Hikayat dan Hikmah Waliullah Syeikh Hayat Bin Qais Rahimahumullah

Hikayat dan Hikmah Syeikh Hayat Bin Qais
Hasanuddin (Ketua Umum PBHMI 2003-2005), Redaktur Pelaksana Hajinews.id
banner 800x800 banner 678x960

Oleh Hasanuddin (Ketua Umum PBHMI 2003-2005), Redaktur Pelaksana Hajinews.id

Hajinews.id – Diriwayatakan dari seorang Syaikh yang amat saleh, Abu Ya’la Ghanim bin Ya’la Al-Bakri, ia bercerita:

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Pernah sekali, aku berlayar dari laut Malaka ke Yaman melalui Samudera Hindia yang begitu indah. Ketika kami berada di Samudera Hindia angin bertiup sangat kencang. Gelombang samudera menggejolak di sekeliling perahu kami hingga kapal kami karam hingga pecah. Akhirnya, aku terselamatkan dengan sebuah papan dan terdampar di sebuah pulau kosong. Aku tidak melihat seorang pun di sana. Tiba-tiba saja aku merasakan betapa indahnya pulau itu. Di sana, aku melihat sebuah masjid, aku pun memasukinya. Di dalam masjid itu terlihat empat orang sedang duduk melingkar.

Aku memberi salam kepada mereka dan mereka pun menjawab salamku. Mereka menanyakan tentang perihalku, aku pun menceritakannya. Selama beberapa hari, aku bersama mereka. Aku memperhatikan mereka sangat tekun dalam tawajjuh mereka kepada Allah. Sungguh suasana yang sangat mengagumkan. Ketika waktu isya telah tiba, datanglah Syeikh Hayat Al-Hurrani masuk dan mereka berlomba-lomba memberikan salam kepadanya. Kemudian, Syeikh maju dan shalat bersama mereka. Mereka melanjutkan shalat mereka hingga terbit fajar. Aku mendengar Syeikh Hayat bermunajat:

“Ya Tuhanku, aku tidak menemukan harapanku yang paling tinggi selain kepada-Mu. Aku juga tidak mendapatkan kenikmatan selain Dari-Mu. Di pintu-Mu aku menunggu terbukanya hijab-Mu, kapan engkau akan membebaskan diriku dari kesedihan?

Beliau melanjutkan;

“Tengoklah ke majelis Al-Qarb! Di sana, aku telah mengikat jiwaku dengan kebahagiaan bersama-Mu. Kami mendengar peringatan-Mu. Di sana rinduku aku curahkan. Aku juga mempunyai ‘hal’ yang akan tersingkap oleh pertemuan (dengan-Mu). Wahai kekasih para taibin. Wahai Dzat yang memberikan kegembiraan kepada ahli makrifat. Wahai kekasih para abidiin..wahai Dzat pemberi kemesraan kepada orang-orang yang tafrid..wahai Dzat yang melindungi orang-orang yang bernaung serta penanggung orang-orang yang berpasrah diri…wahai Dzat yang memberi kelembutan kepada hati shiddiqiin. Dengan kelembutan itu, terasa mesralah perasaan para pencinta dan dalam kelembutan itulah cita-cita orang yang takut (kepada-Mu) ditambatkan.

Kemudian, dia menangis sekeras-kerasnya dan aku melihat ada cahaya yang mengelilingi mereka, bagaikan purnama yang sedang bersinar.

Kemudian, Syeikh keluar dari Masjid seraya bersyair:

Seorang kekasih telah datang menemui orang tercinta dengan tergesa-gesa. Dalam kecintaan itu, hatinya yang di penuhi kesusahan, merasa gelisah. Kekurangan yang aku derita kulipat di bawah telapakku. Hanya Engkaulah yang kuasa melemparkan aku ke daratan dan pegunungan.

Orang-orang itu berkata kepadaku, ikutilah orang itu! Aku pun mengikutinya. Tiba-tiba, daratan, lautan, padang pasir, dan pegunungan terlipat dibawah telapakku. Aku mendengar dalam setiap langkahnya, Syeikh Hayat tidak henti-henti berdzikir, “Ya Tuhanku, kehidupan “kun” untuk kehidupan”. Tiba-tiba saja aku telah sampai di Hurran dalam sekejap bertepatan dengan orang-orang yang melaksanakan shalat subuh.

Perawi hikayat ini bertutur:

Pada beberapa tahun yang lalu, beliau melaksanakan haji hingga rombongannya telah sampai di padang pasir. Akhirnya dia dan orang yang bersamanya bernaung di bawah pohon kurma yang terkenal dengan sebutan “Ummu Ghailan”. Pelayan berkata kepadanya: “Wahai Tuanku, kami menginginkan kurma.”

“Gerakkan pohon itu”!
“Tapi tuan, pohon ini Ummu Ghailan”
“Gerakkan saja!”

Kemudian, pelayan itu menggerakkan pohon tersebut. Kurma-kurma berjatuhan lalu mereka makan sampai kenyang.

Syeikh Hayat bin Qais merupakan Syeikh para arifin yang agung, pembesar para muqarrabiin, pemilik karamah dan tingkatan spritual yang agung, mendapatkan anugerah yang berlimpah, memiliki perilaku yang sopan, kedudukan yang tinggi, prilaku yang luhur, kasyf yang nyata, derajat yang tinggi, tabiat yang luhur, orang yang mendapat siraman dari mata air kemurahan, serta yang terdepan dalam ke dalaman ilmunya.

Para ulama beserta para Guru mengakui keagungan. Beliau adalah salah satu dari empat orang yang disebutkan oleh Syeikh Abu Hasan Ali Al-Qusyairi r.a, dalam perkataannya, “Aku melihat empat syeikh yang bertindak dalam alam kuburnya bagaikan orang yang masih hidup”.

Diantara mutiara hikmah dari Syeikh Hayat bin Qais adalah sebagai berikut:

# Barangsiapa yang menghendaki tawaduk, hendaklah menghadapkan dirinya kepada kebesaran Allah. Sebab, kebesaran itulah yang akan melelehkan dan membersihkan kecongkakan hati.

#Barangsiapa yang memandang kekuasaan Allah, niscaya akan hilang kekuasaan dirinya. Sebab, semua jiwa itu sangat membutuhkan pertolongan Allah, sangat memunculkan keagungan-Nya.

#Barangsiapa yang merasa suka untuk melihat rasa takut kepada Allah bersemayam di dalam hatinya serta menyingkap keajaiban yang diperlihatkan kepada para shiddiqin, hendaklah ia tidak makan kecuali yang halal, tidak berbuat kecuali yang sunnah, apalagi yang fardhu.

  • Barangsiapa yang terlarang dari untuk menyingkap kekuasaan-Nya, niscaya dia terhalangi untuk wushul (kepada-Nya).
  • Cahaya hati dapat ditarik dengan kewaspadaan yang konsisten; pintu waspada akan terbuka dengan kosisten berpikir; menghiasi diri, karena Allah Taala, dengan kesungguhan dalam setiap kondisi; menyegarkan langkah menuju Allah.
  • Waspadalah engkau dari menunda-nunda, karena hal itu akan membutakan hatimu, waspadalah terhadap kemalasan, karena dapat berakhir dengan penyesalan.
  • Tebuslah dosa-dosa yang telah lalu dengan selalu menyesal dan memperbanyak istigfhar, mengharap ampunan Allah dengan sebaik-baiknya pertobatan dan rasa gentar.
  • Pijakan pertama (yang dipijak) bagi orang yang bersungguh-sungguh (dalam mencari Allah) niscaya ia akan menemukannya.
  • Tanda-tanda seorang murid yang telah mencapai hakilat adalah tidak lalai untuk mengingat Allah, tidak berpaling dari-Nya, tidak bermesraan dengan yang lain; konsisten melakukan amalan sunnah terlebih lagi dengan amalan fardhu. Sunnah adalah meninggalkan dunia, sedangkan fardhu adalah (bersuhbat) dengan Al-Maula). Barangsiapa yang beramal dengan amalan sunnah dan fardhu, niacaya akan disempurnakan perkaranya. Barangsiapa yang zuhud di dunia, niscaya akan diberitahukan terjaga dari kungkungan nafsunya. Sudah seharusnya ia merasa malu kepada Allah dengan menduakan-Nya, sedangkan ia tidak berdaya ketika berada di hadapan-Nya.
  • Ketika cobaan ditimpakan, tampaklah hakikat kesabaran.
  • Ketika kekuasaan tersingkap, tampalah hakikat ridha.
  • Waspadalah dari menjadikan Zuhud sebagai profesimu. Namun, jadikanlah zuhud sebagai ibadahmu. Mahabbah adalah tertautnya hati kepada Al-Haibah; sedangkan kemesraan adalah ciri kelompok (para wali) inti dari tarekat, dan maksud dari Sunnah.
  • Maksud dan tujuan (yang mesti digapai oleh para murid) adalah memusatkan usaha untuk melihat Sang Kekasih dan tercapainya apa yang dituntutnya.

Allahumma shalli wa shallim wa baaraik Alaih.


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *