Menghebohkan! Viral Video Arak-arakan “Duit Ora Payu!” Pilkades di Rembang, Adik Sepupu Gus Baha Terpilih

banner 800x800 banner 678x960

Hajinews.id — Viralnya sebuah video di media sosial yang memperlihatkan adik sepupu KH Bahauddin Nursalim alias Gus Baha, Muhammad Umar Faruq, diarak warga dengan diiringi teriakan “Duit ora payu! Duit ora payu!” (Uang tidak laku!) cukup membuat heboh dunia maya.

Usut punya usut, dalam video tersebut rupanya  Gus Faruq, panggilan akrab Muhammad Umar Faruq, baru saja memenangkan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Narukan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Ahad (2/9/2022) kemarin.

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Gus Faruq disebut-sebut berhasil memenangkan Pilkades tanpa sentuhan politik uang sama sekali.

Sementara, kompetitornya yang merupakan Kades petahana, dalam narasi video yang beredar dikatakan membagikan uang ratusan ribu rupiah pada warga.

Dalam Pilkades tersebut, Gus Faruq berhasil mendapat suara mayoritas.

Dari total 1.039 suara sah, ia memperoleh 709 suara.

Sementara kompetitornya, Hanik Setiyawati, hanya memperoleh 330 suara.

Dihubungi via sambungan telepon, adik kandung Gus Baha yang juga Ketua DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Rembang, Zaimul Umam Nursalim, membenarkan bahwa adik sepupunya berhasil menang Pilkades tanpa politik uang.

Pria yang akrab disapa Gus Umam ini mengatakan, Gus Faruq sejak kecil sudah ditinggal wafat oleh ibunya.

“Akhirnya Dik Faruq ikut ibu saya. Karena ibu dari Dik Faruq adalah adik dari ibu saya,” jelas dia.

Ia menyebut, adik sepupunya maju ke kontestasi Pilkades berangkat dari permintaan masyarakat Desa Narukan sendiri.

“Kami berembuk terkait permintaan masyarakat yang menginginkan perubahan di Desa Narukan. Akhirnya kami sepakat.

Kami setuju. Kebetulan karena kesibukan saya selaku Ketua DPC PPP, saya diminta sama saudara-saudara Gus Baha untuk memimpin langsung, terjun (mendampingi Gus Faruq) dalam pemilihan kepala desa,” jelaa Gus Umam.

Ia menjelaskan, sang adik sepupu sebelumnya merupakan Perangkat Desa Narukan.

“Karena masyarakat menginginkan adik sepupu saya mencalonkan diri, minta izin pada kami.

Akhirnya setelah kami rembuk kami izinkan untuk mengabdikan diri di Narukan,” ucap dia.

Terkait video viral iring-iringan warga yang meneriakkan kata-kata”Duit ora payu!”, Gus Umam membenarkan bahwa hal itu merupakan sikap masyarakat yang tidak membutuhkan “uang suap” untuk memilih Gus Faruq.

“Memang kami ini sejak awal tidak punya kemampuan secara logistik. Tapi kami punya kekuatan interaksi sosial kepada masyarakat yang sudah terbangun sejak buyut-buyut saya,” kata dia.

Menurut Gus Umam, ikatan sosial yang kuat terjalin antara keluarganya dengan masyarakat, lantaran banyak warga Desa Narukan yang mondok, ngaji, di pesantren asuhan keluarga.

“Masyarakat banyak yang ngaji di mbah saya, di kakek-kakek saya, orang tua saya, dan saudara-saudara saya yang lain,” kata dia.

Gus Umam menambahkan, kultur masyarakat di Narukan memang menjunjung kerukunan dan kebersamaan tanpa membutuhkan embel-embel keuntungan material.

“Loyalitas dan militansinya memang luar biasa. Segala sesuatu tidak pernah melihat tentang pragmatisme. Segala sesuatu tidak pernah dikapitalisasi.

Terlebih adik sepupu saya maju juga karena sejak awal ada permintaan supaya ada keluarga “ndalem” (pengasuh pondok) yang maju,” papar Gus Umam.

Gus Umam juga menambahkan bahwa menjalin ikatan dengan masyarakat dan tidak menggunakan politik uang merupakan doktrin keluarganya.

Bahkan, saat Gus Faruq maju mencalonkan diri dalam Pilkades, pihaknya sudah terlebih dahulu mewanti-wanti masyarakat mengenai hal ini.

“Kami katakan pada masyarakat, kalau ingin perubahan, ini bukan menjadi tanggung jawab keluarga ndalem. tapi menjadi tanggung jawab bersama.

Alhamdulillah luar biasa antusiasme masyarakat dalam mendukung adik kami,” kata Gus Umam.

Gus Umam mengaku menyayangkan jika masih ada kontestan politik yang menganggap masyarakat serba pragmatis dan kapitalis.

“Lawannya (Gus Faruq) adalah kades petahana. Memang masih pola pikirnya melihat masyarakat dianggap semua pragmatis, kapitalis, memilih figur publik secara transaksional, bukan melihat kualitas kepribadian dan keteladanan. Itu mungkin yang dipakai,” kata dia.

“Sementara kami tidak. Kami sejak awal melihat kultur masyarakat Narukan selalu guyub. Apalagi ketika ada gawe, misalnya haul ayah saya, tanpa diberitahu semua sudah berbondong-bondong membantu kesuksesan acara di keluarga kami. Itu sudah sejak dulu era mbah-mbah saya,” tandas Gus Umam.(dbs)


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *