Terima Kasih, Anies Baswedan

Anies Baswedan
Anies Baswedan
banner 800x800 banner 678x960

Oleh: Akhmad Mustain, Editor Media Indonesia

Hajinews.idAnies Baswedan segera angkat kaki dari Balai Kota karena masa jabatannya akan habis tuntas pada 16 Oktober.  Lima tahun pengabdian untuk warga Ibu Kota akan mencapai titik akhir.

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Dan nampaknya bung Anies tidak lagi berselera melanjutkan masa bakti untuk periode kedua. Anies berniat naik kelas. Ingin mencoba peruntungan di level nasional. Bertarung menjadi calon presiden pada Pemilu 2024. Apalagi, elektabilitas Anies sejauh ini masih termasuk tiga besar meski belum memiliki partai politik.

Sayonara untuk warga Jakarta. Anies mungkin berniat mengikuti jejak pendahulunya,  Joko Widodo yang berkontestasi di panggung pilpres usai menang di Pilkada DKI Jakarta. Bedanya, kalau Jokowi berhenti di tengah periode, Anies menuntaskan satu periode.

Namun bagaimana respons warga Jakarta terkait dengan kepemimimpinan Anies dalam lima tahun terakhir, beragam. Ada yang merasakan perubahan, ada yang bilang Jakarta sama saja, bahkan ada juga yang menganggap makin semrawut.

Tingkat kepuasan

Terlepas dari pengalaman subjektif warga terhadap kinerja pemerintahan Anies-Ahmad Riza Patria, survei tingkat kepuasan setidaknya bisa menjadi barometer. Namun, ternyata, survei tingkat kepuasan terhadap kinerja Anies juga beragam.

Survei yang dilakukan oleh Pusat Data Bersatu (PDB) menunjukkan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Anies sejumlah 83,8%. Hanya 14,8% responden mengaku tidak puas dengan kepemimpinan Anies-Ariza, sementara 1,3% responden mengaku sangat tidak puas.

Padahal pada minggu sebelumnya, survei lain menunjukkan tingkat kepuasaan warga Jakarta terhadap kinerja Anies berada di titik terendah, yakni 30,3%. Survei yang dilakukan oleh Nusantara Strategic Network (NSN) menunjukkan sebanyak 58,8% responden merasa tidak puas terhadap kinerja Anies dan sisanya tidak tahu atau tidak jawab sebanyak 10,9%.

Perbedaan mencolok dua hasil survei ini, padahal waktunya berdekatan jelas membuat publik bertanya, mana yang benar ini? Warga puas atau kecewa?

Sebenarnya, wajar saja berbeda. Apalagi kalau dilihat dari metode sampling, survei PDB menggunakan metode snowball sampling yang merupakan teknik sampling nonprobabilitas dan mestinya banyak dipakai untuk penelitian bersifat kualitatif. Sedangkan survei NSN mengklaim pakai metode multistage random sampling. Metode yang memang lumrah dipakai dalam survei-survei opini publik.

Terlepas polemik mengenai keabsahan dan kesahihannya, yang jelas perbedaan hasil dua survei ini menegaskan kinerja Anies belum mampu memuaskan seluruh warga Jakarta. Lima tahun Anies menjabat sebagai DKI-1 jelas masih jauh dari kata memuaskan.

Hasil survei NSN memaparkan sejumlah poin penting kenapa Anies dianggap kurang memuaskan memimpin Jakarta. Karena Anies dianggap tidak mampu memenuhi janji-janji kampanyenya.

Misalkan soal rumah DP Rp0 yang kini hanya ditarget 10 ribu unit. Padahal, awalnya Pemprov DKI menargetkan pembangunan sebanyak 232.214 unit. Adapaun yang terealisasi baru 2.322 unit.

Belum lagi urusan sumur resapan yang pembangunannya dianggap asal-asalan. Bukannya menjadi solusi banjir malah membuat jalanan menjadi rusak penuh tambal-sulam meskipun akhirnya diperbaiki setelah mendapat hujatan dari publik. Belum lagi persoalan klasik bagi Jakarta, yakni banjir.

Sedangkan mereka yang mengaku puas dengan kinerja Anies menurut PDB yakni pembangunan insfrastruktur, tata kelola perkotaan, hingga layanan transportasi umum. Integrasi transportasi menjadi poin penting dalam pembangunan yang berdampak pada kepuasan masyarakat.

Anies juga dinilai sudah banyak mengubah wajah Jakarta. Tengok saja jalur pedestrian yang lebar dan indah, penataan sejumlah stasiun, jembatan penyeberangan orang, dan jalur sepeda .

Proyek mercusuar

Pembangunan Jakarta International Stadium juga mendapat kredit positif dari publik. Meskipun JIS yang menjadi lokasi balap Formula-e dianggap sebagai program mercusuar Anies Baswedan.

Disebut mercusuar karena sebenarnya program tersebut tidak prioritas, tetapi mudah dipamerkan. Kalau kita lihat ke belakang, sebut saja proyek instalasi bambu getih getah yang sempat terpajang 11 bulan di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat. Instalasi seni bambu itu diresmikan oleh Anies pada 16 Agustus 2018 dan dibongkar pada 17 Juli 2019. Dan pada Agustus 2019, di lokasi yang sama kemudian dibangun instalasi batu gabion. Dan pada 24 Desember 2019, instalasi batu gabion sudah dibongkar.

Sejumlah pihak mengaitkannya untuk tujuan politik, menangguk elektoral, padahal tidak signifikan untuk kesejahteraan masyarakat Jakarta.

Perbedaan pandangan hasil survei juga menunjukkan bahwa setiap pemimpin pasti memiliki plus dan minus dalam menjalankan roda pemerintahan. Tetapi minimal Anies sudah bisa merealisasikan sejumlah program kerja Pemprov DKI Jakarta di tengah keterbatasan dan banyaknya ujian termasuk pandemi covid-19.

Kemacetan dan banjir memang belum sepenuhnya tuntas di tangan Anies. Kolaborasi dengan pemerintah pusat dalam integrasi transportasi patut diapresiasi.

Apapun hasilnya, apapun motivasinya, baik untuk kesejahteraan warga Jakarta, atau kepentingan elektoral menuju 2024. Masyarakat Jakarta tetap patut berterima kasih kepada Anies karena sudah memimpin Ibu Kota Indonesia.


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *