Wow, Itsus Polri Akan Periksa Tiga Kapolda, Termasuk Irjen Fadil Imran?


banner 800x800

banner 400x400

Hajinews.id — Kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat bakal kembali menyeret sejumlah perwira tinggi (pati) dan perwira menengah (pamen) Polri. Inspektorat Khusus (Itsus) Mabes Polri dikabarkan segera memeriksa sejumlah jenderal bintang dua untuk dimintai keterangan seputar kasus pembunuhan Yosua.

Perwira tinggi yang masuk daftar pemeriksaan Itsus Mabes Polri adalah tiga Kapolda yang bertugas di Jawa dan Sumatera. Ketiganya bakal diperiksa dalam waktu dekat. ”Rencana (pemanggilan tiga Kapolda, Red) minggu depan,” kata sumber Jawa Pos yang enggan disebutkan namanya kemarin (16/8).

Bacaan Lainnya

Pemeriksaan tiga Kapolda tersebut dilakukan Itsus untuk mendalami dugaan merintangi proses hukum (obstruction of justice) dalam kasus pembunuhan Yosua. Di antara tiga Kapolda tersebut, kata sumber itu, keterangan Kapolda Metro Jaya dibutuhkan karena keterlibatan sejumlah pamen Polda Metro Jaya dalam olah tempat kejadian perkara (TKP) pada 8 Juli 2022.

Selain itu, narasi awal dalam keterangan pers Kapolrestro Jakarta Selatan menyebut kasus pembunuhan Yosua sebagai akibat dari tembak-menembak setelah Yosua melakukan pelecehan kepada Putri Sambo. Polrestro Jakarta Selatan dan Polda Metro Jaya juga telah memproses kasus dugaan pelecehan serta percobaan pembunuhan yang dilaporkan Putri Sambo hingga tahap penyidikan.

Penanganan dua kasus tersebut akhirnya diambil alih Mabes Polri. Belakangan tuduhan pelecehan yang dilaporkan Putri Sambo itu juga dimentahkan penyidik Mabes Polri dan dinyatakan sebagai bagian dari obstruction of justice.

Sebelumnya Kadivhumas Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo membenarkan bahwa 35 personel kepolisian ditengarai telah melanggar kode etik karena tidak profesional mengusut dugaan pembunuhan Yosua. Puluhan anggota itu diduga terlibat dalam rekayasa kasus dan menghilangkan barang bukti di TKP.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombespol Endra Zulpan menjelaskan, dari puluhan polisi yang diisolasi di Mako Brimob dan Biro Provos Mabes Polri tersebut, lima perwira di antaranya berdinas di Polda Metro Jaya. Lima perwira Polda Metro Jaya yang telah diisolasi itu adalah Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum AKBP Jerry Siagian, Kasubditresmob Ditreskrimum AKBP Handik Zusen, Kasubditkamneg Ditreskrimum AKBP Raindra Ramadhan Syah, Kasubditrenakta AKBP Pujiyarto, dan Kanit II Jatanras Kompol Abdul Rohim.

Sumber Jawa Pos menjelaskan, para perwira menengah tersebut sudah mengakui semua perbuatannya kepada Itsus. Mereka berdalih hanya menjalankan perintah dari dua orang atasannya di Polda Metro Jaya. ”Pengakuan itu valid. Setelah dilakukan pemeriksaan silang, keterangan itu berkesesuaian satu sama lain,” ujarnya.

Pengakuan para perwira polisi itulah yang membuat Itsus perlu meminta keterangan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Fadil Imran. Itsus juga akan meminta keterangan Fadil terkait narasi baku tembak di rumah dinas Sambo di Duren Tiga yang disampaikannya kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo pada 15 Juli lalu.

Hadir bersama Fadil dalam pertemuan dengan Kapolri tersebut dua Kapolda di wilayah Jawa dan Sumatera. Dua Kapolda itu mengaku datang ke Jakarta pada 15 Juli karena ditelepon salah satu perwira menengah di Mabes Polri.

”Itu dimanfaatkan Sambo sehingga seolah-olah narasi tembak-menembak tersebut mendapat dukungan dari Kapolri,” ungkap sumber itu.

Jawa Pos telah berupaya melakukan konfirmasi kepada dua Kapolda tersebut, tapi keduanya tidak menjawab pesan dari Jawa Pos. Permintaan konfirmasi juga telah disampaikan kepada dua kepala bidang humas polda di tempat dua jenderal bintang dua itu bertugas. Namun, dua Kabidhumas tersebut mengaku tidak mendengar rencana pemeriksaan itu.

”Silakan tanya ke Mabes Polri. Saya tidak monitor infonya,” ujar salah seorang Kabidhumas polda di wilayah Jawa tersebut.

Di sisi lain, pengacara keluarga Brigadir Yosua, Kamaruddin Simanjuntak, mengungkapkan adanya dugaan pencurian uang Rp 200 juta milik Yosua. Uang tersebut, kata Kamaruddin, ditransfer ke salah satu tersangka pembunuhan berencana. Hanya, Kamaruddin belum mau menyebut siapa tersangka yang dimaksud.

”Bukan diduga lagi, orang sudah tewas, tapi uangnya mengalir dari rekeningnya (Yosua, Red). Bayangkan kejahatan-kejahatan perbankan dan itu melibatkan perbankan,” ungkap Kamaruddin kepada awak media kemarin.

Sebelumnya Kamaruddin pernah menyatakan bahwa empat rekening milik Yosua diduga diambil Ferdy Sambo. Setelah Yosua tewas dibunuh, sempat terdeteksi adanya transaksi perbankan di rekening tersebut. ”Ada empat rekening dari mendiang ini yang dikuasai atau dicuri oleh terduga Ferdy Sambo dan kawan-kawan,” beber dia.(dbs)


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.