SBY Tahu, Tapi Ragu

SBY Tahu
Arie Putra, co-founder Total Politik, host Adu Perspektif, detikcom X Total Politik
banner 800x800 banner 678x960

Oleh: Arie Putra, co-founder Total Politik, host Adu Perspektif, detikcom X Total Politik

Hajinews.id – Pernyataan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sangat mengejutkan, seperti petir di siang bolong. SBY mengatakan ada sekelompok orang yang ingin menjegal partainya di Pemilu 2024. Menurut informasi yang didapatkannya, “mereka” ingin membuat dua poros koalisi tanpa mengajak Partai Demokrat bergabung.

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Tidak usah kita bahas siapa “mereka” yang dimaksud. Tentunya, pernyataan itu menimbulkan berbagai spekulasi yang liar. Kita bisa berimajinasi ke mana-mana.

Pernyataan tersebut sangat aneh di tengah kemesraan Partai Demokrat dengan Partai Nasdem dan PKS. Padahal, semua kader Partai Demokrat bicara di publik tentang pembentukan Koalisi Perubahan yang memiliki kemajuannya sangat signifikan.

Koalisi tersebut hampir dipastikan mengusung Anies Baswedan. Sebagaimana yang publik pahami, Gubernur Anies bukan kandidat yang dianggap berasal dari lingkar dalam pekarangan istana. Kalau proses pencalonan Gubernur Anies lewat tiga partai tersebut mengalami kemajuan pesat, “mereka” tentunya sulit melakukan politik jegal-menjegal.

Pertanyaan sebenarnya layak diajukan kepada SBY. Apakah Koalisi Perubahan masih jauh dari harapan? Kita tidak tahu persis apa harapan SBY terhadap koalisi tersebut. Yang bisa dilakukan publik hanya menerka-nerka.

SBY tentunya ingin putra sulungnya Agus Harimurti (AHY) duduk di kursi capres atau cawapres. Melalui Pilpres 2024, Pangeran Cikeas harus mendapatkan posisi di tampuk pimpinan negeri, agar kekuatannya di internal Partai Demokrat semakin kokoh. Namun, permintaan tersebut akan menemui perbincangan yang alot.

Jika AHY berpasangan dengan Gubernur Anies, Partai Demokrat adalah satu-satunya di antara tiga partai Koalisi Perubahan yang memiliki kader di panggung pilpres. Sementara, Gubernur Anies bukan kader partai politik manapun. Partai Nasdem dan PKS tentunya sulit menerima keinginan tersebut.

Skenario yang ditakutkan oleh SBY itu tampak bisa jadi kenyataan. Di tengah alotnya negosiasi Koalisi Perubahan, PKS pun memulai komunikasi dengan Partai Golkar yang sudah membentuk Koalisi Indonesia Bersatu, bersama PPP dan PAN.

Jika Koalisi Perubahan gagal terbentuk, tampaknya penghalangnya bukan “mereka”. Namun, sebab utamanya adalah negosiasi di antara SBY dan kedua partai lainnya berjalan alot, bahkan mungkin saja komunikasi berjalan satu arah. Penghalang utama pembentukan koalisi ini diduga adalah keraguan SBY sendiri.

Pilihan SBY sebenarnya tidak banyak dalam situasi yang semakin mendesak ini. Pilihan pertama adalah segera meresmikan Koalisi Perubahan dengan cara apapun. Meskipun pernah menjadi kepala negara, SBY mau tidak mau harus rela untuk duduk setara dengan kedua partai lainnya.


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *