Rizal”.

“Coba abang lihat, di mana Pak Gatot Nurmantyo, Panglima TNI,” tanya Rizal Ramli.

Ternyata, Panglima TNI itu duduk di antara para undangan dengan para anggota DPR, dan Staf Kedutaan. Sementara para koleganya seperti Tito Karnavian, Ryamizard Ryacudu, Luhut B Pandjaitan, dan Pratikno mengenakan pita mawar merah karena mereka panitia.

Tiba giliran mau salaman, karpet meraha tidak bisa dilewati oleh Gatot Nurmantyo. Dia akhirnya berbaur bersama para undangan untuk memberi salam kepada anak presiden.

Giliran waktu pulang, mobil Gatot tidak bisa masuk, karena itu dia akhirnya naik bus. Istri Gatot juga duduk di kursi plastik. Saya kemudian pada Pak Airlangga Hartarto, “Pak itu istrinya panglima duduk di kursi plastik, lho”.

Lima bulan kemudian, Gatot Nurmantyo dicopot dari jabatan sebagai Panglima TNI. Dan jagonya Jokowi, dia memasang Pak Moeldoko (Kepala Staf Kepresidenan) dan diberi peran pada acara pernikahan tersebut.

“Itu adalah true style dari pada Jokowi,” kata Panda.

Cerita tentang Andong

Belum lagi cerita tentang Prabowo Subianto pada tahun 2014. Waktu itu, Prabowo adalah Calon Presiden, yang adalah pesaing Jokowi.

“Dalam sebuah acara makan di sebuah restoran di Hotel Grand Hyatt yang dihadiri oleh Prabowo, Luhut, Hasyim, Hotma Pandjaitan, Prabowo ngomong ke Luhut, dia bialng, Bang kenapa abang bantu tukang Andong itu. Tidak mungkin dia menang. Bagaimana bisa jadi presiden tukang andong. Waktu itu memang pemenang Pilpres belum diumumkan. Luhut bilang, ‘sembarang saja kau. Dia lebih jago dari kau’”.

Berselang lama kemudian – setelah Presiden Jokowi dilantik – Panda Nababan bertanya, kepada Jokwi. “Mas sudah dengar cerita Prabowo dengan Bang Luhut?”. Jokowi bilang, “oh sudah. Andongnya sudah saya suruh kirim”, jawab Jokowi.


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *