Tragedi Kanjuruhan: Waduh! Polisi Gunakan Buzzer Lewat Chat WhatsApp, Ada Upaya Cuci Tangan Soal Gas Air Mata?

banner 800x800 banner 678x960

Hajinews.id – Tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur meninggalkan luka yang begitu dalam bagi dunia persepakbolaan Indonesia.

Setidaknya 448 orang menjadi korban dalam tragedi Kanjuruhan, di mana 125 orang dinyatakan tewas dan 302 orang luka ringan. Sementara, sisanya 21 orang luka berat.

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Meski demikian, data ini belum dapat dipastikan. Menurut kelompok suporter Arema, Aremania, jumlah korban tragedi Kanjuruhan melebihi data resmi pemerintah.

Pasalnya, banyak korban meninggal akibat tragedi Kanjuruhan yang langsung dibawa pulang ke daerah asal mereka sebelum sempat dilarikan ke rumah sakit.

Jatuhnya banyak korban dalam tragedi 1 Oktober 2022 kemarin diduga disebabkan oleh gas air mata yang ditembakan oleh aparat kepolisian ke arah penonton.

Bahkan, penggunaan gas air mata oleh polisi juga banyak disorot media asing. Salah satunya adalah The Guardian.

Banyak dari mereka yang mengkritik sikap polisi. Pasalnya, FIFA telah melarang keras penggunaan gas air mata dalam pengamanan pertandingan sepak bola.

Hal ini tertuang dalam regulasi FIFA Bab III tentang Stewards, Pasal 10 soal Steward di pinggir lapangan.

Terlebih menurut Amnesti Internasional, paparan gas air mata bisa menyebabkan sensasi terbakar serta memicu mata berair, batuk, sesak dada, gangguan pernapasan, dan iritasi kulit.

Belakangan viral informasi yang mengatakan polisi sengaja menggunakan buzzer terkait tragedi Kanjuruhan.

Informasi ini diunggah pertama kali oleh akun Twitter @almertarandha pada Senin, 3 Oktober 2022.

Dalam informasi tersebut, pemilik akun mengatakan ada yang sengaja mengirim rekaman suara atau voice note via chat WhatsApp yang berisi klarifikasi penjual warung di Stadion Kanjuruhan.

Dalam pernyataannya, penjual tersebut menuturkan banyaknya korban meninggal bukan disebabkan gas air mata yang digunakan polisi, melainkan penonton yang saling terhimpit.

“BUZZER PRO POLISI PAS TRAGEDI KANJURUHAN PAKE STRATEGI BARU.. ngirim voicenote yang ceritanya klarifikasi dari penjual warung di stadion, intinya meninggal banyak bukan gr2 gas air mata tapi sesama penonton yg “uyel2″an,” tulis akun tersebut, dikutip SeputarTangsel.com pada Selasa, 4 Oktober 2022.

Namun setelah nomor telepon tersebut ditelusuri melalui aplikasi Get Contact, yang muncul adalah tukang pijat yang diketahui bernama Akim dan berdomisili di Bandung, Jawa Barat.

Padahal, menurut pemilik akun, dirinya tidak pernah mencari tukang pijat di Bandung.

“pas di getcontact keluarnya beginian.. sejak kapan saya pernah nyari kang pijet di bandung..,” tuturnya.

Pemilik akun menduga hal ini strategi polisi untuk menghasut masyarakat.

“kacau sih yak strateginya pak pol ini, buat orang2 tertentu yang gampang kehasut dll pasti percaya2 aja,” ucapnya.

“maksud saya ya yaudah diselidiki aja.. karna yang salah memang banyak pihak, gak cuma 1 aja.. jangan malah pake gerakan aneh gini, asli aneh,” tambahnya.

Pemilik akun Twitter @almertarandha juga menyebut rekaman suara yang diduga dari pihak kepolisian terkait tragedi Kanjuruhan itu dikirim ke nomor WhatsApp secara acak.

Bahkan menurutnya, nomor tersebut merupakan nomor bekas yang sudah lama kadaluwarsa.

Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Ainun Nadjib mengaku juga mendapatkan chat WhatsApp dan link TikTok mengenai rekaman suara yang sama.

Ainun Nadjib merasa skeptis ketika orang yang mengaku sebagai penjual di depan Stadion Kanjuruhan menggunakan aksen yang berbeda.

“Saya dapat forwardan voice note dan link ke TikTok ber-audio yang sama.

Langsung skeptis ketika suara (yang katanya penjual warung di stadion Malang) menyebut “polisi dari Batu” dengan ucapan BBatu bukan mBatu,” tuturnya melalui akun Twitter @ainunnajib pada Senin, 3 Oktober 2022.

Meski demikian, belum dapat dipastikan apakah rekaman suara yang berisi klarifikasi soal tragedi Kanjuruhan itu sengaja dikirimkan oleh pihak Kepolisian.

Sumber

 


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *