Apa itu Salafisme? KH. Ahmad Dahlan, Muhammad Abduh dan Abdul Wahab

Apa itu Salafisme?
KH. Ahmad Dahlan, Muhammad Abduh dan Abdul Wahab
banner 800x800 banner 678x960

Penulis: Ilham Ibrahim

Hajinews.id – Dalam bahasa Arab, “salaf” berarti “mutaqaddim” atau pendahulu. Istilah salaf kemudian dipahami kepada periode Rasulullah Saw, Sahabat, dan Tabiin. Berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan Muslim, ketiga periode Islam awal ini merupakan generasi terbaik yang patut menjadi teladan. Terminologi ‘salaf’ kemudian digunakan sebagai simbol otentisitas dalam pemikiran hukum Islam dan mengubahnya menjadi sebuah doktrin utama dalam gerakan kaum pembaharu.

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Bendera Salafisme pada awalnya merupakan suatu doktrin yang dikampanyekan para pembaharu Islam yang hidup pada abad 19 dan 20, semisal Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Ketiga tokoh pembaharu ini sepakat perlunya reformasi Islam dengan cara meneladani generasi muslim awal yang saleh (al-salaf al-shalih). Sejumlah sarjana lain mengatribusikan paham Salafisme pada gagasan tekstual Ahmad bin Hambal dan ada pula yang mengaitkannya dengan gerakan purifikasi Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim.

Perbedaan Salafisme Wahab dan Abduh

Menurut Muhammad Rofiq Muzakkir, di antara varian-varian salafisme di atas terdapat perbedaan konteks satu sama lain. Salafisme Abduh disebut sebagai respon intelektual atas kolonialisme Barat dan keterbelakangan dunia Islam di abad modern.

Salafisme Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim adalah respon terhadap sinkretisme dan kejatuhan institusi kekhalifahan Islam pada abad pertengahan. Sedangkan salafisme Ahmad bin Hanbal adalah respon terhadap rasionalitas kalam Muktazilah pada era Abbasiyah (Muzakkir, 2013: 101).

Meski secara eksplisit nomenklatur salafisme pertama kali digaungkan Muhammad Abduh, namun terma ini kemudian dikooptasi serta identik dengan gerakan yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahab.

Sebagai gerakan yang sama-sama menggunakan istilah salafisme, keduanya memiliki pandangan yang serupa, di antaranya: menggunakan slogan ‘kembali kepada al-Quran dan al-Sunah’, tidak berafiliasi mazhab tertentu, tidak melakukan praktek tasawuf, dan penekanan terhadap ajaran tauhid yang murni.

Sebagai dua sosok ulama yang memiliki banyak pengikut, baik Abduh maupun Wahabi meninggalkan jejak pengaruh yang begitu luas, tidak hanya di Timur Tengah, tetapi juga di dunia Islam lain, termasuk Indonesia dan Asia Tenggara. Karenanya, menyingkap selubung perbedaan antara Abduh dan Wahabi memiliki relevansi dan signifikansinya dengan kondisi umat Islam Indonesia saat ini.

Perbedaan Makna “Kembali ke Al-Qur’an dan As-Sunnah”

Muhammad ‘Abduh dilahirkan di desa Mahallat Nashr di Kabupaten al-Buhairah, Mesir pada  1849 M dan wafat pada 1905 M. Pemikirannya banyak dipengaruhi aktivis pan-Islamisme Jamaludin al-Afghani. Sementara itu, Muhammad bin ‘Abdul Wahab dilahirkan pada tahun 1701 M di kampung ‘Uyainah (Najd), dan meninggal dunia pada 1793 M. Tidak sedikit yang menilai pemikiran Abdul Wahab ini banyak dipengaruhi Ahmad bin Hanbal.

Sekalipun keduanya membawa bendera salafi yang sama, namun ada perbedaan substansial di antara keduanya. Dalam memaknai jargon ‘kembali kepada al-Quran dan al-Sunah’, misalnya, Abduh menekankan pentingnya akal dalam intepretasi teks keagamaan, akomodatif dengan perubahan zaman, dan cenderung mencari titik paling maslahat dalam suatu persoalan (istislah). Sementara Wahabi mempraktekkan intepretasi teks keagamaan secara literal, tidak adaptif dengan konteks zaman, dan cenderung memilih pendapat yang sulit dengan alasan kehati-hatian (ihtiyat).

Meski keduanya digolongkan sebagai kaum pembaharu, namun mereka berbeda dalam hal penggunaan akal. Abduh meyakini ilmu pengetahuan dapat menjadi pendekatan dalam berijtihad. Alam semesta, kata Abduh, merupakan lembaran dan buku yang harus dibaca dan diteliti oleh akal, agar lebih mengenal Sang Pencipta. Sementara itu, semangat literalisme yang menjadi metode utama dalam memahami nash-nash, membuat Wahabi terkesan menolak premis-premis ilmu pengetahuan yang aksiomatik dan menginjak-injak logika sains yang valid.

Dalam kaitannya dengan Mazhab, Abduh dan Wahabi sama-sama sepakat dengan doktrin orisinalitas ajaran Islam (al-ashalah al-Islamiyyah). Abduh menekankan agar umat Islam memutus ikatan dengan preseden intepretasi dari generasi masa lalu (ghair muqayyad bil-turats). Namun, proses yang Abduh tempuh adalah melakukan reintepretasi pendapat para ulama yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman, sehingga tidak terjadi apa yang disebut dengan keterputusan epistemik (epistemic rupture). Sementara Wahabi, mereka cenderung menutup mata dengan kekayaan tradisi diskursif Islam dan melebih-lebihkan peran teks suci dalam meregulasi kehidupan manusia.

Mengapa Tidak Menganut Satu Mazhab?

Hantaman Abduh terhadap formasi mazhab bukan sekadar melepaskan umat Islam dari bahaya taklid, melainkan juga untuk melepaskan segala ornamen yang menempel pada Islam itu sendiri karena pengaruh perbedaan teologi dan aliran fikih. Ketika Islam dilepaskan dari berbagai aliran, kata Abduh, niscaya tafsiran dan ajarannya sesuai dengan akal. Namun bagi Wahabi, menjauhkan Islam dari taklid seolah dimaknai dengan cara pandang yang anti rasionalitas, anti pluralitas, dan tidak akomodatif dengan produk zaman.

Abduh menolak terikat dengan suatu Mazhab karena dianggap dapat mengurangi peran akal dan tidak relatable dengan kondisi zaman. Sedangkan kaum Wahabi menolak ikut serta dengan Mazhab semata-mata karena curiga dengan peran akal yang berlebihan di dalamnya. Perbedaan yang mencolok ini, pada akhirnya, membawa pada satu kesimpulan bahwa salafisme Abduh menggalakkan tafkir, salafisme Wahabi melancarkan takfir.

Beberapa contoh kekeliruan Wahabi, misalnya, sampai saat ini mereka masih bersikukuh bahwa ilmu astronomi (hisab) tidak dapat digunakan untuk menentukan awal bulan hijriyah. Mereka juga cenderung melihat seni-budaya dengan kacamata curiga, yang membuat musik, fotografi, video, tarian, lukisan, dan lain-lain berstatus haram. Bagi Wahabi, agaknya Agama lebih dilihat sebagai koridor-koridor normatif yang serba membatasi, bukan sumber inspirasi dan motivasi untuk membuat suatu karya.

Sebagai penutup dari uraian singkat ini, satu-satunya doktrin yang dapat mempertemukan Abduh dan Wahabi adalah penolakan mereka terhadap aliran tasawuf. Mereka sama-sama meyakini bahwa sufisme yang dipraktikkan pada zamannya sudah menyimpang jauh dari agama Islam yang autentik. Meski demikian, titik tolak keduanya berbeda: Abduh menolak tasawuf dengan pertimbangan memaksimalkan fungsi akal dalam kehidupan sehingga tidak ada ruang untuk hal-hal irasional, sementara Wahabi menolaknya karena dianggap tidak sesuai dengan sunah Nabi Saw.

Salafisme Muhammadiyah, Abduh atau Wahab?

Beberapa peneliti meragukan keterpengaruhan Abduh terhadap gerakan Muhammadiyah khususnya pemikiran Kiai Dahlan. Dalam sebuah artikel yang berjudul The Muhammadiyah, misalnya, Alfian berpendapat bahwa Dahlan dan Abduh berada dalam konteks sosial politik yang benar-benar berbeda. Menurutnya, Dahlan dilahirkan di dalam sebuah masyarakat dengan pengaruh Islam yang relatif tidak sebesar di Mesir (Alfian, 1966).

Pendapat Alfian tidak sepenuhnya akurat. Muhammad Abduh merupakan pelopor gerakan pembaharu di dunia Islam dengan tujuan ganda sekaligus: memurnikan ajaran Islam dari bidah dan khurafat, dan melawan dominasi Barat. Walau pun Abduh menggunakan bendera Salafisme sebagai kampanye intelektualnya, namun jangan pula disamakan dengan gerakan salafi versi Wahabi, sebab salafisme yang dikomandoi Abduh merupakan respon intelektual atas kolonialisme Eropa dan keterbelakangan dunia Islam di abad modern.

Di dalam buku Membendung Arus yang ditulis Alwi Shihab menerangkan bahwa pada abad ke 18 sebelum masuknya pembaharuan Islam di Indonesia, dua disiplin Islam yang mendominasi pusat-pusat pendidikan Islam di Nusantara adalah mistitisme dan fikih mazhab Syafi’i. Kedua disiplin Islam itu sama sekali tidak mampu membendung masuknya praktik budaya lokal ke dalam ajaran Islam, dan juga tidak mampu melawan dominasi kolonialisme Belanda di Indonesia.

Munculnya pemikiran Abduh dalam wujud Ahmad Dahlan menandai jatuhnya posisi dominan aliran mistik seperti bidah dan khurafat dalam Islam di Indonesia, sekaligus perlawanan terhadap kolonial Belanda dengan cara non-konfrontatif seperti pengembangan mutu pendidikan. Sederhananya, Kiai Dahlan menganggap pemikiran Abduh merupakan obat paling mujarab untuk menyembuhkan penyakit yang diderita oleh umat Islam Indonesia.

Menurut Deliar Noer dalam The Modernist Muslim Movement in Indonesia 1900-1942, masuknya gagasan Abduh ke dalam pemikiran Dahlan melalui majalah al-‘Urwah al-Wustqa dan al-Manar yang diselundupkan melalui pos-pos rahasia (Noer, 1973). Isi kedua majalah itu secara umum menjelaskan tentang pentingnya membersihkan ajaran Islam dari bidah dan khurafat, juga ajakan Abduh kepada masyarakat muslim agar tidak tertinggal dalam kompetisi mereka dengan masyarakat Barat. Intinya kedua majalah itu menjadi bukti kekaguman Dahlan terhadap tulisan-tulisan Abduh.

Biarpun Kiai Dahlan sering dilekatkan dengan pembaharu lain, tetapi ada yang spesial dari Sang Pencerah yang tidak dimiliki Abduh maupun Abdul Wahab sekalipun. Menurut Haedar Nashir, ada dua hal yang membedakan Kiai Dahlan dari Abduh yaitu pertama, melahirkan pranata Islam modern seperti membangun sekolah dan madrasah, mendirikan rumah sakit, dan mengasihi anak yatim; kedua, mendirikan gerakan perempuan bernama Aisyiyah tahun 1917 bersama dengan istrinya Siti Walidah.


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *