Hikmah Malam: Ketika Rasulullah Menegur Sahabat yang Memberatkan Umat


banner 800x800

banner 400x400

 

Hajinews.id – Salah satu prinsip yang ditegakkan agama Islam bagi pemeluknya adalah tidak memberatkan, termasuk dalam beribadah. Sebagai contoh, orang yang tidak mampu salat berdiri karena sakit maka bisa dengan sambil duduk.

Bacaan Lainnya

Jika dalam posisi duduk belum bisa maka shalat dengan sambil posisi tiduran miring menghadap ke arah kiblat. Jika masih tidak bisa lagi dengan tiduran miring maka bisa dengan posisi tidur terlentang. Dan seterusnya.

Berkali-kali Nabi SAW menegaskan bahwa Islam adalah agama yang membawa prinsip mulia ini, salah satunya adalah hadis berikut,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنْ الدُّلْجَةِ

Artinya, “Sesungguhnya agama itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulit agama kecuali dia akan dikalahkan (semakin berat dan sulit). Maka berlakulah lurus kalian, mendekatlah (kepada yang benar) dan berilah kabar gembira dan minta tolonglah dengan al-ghadwah (berangkat di awal pagi) dan ar-rauhah (berangkat setelah dhuhur) dan sesuatu dari ad-duljah (berangkat di waktu malam)”. (HR Bukhari).

Secara tegas sabda Nabi di atas mengatakan bahwa agama Islam memberi kemudahan bagi pemeluknya. Jikapun ada praktik agama atau ibadah yang terkesan memberatkan, biasanya karena memang seseorang tidak benar-benar memegang prinsip tersebut dengan baik.

Dilansir NU Online, berkali-kali Nabi menegur umatnya karena praktik agama yang dilakukannya memberatkan dirinya sendiri bahkan bagi orang lain. Seperti dikisahkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim terkait teguran Nabi untuk imam salat yang memberatkan jamaah.

Sekali waktu sahabat Nabi yang bernama Mu’adz menjadi imam salat untuk para jamaah, ternyata surat yang dibacanya adalah Al-Baqarah, sementara dalam jamaah itu ada banyak para pekerja yang sepanjang hari telah membanting tulang.

Para jamaah pun merasa keberatan dengan Mu’adz dan mengadukan hal itu kepada Rasulullah SAW. Mendengar aduan tersebut, Rasulullah segera menegur Mu’adz. Dalam satu riwayat Nabi berkata kepada Mu’adz,

اقْرَأْ وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا وَالضُّحَى وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى وَسَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ

Artinya, “Bacalah wasy syamsi wa dhuhaha (suat asy-Syams), ad-Dhuha, wallaili idza yaghsya (surat al-Lail), dan saabbihisma rabbika (surat al-A’la).” (HR Muslim)

Dari kisah di atas dapat dipetik hikmah bahwa agama Islam tidak pernah memberatkan umatnya. Andaikan praktik agama terasa memberatkan, maka memang karena ulah pemeluknya.

 


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.