Tidak Lagi Dilirik, JK Sorot Kualitas Intelektual Ulama Minang

banner 800x800 banner 678x960

Hajinews.id — Orang Minang tak hanya dikenal pedagang ulung, tapi juga kental melahirkan kaum pemikir. Pernyataan ini sering diakui banyak tokoh nasional, termasuk Ketua Dewan Kehormatan Pengurus Pusat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (PP IPHI) M Jusuf Kalla ketika berkunjung ke Sumatera Barat.

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia itu bahkan juga menilai, Ranah Minang gudangnya intelektual bangsa. Hal ini ditandai dengan banyaknya tokoh nasional di masa lampau. Salah seorangnya, negarawan sekaligus funding father, Bung Hatta.

Bacaan Lainnya


banner 678x960

“Orang hebat banyak terlahir dari Minang, ada Sutan Syahrir, Agus Salim, M Natsir, Hamka, dan lainnya,” sebut Sumando orang Minang itu pada peringatan Hari Jadi ke-77 Sumbar, Sabtu (1/10) di Padang.

JK mengakui, sejak dulu kekuatan orang Minang terletak pada otaknya, bukan otot. Kepandaian itu menjadi modal besar Sumbar dalam meraih Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Tak hanya dalam dunia usaha, tapi juga dikenal ahli dalam bidang keagamaan Islam.

“Makanya Soekarno bahkan pernah berkata; berpikirlah seperti orang Minang, bekerjalah seperti orang Jawa, dan bicaralah seperti orang Batak,” ujarnya.

Kendati begitu, JK juga tak segan-segan menyorot kemerosotan intelektual Ranah Minang saat ini. Misalnya, dalam momentum Hari Jadi ke-77 Sumbar, 1 Oktober 2022, dia mengkritisi keberadaan pimpinan agama, ulama, atau ustaz dari Minangkabau yang tak lagi dilirik di kancah nasional.

Padahal, lanjutnya, tahun 50-60an banyak ulama berpengaruh dan tersohor dari Minang, contoh santernya Buya Hamka. Bahkan masa itu, dari jumatan 10 masjid di Jakarta, maka 8 di antara masjid itu khatibnya merupakan orang Minang, termasuk Buya Hamka.

“Sekarang mencari khatib orang Minang di Jakarta tidak ketemu, tidak terlalu mudah lagi,” ucap mantan Wapre RI yang kini berusia 80 tahun itu.

JK bahkan mengungkapkan, dahulu pengislaman orang Bugis di Makassar juga dilakukan ulama-ulama dari Minang. Sebaliknya saat ini, penceramah yang muncul di kancah nasional justru lebih banyak dari orang Bugis dibanding orang Minang.

“Contohnya Ustaz Das’ad Latif. Sekarang, penceramah dari Minang malahan tak ada lagi secara nasional. Ustaz siapa yang diundang kemana-mana dari Minang? Tak ada lagi,” ujarnya.

Selaku orang Bugis, suami Mufidah ini sangat berterima kasih kepada masyarakat Sumbar. Pasalnya, tanpa ulama Minang masa itu, kemungkinan Islam di Bugis tak sebaik saat ini, atau bahkan tak ada orang Bugis yang beragama Islam.

Menurut JK, hebatnya intelektual dan ulama Minang pada masa itu dimulai dari dunia pendidikan yang baik. Orang dari daerah lain waktu itu bahkan banyak yang datang ke Sumbar untuk belajar agama. Salah satunya ke Pesantren Thawalib di Kota Padang Panjang.

“Sekarang tak terpikir lagi orang datang ke Padang Panjang, paling datang makan sate di Padang Panjang, Mak Syukur,” seloroh JK yang disambut senyum, angguk-angguk, dan tertawa tamu, atau pejabat Sumbar.

JK berpendapat, salah satu faktor penyebabnya karena banyak orang Minang yang justru menuntut ilmu agama datang ke Gontor, Jawa Timur atau ke daerah lainnya. Padahal dulu retorika orang Minang terlahir dari sekolah agama di Sumbar.

Atas kemerosotan ini, politisi Golkar itu meminta Pemprov Sumbar melakukan upaya untuk menghidupkan lagi marwah intelektual ulama di Minang. Misalnya, dengan meningkatkan pengetahuan keagamaan ulama, ustaz yang retorik dari orang Minang ke depannya.

Selain itu, JK menlilai ada suatu degradasi pendidikan keagamaan di Sumbar yang harus diperbaiki ke depan. Hal ini juga mesti jadi perhatian Ketua MUI Sumbar. Selain itu melibatkan pihak perguruan tinggi di Sumbar dalam upaya meningkat pengetahuan keagamaan ini.

“Ada Universitas Andalas, UIN, dan Universitas Negeri Padang, yang mesti mampu dalam upaya pembenahan intelektual muda, dan pengetahuan agama orang Minang,” imbuhnya.

Menanggapi sorotan Wapres JK itu, Gubernur Sumbar, Mahyeldi menilai sebagai masukan bagi banyak pihak di Sumbar. Dia menyebut sudah mewadahi masyarakat dalam pengetahuan agama, sesuai yang sudah tertuang dalam sebuah visi religius, yakni menciptakan Sumbar Madani.

Selain itu, dia mengaku terus bersinergi dengan perguruan tinggi, tokoh masyarakat, dan ulama yang ada. “Kita terus memberi penguatan keagamaan melalui pesantren, bahkan melakukan pengiriman mahasiswa ke luar negeri (timur tengah),” ungkap Mahyeldi.

Politisi PKS itu berharap, setelah lulus menimba ilmu di luar negeri (timur tengah), generasi muda Minang jangan hanya berkiprah di Jakarta. Pasalnya, perlu sinergisitas bersama membangun kampung halaman yang bakal menguatkan intelektual Minang ke depannya.

Sumber: Gatra


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *