Transformasi Pesantren

Transformasi Pesantren
Transformasi Pesantren

banner 800x800

banner 400x400

Oleh: Dr. Mohammad Nasih, M.Si., Guru Utama di Rumah Perkaderan Monasmuda Institute, Pengasuh Pondok Pesantren-Sekolah Alam Nurul Furqon (Planet NUFO), Mlagen, Pamotan, Rembang; Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ. ( Redaksi Ahli Hajinews.id )

Hajinews.id – Dunia telah mengalami perubahan. Dan di masa depan, perubahan akan terjadi dengan percepatan. Hanya yang mampu melakukan adaptasi terhadap perubahan dengan percepatan itulah yang akan mampu bertahan. Itu akan menjadi semacam mekanisme seleksi alam. Yang tidak melakukan penyesuaian diri, maka akan tumbang dan hilang ditelan zaman.

Bacaan Lainnya

Pondok pesantren termasuk salah satu yang harus melakukan penyesuaian diri karena adanya perubahan ini. Tentu saja yang dimaksud di sini adalah penyelenggara pendidikan di dalamnya, terutama pimpinan puncaknya, atau yang disebut kiai, ajengan, tuan guru, ustadz, dan lain sebagainya. Sudah terbukti, banyak pesantren, yang dulunya menjadi tempat belajar ratusan bahkan ribuan santri, kini bilik-biliknya kosong melompong. Padahal, saat ini, lembaga pendidikan yang sangat diperlukan sesungguhnya adalah model pesantren.

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan yang apabila dikelola dengan tepat, bisa menjadi lembaga pendidikan paling berpengaruh di masa depan. Sebab, pendidikan di dalamnya diselenggarakan tidak hanya full day, tetapi bisa dikatakan 24 jam dalam sehari semalam. Bukan hanya dari bangun tidur sampai tidur kembali, tetapi bahkan tidur pun adalah bagian dari materi dalam pendidikan. Sebab, pesantren adalah lembaga pendidikan Islam, agama yang memberikan paradigma dalam seluruh aspek kehidupan, bahkan tentang tidur.

Dalam ajaran Islam, Nabi Muhammad saw. adalah figur sentral yang menjadi teladan terbaik. Beliau memberikan contoh konkret dakwah, mulai dari dakwah secara kultural murni yang dijalaninya selama 13 tahun di Makkah dan kemudian juga ditambah dengan dakwah secara struktural setelah hijrah selama 10 tahun di Madinah. Panduannya tidak hanya urusan cara memperlakukan selilit atau sisa makanan yang menyangkut di sela-sela gigi, tetapi juga menjadi penguasa politik untuk memperbaiki negeri. Beliau juga memberikan teladan do’a menjelang dan setelah bangun tidur yang kalau dipahami secara komprehensif, akan bisa ditarik pelajaran paradigmatik tentang tidur, kaitannya sebagai tamsil kematian dan kebangkitan setelahnya. Hanya pondok pesantren yang mungkin untuk bisa memberikan pendidikan sekomprehensif itu.

Namun, untuk bisa menjalankan peran itu, pesantren harus mau dan mampu melakukan transformasi secara besar-besaran, dimulai dari perubahan paradigma sampai tindakan sehari-hari di lingkungan pesantren. Pesantren yang melakukan lima transformasi ini akan bisa eksis dan berperan menonjol dalam pendidikan Islam di masa depan.

Pertama, menguatkan paradigma saintifik. Islam adalah agama yang harus dipahami secara untuh dengan menggunakan tidak hanya dalil, tetapi juga data. Dalil diambil dari ayat-ayat dalam al-Qur’an dan juga hadits-hadits Nabi Muhammad saw.. Sedangkan data diambil dari alam semesta. Keduanya, dalil dan data sesungguhnya merupakan tanda-tanda, sebagaimana makna ayat dan alam yang adalah sama, yang harus dipahami sebagai satu kesatuan yang utuh.

Dalam konteks ini, harus dikembangkan sikap terbuka untuk mengoreksi penafsiran-penafsiran lama yang tidak sesuai dengan temuan-temuan saintifik yang memiliki tingkat akurasi tak terbantahkan lagi. Memang sains selalu berubah, tetapi ada perubahan karena salah, dan ada perubahan sekedar perkembangan. Yang kedua ini yang harus mendapat penekanan. Di antara contohnya adalah penafsiran al-Baqarah: 19 dalam kitab Tafsir Jalalain yang dijadikan sebagai kitab pegangan dasar dalam belajar al-Qur’an. Syaikh Jalaluddin al-Mahally menafsirkan kata ra’d (guruh) sebagai malaikat yang diberi kuasa atasnya atau suara malaikat. Padahal dalam ilmu fisika, petir terjadi karena adanya beda potensial yang besar sehingga terjadi lompatan dari potensial tinggi ke rendah atau sebaliknya. Semakin besar potensialnya, maka semakin besar kilatan listrik yang dihasilkan. Dan suaranya baru terdengar setelah kilatnya, karena kecepatan cahaya lebih tinggi dibanding kecepatan suara.

Gereja di abad kegelapan Eropa yang tidak mau menerima kebenaran saintifik yang disampaikan oleh para ilmuan alam harus menjadi pelajaran berharga. Pemisahan antara agama dengan sains terjadi di Eropa karena sikap tertutup para elite agama kepada temuan-temuan ilmiah baru. Akhirnya, agama kemudian dianggap sebagai mitos. Iman dianggap sebagai bagian dari irasionalitas. Padahal, al-Qur’an dan alam semesta sebagai firman Allah dan ciptaanNya pastilah cocok antara satu dengan yang lain, buku panduan dengan HPnya. Bahkan perintah di dalam al-Qur’an adalah melakukan pengamatan kepada makrokosmos maupun mikrokosmos, sampai bisa dipahami secara meyakinkan bahwa al-Qur’an adalah kebenaran.

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (Fushhilat: 53).

Ayat ini menegaskan bahwa justru data saintifik adalah bukti bahwa al-Qur’an adalah kebenaran. Kebenaran yang nampak di sini adalah kebenaran tentang segala pernyataan yang bersifat verifikatif tentu saja. Dari sini, akan terbentuk sebuah kerangka berpikir bahwa jika semua pernyataan yang bersifat verifikatif di dalam al-Qur’an terbukti benar, maka pernyataan-pernyataan atau informasi yang bersifat unverifikatif, juga adalah kebenaran yang sama. Hanya saja, yang bersifat unverifikatif itu masuk dalam kategori yang ghaib yang termasuk dalam kategori yang membutuhkan iman. Dalam kerangka pikir inilah, iman bagi seorang muslim menjadi sangat rasional. Semua dimulai dari ketidakterbantahan bahwa al-Qur’an merupakan kebenaran dari Allah Swt..

Kedua, melakukan inovasi dan bahkan kreasi cara mendidik dan mengajar yang sesuai dengan perkembangan sains dan teknologi. Perkembangan terutama teknologi yang makin revolusioner harus dimanfaatkan secara optimal oleh pesantren, di antaranya yang paling penting adalah untuk transfer ilmu sebagai inti aktivitas di pesantren. Teknologi rekaman yang sekarang sudah menjadi fasilitas biasa, karena menjadi salah satu menu di setiap HP, mestinya bisa dijadikan sebagai sarana untuk membuat santri memiliki akses yang lebih baik pada materi ajar pengasuh dan pendidik di pesantren. Lebih baik lagi jika bisa digunakan untuk mengakses referensi-referensi yang dulu tidak mungkin bisa diakses karena keterbatasan biaya. Ini soal ketepatan dalam memandu para santri agar mereka memanfaatkan teknologi secara tepat guna.

Dengan kapasitas dan daya serap yang berbeda-beda dan pada umumnya perlu pengulangan, maka alat rekam yang sudah diproduksi massal ini menjadi sangat membantu. Jika guru diminta untuk mengulang berkali-kali karena santri atau murid tidak paham-paham materi yang disampaikan, maka kemungkinan kelelahan dan memancing emosi menjadi sangat tinggi. Namun, jika alat rekam yang dijadikan sebagai sarana untuk melakukan pengulangan, maka sampai ratusan kali pun, ia tidak akan mengalami kebosanan atau kemarahan. Yang diperlukan adalah memanfaatkan berbagai sarana hasil perkembangan sains dan teknologi secara optimal, bukan malah menjauhkannya, sehingga justru menyebabkan kesulitan. Sebab, tujuan dasar pengembangan sains dan terutama teknologi adalah agar manusia mendapatkan lebih banyak kemudahan.

Ketiga, mengintegrasikan diri dengan sistem pendidikan nasional. Dulu ini menjadi masalah, karena relasi kalangan pesantren dengan pemerintah kurang harmonis. Namun, sekarang keadaannya sudah sangat berubah. Memang langkah integrase ini sudah dilakukan oleh sebagian pesantren. Di antaranya bahkan dengan cara mendirikan sekolah atau madrasah berkurikulum sama dengan kurikulum nasional, sehingga para santri-murid memiliki peluang untuk melanjutkan pendidikan di universitas mana saja, tanpa batasan. Namun, masih ada juga yang tidak melakukannya, karena berbagai penyebab, bukan hanya soal kemauan, tetapi juga kemampuan. Jika pun masih bisa bertahan, karena tidak mau mati, tetapi hidup pun segan. Jumlah santrinya hanya beberapa gelintir dan minim dinamika aktivitas keilmuan.


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.