Ini Cara Rasulullah SAW Berbicara, Diam, Tertawa, dan Menangis

Cara Rasulullah SAW Berbicara
Cara Rasulullah SAW Berbicara
banner 800x800 banner 678x960

Hajinews.idRasulullah SAW adalah sosok manusia paling fasih. Beliau diutus oleh Allah SWT sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan bagi umat manusia.

Allah SWT berfirman:

Bacaan Lainnya


banner 678x960

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا كَاۤفَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًا وَّلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ ٢٨

Artinya: “Tidaklah Kami mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali kepada seluruh manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (QS Saba: 28).

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan dalam Jami’us Sirah, Rasulullah SAW memiliki tutur kata yang sangat manis, namun lugas dalam penyampaiannya. Setiap ucapan dan kata-kata yang keluar dari mulut Beliau sangat baik dan menarik perhatian siapa saja yang mendengarnya.

“Ucapan dan kata-katanya sangat baik. Hingga dapat dikatakan perkataannya menarik hati orang yang mendengarkannya. Para musuh-musuh Beliau pun mengakui akan hal itu,” ucap Ibnu Qayyim Al-Jauziyah seperti diterjemahkan Abdul Rosyad Shiddiq dan Muhamad Muchson Anasy.

Putra Sayyidina Abdullah dan Siti Aminah ini berbicara dengan gaya bicara yang terperinci dan jelas pada setiap katanya. Imam Ibnu Qayyim menyebut, gaya bicara beliau tidak terlalu cepat dan tidak terlalu banyak jeda.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan At Tirmidzi dalam pembahasan Manaqib, Aisyah RA mengatakan, “Tidaklah Rasulullah SAW berbicara kepada kalian dengan cepat. Tetapi Beliau berbicara dengan jelas dan terperinci. Hingga mereka yang duduk bersama Beliau, dapat menghafalkan apa yang Beliau sampaikan.”

Selain itu, Beliau sering mengulangi ucapannya hingga tiga kali. Hal ini dimaksudkan agar apa yang Beliau sampaikan bisa dipahami. Kebiasaan ini juga beliau lakukan tatkala memberikan salam, yakni sebanyak tiga kali.

Dalam kesehariannya, Rasulullah SAW termasuk orang yang banyak diam. Beliau hanya berbicara seperlunya saja dan mengawali serta mengakhirinya dengan sangat jelas. Setiap kata yang beliau ucapkan adalah kata-kata yang bermanfaat.

“Beliau menyampaikan sesuatu dengan ringkas, namun sarat dengan makna. Ringkas, dengan tidak ada penambahan maupun pengurangan. Sehingga, Beliau tidak mengucapkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Atau, Beliau hanya membicarakan hal-hal yang bersifat ibadah, yang dijanjikan pahala oleh Allah SWT,” lanjut Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.

Kerut di wajah baginda Nabi SAW menjadi tanda ketika Beliau tidak menyukai sesuatu. Namun, Beliau tidak menjelek-jelekkannya, mencacinya, atau berteriak.

Jika tertawa, Beliau hanya menampakkan senyum. Sehingga dapat dikatakan, semua tawa Beliau dalam bentuk senyuman. Namun, Beliau pernah tertawa hingga terlihat gigi-gigi gerahamnya. Ini pun hanya ketika ada hal-hal yang memang layak ditertawakan.

Tawa Rasulullah SAW terdiri atas tiga jenis, tertawa karena ada hal yang layak ditertawakan, tertawa karena gembira seperti melihat sesuatu yang menyenangkan hatinya, dan tertawa karena amarah.

Adapun, tangis Beliau ada yang dilakukan dalam tawanya, sehingga Beliau tidak menangis terisak-isak dan juga tidak mengeluarkan suara keras. Saat Beliau menangis, air matanya mengalir hingga bercucuran dan terdengar suara rintihan dari dadanya.

Terkadang Beliau menangis lantaran kasihan terhadap orang yang telah meninggal dunia. Terkadang pula Beliau menangis karena mengkhawatirkan nasib umatnya dan rasa kasih terhadap mereka.

Selain itu, Beliau juga menangis karena ketakutannya yang mendalam kepada Allah SWT. Misalnya ketika Beliau mendengar bacaan Al-Qur’an.

Rasulullah SAW pernah menangis ketika putranya, Ibrahim, wafat. Begitu pula ketika salah seorang putrinya wafat.

Saat itu Beliau menangis seraya bersabda, “Air mata bercucuran, hati berduka, dan tidak ada yang kami ucapkan melainkan apa yang diridhai Tuhan kami. Dan sesungguhnya kami, wahai Ibrahim, benar-benar bersedih karena (kepergianmu).” (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Beliau juga pernah menangis karena sejumlah peristiwa. Di antaranya tatkala Utsman bin Mazh’un wafat, saat terjadi gerhana matahari, dan ketika duduk di makam salah satu putrinya.

Tangis Rasulullah SAW dapat dibedakan menjadi dua, yakni tangis kesedihan dan kebahagiaan. Ketika Beliau menangis karena bahagia, air mata bahagianya cenderung dingin, sedangkan ketika menangis karena kesedihan, air matanya terasa panas dan hatinya berduka.


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *