Memoar Untuk Prof. Azyumardi Azra

Memoar Untuk Prof. Azyumardi Azra
Almarhum Azyumardi Azra bersama T. Mulya Lubis, Rizal Ramli dan Dien Syamsuddin semasa program magister di AS..

banner 800x800

banner 400x400

Oleh: Prof. Dr. Todung Mulya Lubis

Hajinews.id – Kemarin saya sudah membaca berita bahwa Azyumardi Azra dirawat dirumah sakit Kuala Lumpur karena nafas sesak, dan juga karena covid. Saya tak tahu apa ada penyakit lain. Pagi ini saya mendapat khabar bahwa Azyumardi telah menghembuskan nafas terakhirnya. Begitu cepat, hanya sehari setelah dia dirawat di rumah sakit.

Bacaan Lainnya

Dukacita menyelimuti banyak orang yang mengenalnya karena Azyumardi adalah orang baik, orang jujur, orang yang tak kemaruk, orang yang serius memikirkan rakyat dan bangsa. Dia adalah sosok yang menginginkan Indonesia tumbuh sebagai bangsa demokratis, menghormati keberagaman meski mayoritas penduduk menganut Islam. Buat Azyumardi Islam Indonesia adalah Islam yang ‘embracing’, Islam yang merangkul semua golongan, bukan Islam yang eksklusif atau hegemonis.

Saya tahu bahwa Azyumardi dipanggil Eddy oleh kawan-kawannya. Tapi ketika pertama kali saya ketemu Azyumardi tahun 1987 di tengah kota Boston saya sudah memanggilnya Azyumardi, dan sejak hari itu saya selalu memanggilnya Azyumardi. Saya terkesan dengan pemikirannya meski ketika bertemu kami hanya ngobrol beberapa waktu bersama Rizal Ramli dan Din Syamsuddin. Azyumardi sudah mengesankan dirinya sebagai seorang intelektual Islam yang progressif dan terbuka, seorang yang melihat Islam dalam kacamata besar peradaban dunia dimana Islam menjadi salah satu bagian yang punya peran besar.

Ketika Azyumardi kembali ke Indonesia kami sering bertemu dalam berbagai kegiatan hak asasi manusia dan juga penguatan demokrasi. Azyumardi bergabung sebagai anggota ‘Board’ International Crisis Group (ICG) ketika lembaga ‘conflict prevention’ itu didirikan di Indonesia. Bersama Sydney Jones dan yang lainnya kami membuat banyak laporan tentang potensi konflik di Indonesia baik karena perseteruan agama, etnisitas maupun militer. Laporan ICG mendapat sambutan luar biasa di setiap rapat ‘Board’ dimana saya selalu hadir mewakili Indonesia.

Kesan saya Azyumardi sangat tidak suka konflik apalagi perang. Ketika yayasan ICG ditutup, Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) lahir yang pada esensinya menjalankan peran yang sama, dan kami kembali berada dalam jajaran Board lembaga tersebut. Keberadaan Azyumardi jelas sebagai perwujudan dari komitmennya bukan saja terhadap terciptanya Indonesia yang damai tapi juga dunia yang damai.

Tahun-tahun saya menyelenggarakan Anugrah Hak Asasi Manusia Yap Thiam Hien (Yap Thiam Hien Award) peran Azyumardi juga tak bisa dilupakan. Beberapa kali Azyumardi menjadi anggota Dewan Juri untuk memilih siapa yang pantas mendapat Yap Thiam Hien Award. Kami sama-sama menginginkan agar sosok penerima Yap Thiam Hien Award itu juga bisa datang dari pesantren dan madrasah karena kami percaya bahwa dalam pesantren dan madrasah ada perjuangan hak asasi manusia. Terpilihnya KH Mustofa Bisri sebagai penerima Yap Thiam Hien Award juga berkat dukungan dari Azyumardi yang melihat pada diri KH Mustofa Bisri ada suara jernih menghormati universalitas hak asasi manusia. Pada puisi-puisi KH Mustofa Bisri meski ditulis dengan idiom-idiom Islam tapi menyinarkan nilai-nilai universal hak asasi manusia.

Azyumardi juga adalah salah satu tokoh intelektual Islam yang menyokong nominasi NU dan Muhammadiah untuk mendapatkan Nobel Peace. Bersama anggota parlemen, pejabat eksekutif, akademisi dalam dan luar negeri, dukungan terhadap NU dan Muhammadiah mengalir ke meja Komite Nobel Peace di Oslo. Dengan elegan Azyumardi menulis tentang islam Indonesia yang ‘damai, moderat, toleran, embracing dan pro kemajemukan’, dan NU dan Muhammadiah adalah tulang punggung Islam yang menyatukan keberagaman Indonesia dalam bingkai negara kesatuan. Tak berlebihan untuk menyebut bahwa keberadaan NU dan Muhammadiah adalah sesuatu ‘conditio sine qua non’ yang menyatukan Indonesia.

Bayangkan kalau di Indonesia tak ada NU dan Muhammadiah! Saya khawatir bahwa ekstrimisme Islam akan berkembang lebih kencang. Tema ini diangkat terus menerus oleh Azyumardi dalam dua kali seminar di OsloMet University dan di think-tank PRIO yang sangat berpengaruh itu. Dua minggu sebelum penerima Nobel Peace diumumkan nama NU dan Muhamadiah sudah berada dalam daftar calon penerima Nobel Peace yang dipertimbangkan. Sayang pemenang Nobel Peace tahun tersebut jatuh ke tangan Perdana Menteri Abiy Ahmed dari Ethiopia. Ironisnya setelah Abiy Ahmed menerima Nobel Peace konflik berdarah semakin meluas di Ethiopia. Indonesia yang mulai diserbu oleh kelompok Islam radikal dan ekstrim tetap aman dan damai antara lain berkat NU dan Muhammadiah. NU and Muhammadiah have always been under-appreaciated at the international fora.

Bung Azyumardi, terima kasih untuk semua sumbangsih intelektual dan keislaman yang telah engkau lakukan selama hidupmu. Indonesia kehilangan seorang sosok yang rendah hati, konsisten, berprinsip dan tak silau dengan uang dan kekuasaan. Beristirahatlah dengan tenang dan damai.


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.