Hikmah Malam : 5 Jenis Ibadah Punya Kekuatan Ajaib Sembuhkan Penyakit


banner 800x800

banner 400x400

 

Hajinews.id – Sejumlah ibadah memiliki kekuatan untuk menyembuhkan penyakit. Beberapa di antaranya adalah Shalat Tahajjud, Shalat Subuh, gerakan-gerakan shalat, Puasa, dan Ruqyah. Beberapa amaliah ibadah yang disyariatkan dalam Islam tersebut mampu memangkas cengkeraman maut penyakit terhadap tubuh manusia.

Bacaan Lainnya

Tentu berdasarkan penelitian dan pengalaman empiris manusia. Ibadah yang disertai dengan gerakan atau amalan fisik, seperti shalat dan puasa, mungkin sudah diakui secara empiris banyak orang mengenai keampuhannya mencegah dan mengobati penyakit.

Namun, yang jauh luar biasa lagi, adalah penyembuhan penyakit dari ibadah tanpa gerakan fisik. Contohnya, doa dan sedekah khususnya kepada fakir miskin dan anak yatim. Bagaimana hal itu bisa dibuktikan dan bagaimana penjelasannya? Berikut ini pemaparannya dikutip dari buku berjudul “Berobat dengan Sedekah” karya Muhammad Albani, diterbitkan Insan Kamil.

Terapi Shalat Tahajjud

Rasulullah SAW bersabda, “Kerjakanlah shalat malam (tahajud) oleh kalian, karena ia adalah tradisi orang-oeang shalih sebelum kalian, sebagai sarana yang dapat mendekatkan kalian kepada Rabb kalian, menghapuskan berbagai keburukan, mencegah dari perbuatan dosa, serta mengusir penyakit dari dalam tubuh.” (HR Tirmidzi)

Ada empat manfaat agung dari shalat tahajjud berdasarkan hadits di atas, yakni, mendekatkan kalian kepada Allah Ta’ala, menghapuskan berbagai keburukan, mencegah perbuatan dosa, dan mengusir penyakit dari dalam tubuh. Aspek terakhir di atas menjadi fokus bahasan, yakni shalat tahajjud sebagai sarana pengobatan.

Sebuah hasil penelitian ilmiah, dilakukan oleh dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya, Muhammad Sholeh. Penelitian ini dilakukan untuk meraih gelar doktor dalam bidang Psikoneuroimunologi dari Program Pasca Sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya. Judulnya: Pengaruh Shalat Tahajjud terhadap Peningkatan Perubahan Respons Ketahanan Tubuh Imunologik, Suatu Pendekatan Psikoneuroimunologi.

Sholeh melakukan penelitian terhadap 41 siswa SMU Lukmanul Hakim Ponpes Hidayatullah Surabaya yang secara rutin mendirikan shalat tahajjud. Shalat tahajjud dilaksanakan pada pukul 02.00-03.30 sebanyak 11 rakaat. Yaitu dua rakaat-dua rakaat dan ditutup dengan shalat witir tiga rakaat.

Dari 41 siswa, tertinggal 23 orang yang rutin melakukan shalat tahajjud selama sebulan penuh. Lalu pada bulan kedua, tertinggal 19 siswa yang rutin melakukan shalat tahajjud selama dua bulan penuh. Selanjutnya, hormon kortisol (hormon stres) dari 19 siswa tersebut diperiksa di tiga laboratorium di Surabaya: Paramitha, Prodia, dan Klinika.

Bagaimana hasilnya? Para siswa yang shalat tahajjud dengan rutin berbeda dengan yang tidak beraturan. Para siswa yang rutin shalat tahajjud terbukti memiliki hormon kortisol (hormon stres) yang rendah. Dengan begitu, mereka memiliki ketahanan tubuh yang kuat dan kemampuan individu yang tangguh, sehingga mampu menanggulangi masalah-masalah yang sulit dengan lebih stabil.

Shalat tahajjud yang dilakukan di waktu yang sunyi, menurut Sholeh, bisa mendatangkan ketenangan. Ketenangan itu mampu mendatangkan ketahanan tubuh imunologik, mengurangi risiko terkena penyakit jantung, dan meningkatkan usia harapan hidup.

Sebaliknya, bentuk-bentuk tekanan mental seperti stres maupun depresi membuat seseorang rentan terhadap berbagai penyakit, infeksi, mempercepat perkembangan sel kanker, dan meningkatkan metastasis (penyebaran sel kanker). Tekanan mental itu sendiri terjadi akibat gangguan irama sirkadian (siklus biometrik manusia) yang ditandai dengan peningkatan hormon kortisol. Hormon kortisol biasanya dijadikan sebagai tolok ukur untuk mengetahui kondisi seseorang, apakah ia terserang stres, depresi, atau tidak.

Shalat tahajjud mengandung aspe meditasi dan relaksasi sehingga dapat digunakan sebagai coping mechanism atau pereda stres yang akan meningkatkan ketahanan tubih seseorang secara natural. Namun, ada catatannya. Lakukan shalat tahajjud dengan tulus, ikhlas, tanpa rasa terpaksa atau terdesak. Lakukan secara rutin atau kontinyu. Jika tak sanggup langsung 11 rakat, bisa kurang dari itu. Biar sedikit asal rutin. Jika sudah terbiasa, jumlah rakaatnya sebaiknya ditambah, atau durasinya lebih lama lagi.

Sebab, jika shalat tahajjud tidak dilaklukan dengan ikhlas, yaitu dengan perasaan berat dan terpaksa, justru itu akan mendatangkan stres. Kenapa harus ikhlas dan kontinyu? Yaitu untuk menjaga homeostasis atau daya adaptasi terhadap perubahan pola irama pertumbuhan sel yang normal. Nah, keikhlasan dalam shalat juga bisa diuji dengan memonitor irama sirkadian, terutama pada hormon kortisolnya.

Menurut Sholeh, jika ada orang justru sakit karena mendirikan shalat tahajjud, maka bisa dipastikan ia kurang ikhlas. Artinya, tidak tulus, terpaksa, atau terbebani. Sehingga ia gagal terhadap perubahan irama sirkadian tersebut. Niat yang tidak ikhlas akan menimbulkan kekecewaan, persepsi negatif, dan rasa tertekan. Nah, perasaaan negatif dan tertekan itu bisa menjadikan seseorang rentan terhadap serangan stres.

Dikatakan juga, bahwa kanker adalah pertumbuhan sel yang tidak normal. Dengan shalat tahajjud yang ikhlas dan kontinyu, dapat merangsang pertumbuhan sel dengan normal. Insya Allah, pengamal shalat tahajjud yang ikhlas dan niat lurus, akan terbebas dari penyakit kanker.

Untuk diketahui juga, respons emosional yang positif atau coping mechanism dari pengaruh shalat tahajjud ini berjalan mengalir dalam tubuh dan diterima oleh batang otak. Setelah diformat dengan bahasa otak, kemudian ditransmisikan ke salah satu bagian otak besar, yakni Talamus. Kemudian Talamus menghubungi Hipokampus (pusat memori yang vital untuk mengkoordinasikan segala hal yang diserap indera) untuk mensekresi GABA yang bertugas sebagai pengontrol respons emosi, dan menghambat acetylcholine, serotonis, dan neurotransmiter yang lain yang memproduksi sekresi kortisol.

Intinya, shalat tahajjud itu adalah shalat sunnah muakkad. Firman Allah SWT:

وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِۦ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS Al-Isra: 79)

Menurut Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pada sebagian malam, yaitu sepertiga malam terakhir, dirikanlah shalat tahajjud seusai tidur wahai Nabi, sebagai suatu kewajiban tambahan bagimu setelah shalat-shalat fardhu. Barangkali Allah akan membangkitkan dan mendirikanmu pada hari kiamat di maqam terpuji yang mana kamu dipuji-puji oleh seluruh manusia, yaitu maqam syafaat yang agung dalam menentukan suatu hukum

Menurut As-Sa’di, Firman Allah SWT, “Dan pada sebagian malam hari maka shalat tahajudlah kamu,” maksudnya shalatlah pada sisa waktu malam “sebagai suatu ibadah tambahan bagimu,” maksudnya agar shalat malam menjadi tambahan bagi tingginya kedudukan dan derajatmu. Berbeda dengan orang selainmu, maka shalat malam itu sebagai penghapus atas kesalahan-kesalahannya.

Pengertian ayat ini juga mengandung makna shalat lima waktu itu merupakan kewajiban atas kaum Mukminin. Berbeda dengan shalat malam, maka itu adalah kewajiban yang dikhususkan. Ini adalah kemuliaan di sisi Allah, sehingga Allah menjadikan memberikan ibadah tambahan supaya pahalanya menjadi banyak. Dengan itu, kita bisa mencapai al-Maqam al-Mahmud (kedudukan terpuji di sisi Rabbmu).

al-Maqam al-Mahmud merupakan kedudukan yang dipuji-puji oleh orang-orang yang terdahulu dan yang akan datang, yaitu kedudukan bisa memberi syafaat tertinggi, tatkala seluruh makhluk meminta syafaat kepada Nabi Adam, kemudian Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa, mereka semua mengemukakan udzur darinya. Hingga mereka meminta syafaat dari pemimpin anak keturunan Adam, supaya Allah mengasihi mereka dari kegelisahan dan kesusahan pada waktu itu.


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.