Sadis! Ketua IPW: Brigadir J Disayat Saat Berdiri, Kemudian Dieksekusi

Brigadir J (foto istimewa)

banner 800x800

banner 400x400

Hajinews.id — Ketua Police Watch (IPW) Sugeng Teguh Santoso pun ikut angkat suara mengenai kasus Brigadir J.

Sugeng mengatakan, sejak awal kematian Brigadir J diumumkan ke publik, ia sudah merasa aneh dengan kasus tersebut.

Bacaan Lainnya

“Alasannya katanya Brigadir J melakukan pelecehan terhadap Nyonya Putri dan juga pengancaman. Kemudian dia menembakkan 7 peluru, ditembak 5 peluru. Ini sudah aneh,” kata Sugeng, sebagaimana dikutip dari seputar tangsel.

Sugeng mengaku, saat kasus itu diumumkan ke publik, ia langsung mendapatkan informasi mengenai luka sayatan di wajah Brigadir J.

Melihat luka-luka di tubuh Brigadir J, ia menilai hal tersebut tidak sesuai dengan informasi yang disampaikan oleh pihak kepolisian.

Termasuk mengenai adanya baku tembak antara Brigadir J dan Bharada E di rumah mantan Kadiv Propam Polri, Irjen Ferdy Sambo pada Jumat, 8 Juli 2022.

“Tapi informasinya ditembak, sudah gak matching,” tuturnya, dikutip SeputarTangsel.com dari kanal YouTube Refly Harun, Sabtu, 6 Agustus 2022.

Sugeng pun mempertanyakan seorang yang sudah dua tahun bekerja sebagai ajudan Ferdy Sambo sekaligus sopir pribadi berani melakukan pelecehan seksual.

“Yang saya berfikir adalah orang ini pada saat melakukan itu, terjadi perubahan psikologis mendadak. Mungkin dia minum obat atau kesambat, (gak mungkin dalam keadaan) ordinary,” ucapnya.

Ia menjelaskan, untuk melakukan profiling terhadap psikologis seseorang, hal ini bisa dilakukan melalui alat komunikasi.

Namun, lagi-lagi kejanggalan ditemukan dari komunikasi Brigadir J dengan keluarga.

Hanya berselang beberapa jam sebelum kejadian, Brigadir J mengaku kepada keluarga bahwa dirinya disayang oleh keluarga Ferdy Sambo.

“Jadi yang saya lihat, ini ada yang ganjil. Dan juga biasanya tindakan pelecehan seksual kan (dilakukan) dari orang yang posisinya tinggi kepada bawah, subordinatif. Ini tidak. Jadi ya saya bilang ini ada keanehan, makanya saya bilang dua, TGFP (Tim Gabungan Pencari Fakta) dan nonaktif (Ferdy Sambo),” ujarnya.

Meski menurut Sugeng saat ini TGPF telah dibentuk Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo berupa tim khusus (Timsus) untuk mengusut kasus Brigadir J, tetapi tim tersebut sifatnya hanya koordinatif.

“Karena tidak jelas secara terbuka kewenangannya sampai di mana,” ucapnya.

Lebih lanjut, Sugeng mengungkapkan ada luka tembak dan bekas penganiayaan di tubuh Brigadir J.

Karenanya, hal ini harus dijadikan sebagai faktor penyebab kematian.

“Dia menembak 7 peluru, ditembak mati, kemudian dilukai mukanya. Gak match, sudah mati kok,” ungkapnya.

Berdasarkan luka-luka yang ada di tubuh jenazah, Sugeng menduga Brigadir J mendapat luka sobekan dalam posisi berdiri.

Ia curiga, hal itu dilakukan oleh pelaku dengan rasa jijik dan marah sehingga Brigadir J sengaja disayat dari jarak dekat.

“Jadi info dia melakukan 7 tembakan, kira-kira logis gak? Itu sudah gak masuk akal, bos,” tegas Sugeng.

Menurutnya, setelah disayat dari jarak dekat, Brigadir J langsung dieksekusi tanpa perlawanan.


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.