Kisah Abu Nawas: Menebak Kematian Hakim, Mendapatkan Hadiah 30 Keping Emas dari Raja Harun Ar Rasyid

Kisah Abu Nawas: Menebak Kematian Hakim
Kisah Abu Nawas: Menebak Kematian Hakim
banner 800x800 banner 678x960

Hajinews.id – Jika berbicara orang cerdas tapi bertingkah konyol, salah satunya yang terkanal di dunia Adalah Abu Nawas.

Dia adalah seorang penyair berkebangsaan Arab yang hidup di zaman Dinasti Abbasiyah, saat itu rajanya adalah Harun Ar Rasyid.

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Raja Harun Ar Rasyid sendiri adalah sosok yang cerdas dan murid Imam Malik. Namun Abu Nawas selalu punya cara lepas dari ‘jebakan’ raja.

Abu Nawas punya nama lengkap Abu-Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami.

Abu Nawas juga sezaman dengan Imam Syafii, ulama cerdas yang mendirikan madzhab Syafii. Imam Syafii sendiri juga murid dari Imam Malik.

Dikisahkan, bahwa tingkah lucu dan kontroversi Abu Nawas sempat membuat Imam Syafii tidak suka.

Namun saat Abu Nawas meninggal, Imam Syafii merasakan kehilangan dan sedih atas kepergian sang sufi tersebut.

Dikutip dari Youtube Humor Sufi Official, Raja Harun Ar Rasyid menyelenggarakan syukuran nama bayi.

Pada syukuran kali ini, baginda raja tidak mengundang Abu Nawas, karena dianggap akan mengacaukan acara.

Tetapi bukan Abu Nawas namanya jika kehabisan akal. Abu Nawas pun hadir meskipun tanpa diundang. Setibanya di istana, dia langsung membaur dengan tamu undangan.

Beberapa saat kemudian, Raja Harun Ar Rasyid mulai berpidato:

“Para hadirin sekalin, saya ingin mengumumka, mulai hari ini nama bayi ini adalah Jabnib,” kata baginda raja.

Tiba-tiba ada salah seorang diantara para tamu protes: “Jangan baginda, jangan diberi nama Jabnib.”

Ternyata tamu yang protes tersebut adalah Abu Nawas. Baginda raja pun kaget. “Bagaimana mungkin Abu Nawas datang kemari,” gumam Raja Harun Ar Rasyid.

Tapi baginda raja membiarkan kedatangan Abu Nawas. “Kenapa kamu protes atas nama yang aku berikan?” tanya baginda raja.

“Biasanya orang yang bernama Jabnib orangnya bodoh baginda. Lebih baik diganti dengan nama lain saja,” kata Abu Nawas tanpa beban.

Raja Harun Ar Rasyid merasa dipermalukan oleh Abu Nawas di depan para tamu undangan.

“Mana buktinya, kalau orang yang bernama Jabnib itu bodoh. Kalau kamu tidak bisa menjawab akan aku hukum pancung,” ancam baginda raja.

“Tentu saya bisa membuktikannya baginda. Baginda tahu hakim yang namanya Jabnib? dia hakim bodoh,” kata Abu Nawas.

“Tapi untuk membuktikan kebodohannya, saya membutuhkan 30 keping emas,” imbuh Abu Nawas.

Raja Harun Ar Rasyid pun menyetujui, karena bakal ada tontonan menarik dari Abu Nawas. Hari itu Abu Nawas pulang dengan 30 keping emas.

Besok harinya Abu Nawas datang ke rumah hakim Jabnib, dan membawa uang 10 keping emas.

Seampainya di rumahnya, sang hakim sedang berdzikir. Diam-diam Abu Nawas menyelipkan keping emas tersebut di bawah sejadah.

Lalu Abu Nawas tertawa terbahak-bahak. Sehinggan membuat sang hakim heran. “Kenapa kamu tertawa Abu Nawas,” kata hakim.

“Burungmu dalam sangkar itu berkata bahwa ada 10 keping emas di bawah sejdahmu,” kata Abu Nawas.

Dengan rasa ragu, hakim tadi menyingkap sejadahnya dan mendapati 10 keping emas. Dia kemudian tersenyum bahagia dan percaya kalau Abu Nawas mengerti bahasa burung.

Besok harinya Abu Nawas melakukan hal yang sama dengan membawa 10 keping emas.

Sementara hari ketiga, Abu Nawas tidak membawa keping emas. Saat ketemu hakim di rumahnya, Abu Nawas malah menangis, tidak seperti dua hari sebelumnya.

“Kenapa kamu mengis Abu Nawas?” kata sang hakim.

“Burungmu berkata, bahwa kamu akan mati besok,” kata Abu Nawas.

Sang hakim pun percaya saja sambil gemeteran. Tetapi sang raja meminta solusi pada Abu Nawas.

“Agar perkataan burungmu tidak terjadi, maka pura-pura matilah kamu,” kata Abu Nawas.

Sang hakim pun pura-pura mati, dan kabar kematiuannya pun di dengar oleh masyarakat banyak.

Singkat cerita, saat jasad hakim diusung menuju pemakaman, terpapaslah dengan raja. Raja kaget karena baru tahu kalu Hakim Jabnib sudah meninggal.

Raja pun membuka keranda melihat wajah hakim untuk terakhir kalinya. Ketika dibuka, hakim tersenyum ke baginda raja dan mengedipkan matanya.

“Kenapa hakim jabnib yang masih hidup kau katakan meninggal Abu Nawas?” kata Harun Ar Rasyid.

“Itulah bukti kebodohan Hakim Jabnib yang aku katakan tempo hari ketika syukuran,” kata Abu Nawas.

Mendengar jawaban Abu Nawas, raja ketawa terpingkal-pingkal. sementara warga yang dikerjain merasa kesal.


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *