Waduh! Gubernur BI: Ekonomi Dunia Menurun Menuju Stagflasi atau Resesi di Berbagai Negara

banner 800x800 banner 678x960

Hajinews.id — Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyoroti perekonomian dunia yang sedang bergejolak. Menurutnya, beberapa negara saat ini sudah masuk dalam resesi dan menuju stagflasi.

“Dunia saat ini sedang bergejolak, ekonomi dunia pun sedang menurun menuju stagflasi atau resesi di berbagai negara,” kata Perry dalam acara Kick Off Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) secara virtual, Rabu (10/8/2022).

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Bahkan, dia mencatat harga-harga komoditas saat ini sangat tinggi. Harga minyak menyentuh 101 dolar AS per barel, harga pangan melambung tinggi di seluruh dunia, dan suku bunga di berbagai negara maju naik sangat tinggi.

“Belum lagi masalah geopolitik, perang Rusia-Ukraina, di mana kedua negara tersebut adalah pemasok 20 persen energi dan pangan global. Itulah kenapa harga pangan dan energi global naik tinggi. Inilah yang kita hadapi, dunia sedang bergejolak,” ujar Perry.

Meski tidak ada serangan langsung terhadap Indonesia, tetapi Indonesia terkena dampaknya.

“GNPIP ini sangat penting supaya Indonesia terus melaju mengembangkan ekonomi menuju Indonesia Maju, harga-harga pangan terkendali, dan rakyat sejahtera. Ini sangat penting,” ujarnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, sinergi pemerintah pusat dan darah dengan BI, serta lembaga sangat baik, sehingga ekonomi Indonesia bisa tumbuh sangat tinggi 5,44 persen pada kuartal II 2022.

“Tapi ini belum pulih karena rakyat baru mulai bisa makan enak setelah Ramadan kemarin, sebelumnya belum bisa makan enak karena ada pandemi Covid-19,” ucap Perry.

Dia menuturkan PDB 5,44 persen tersebut patut disyukuri. Apalagi, raksasa ekonomi dunia seperti China tahun ini hanya tumbuh 3,3 persen. Negara-negara lain pun tumbuhnya lebih rendah.

“Yang menjadi masalah adalah inflasi. Inflasi kita sudah hampir mencapai 5 persen, masih lebih rendah dari negara lain, tapi kalau kita lihat, inflasi paling tinggi jika dipecah adalah dari inflasi pangan, 10,47 persen,” tuturnya.

Dia menyebutkan, seharusnya angka inflasi pangan tidak boleh lebih dari 5 persen atau paling tinggi 6 persen.

“Ingat, inflasi pangan itu adalah masalah perut, masalah rakyat. Ini bukan masalah ekonomi saja, tapi masalah sosial dan masalah bagaimana nanti seterusnya jangan sampai ada masalah politik. Jadi mohon inflasi ini, layaknya kita menjaga kemerdekaan, jangan sampai daya beli masyarakat itu turun karena inflasinya, kita harus turunkan paling tidak jadi 5 persen,” tutur Perry.(dbs)


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *