Dampak Perang Rusia-Ukraina, Presiden Jokowi : Tahun 2023 Kondisi Ekonomi akan Semakin Gelap dan Sulit

Presiden Joko Widodo (foto: istimewa)
banner 800x800 banner 678x960

Hajinews.id – Ekonomi global berada dalam ketidakpastian.Sebelumnya pandemi Covid-19 membuat ekonomi dunia terganggu.

Belum selesai pulih akibat Virus Corona, perekonomian dunia kembali diterpa ketidakpastian akibat perang Rusia – Ukraina.

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Diperkirakan perang Ukraina – Rusia tidak akan berakhir dalam waktu dekat.

Hal ini berdampak kepada seluruh dunia dalam waktu yang masih panjang.

Bahkan Presiden RI Joko Widodo memperingatkan bakal dampak bagi dunia akibat perang antara Rusia – Ukraina.

Presiden Jokowi mengatakan di tahun 2023 kondisi ekonomi akan semakin gelap dan sulit.

Menurutnya, hal ini tidak lepas dari perang antara Rusia dan Ukraina yang terjadi sejak Februari 2022 lalu belum usai.

Menurut Jokowi, kondisi tersebut tak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia.

Dalam diskusi yang ia lakukan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, dan di lokasi berbeda dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, bisa disimpulkan perang tidak akan usai dalam waktu dekat.

“Dunia sekarang ini pada posisi yang tidak gampang dan betul-betul sulit dimana tahun depan akan lebih gelap.

Saya bertemu dengan Presiden Zelenskyy dan satu setengah jam berdiskusi, serta presiden Putin dua setengah jam berdiskusi, saya menyimpulkan perang tidak akan segera selesai, akan lama,” kata Jokowi.

Jokowi mengatakan, dengan perang antara Rusia dan Ukraina maka dampaknya akan dirasakan oleh Indonesia dan dunia.

Beberapa dampak seperti krisis energi, pangan, finansial akan membebani pergerakan ekonomi di tahun 2023.

“Itu akan berakibat pada kesulitan lain, seperti krisis pangan, krisis energi, krisis finansial, Covid-19 yang belum pulih, dan akibatnya kita tau sekarang ini saja 19.600 orang mati karena kelaparan, karena krisis pangan,” lanjut Jokowi.

Perlambatan ekonomi di tahun 2023 juga diramalkan oleh Bank Indonesia (BI) sebelumnya.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pertumbuhan ekonomi global tahun 2023 berisiko tumbuh lebih rendah ini juga disertai dengan tingginya tekanan inflasi dan ketidakpastian pasar keuangan global.

“Tahun depan kami perkirakan turun jadi 2,7 persen bahkan ada beberapa risiko yang menjadikan ke 2,6 persen,” ujarnya dalam konferensi pers virtual, Kamis (22/9/2022) lalu.

Perlambatan pertumbuhan perekonomian global ini terutama terjadi di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat (AS) yang tahun ini tumbuh 2,1 persen tapi tahun depan diperkirakan hanya tumbuh 1,5 persen.

“Hal ini juga terjadi di Eropa yang pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan 2,1 persen, tahun depan lebih rendah menjadi 1,2 persen dan Tiongkok tahun ini tumbuh 3,2 persen dan tahun depan 4,6 persen,” ucapnya.

Penurunan pertumbuhan ekonomi ini disertai dengan risiko resesi di sejumlah negara maju.

Selain itu, volume perdagangan dunia juga tetap rendah.

“Faktornya (pelambatan pertumbuhan ekonomi global 2023), masih terjadinya disrupsi atau gangguan mata rantai pasokan global, kebijakan proteksi diberbagai negara, konflik geo politik, dan respons kebijakan suku bunga yang agresif di AS dan sejumlah negara,” jelas Perry.

Sumber


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *