Petinggi SMRC Offside

Petinggi SMRC
Ady Amar, Kolumnis

banner 800x800

banner 800x800

banner 400x400

Permainan yang ditampilkan petinggi SMRC, itu seperti mereka yang tidak paham saja teori dasar pembentuk elektabilitas. Sehingga tampak bersemangat men-down grade elektabilitas seorang Anies Baswedan dengan cara awam. Pastilah itu sia-sia.

Oleh: Ady AmarKolumnis

Bacaan Lainnya

Hajinews.id – Tidak banyak lembaga survei yang tidak “bermain” politik. Hampir semua tampaknya demikian. Meski ada juga lembaga survei yang masih on the track, yang tidak nakal dengan bekerja mengatrol hasil survei mereka yang membayarnya.

Tapi tampaknya lebih banyak lembaga survei yang  sebaliknya. Bahkan para petingginya bekerja lebih dari itu. Mencoba mempengaruhi publik dengan opini yang ditebar, guna mengecilkan, bahkan mengolok-ngolok tidak semestinya kandidat yang dianggap potensial memenangkan perhelatan  pilkada/pilpres.

Tidak cukup kandidat itu diserang personalnya, tapi perlu dibidik pula keluarganya. Dilihat apa yang dianggapnya kurang, dan itu dijadikan bahan gorengan. Berharap membuat elektabilitas kandidat itu tersungkur.

Anies Baswedan kandidat potensial pada Pilpres 2024, yang selalu diganggu dengan tidak sewajarnya. Tidak cukup diganggu dengan permainan angka hasil survei. Tapi lebih dari itu. Misal beberapa petinggi lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) perlu terbuka mengganggu Anies Baswedan dengan opini pembusukan.

Prof. Saiful Mujani, founder SMRC, itu misal perlu bicara dengan opini tidak sebenarnya tentang Anies Baswedan lewat Twit-nya. Meskipun ia tidak terang-terangan menyebut nama. Tapi publik paham, bahwa itu jelas ditujukan pada Anies Baswedan. Begini isi Twit-nya:

teman yg komunitasnya sering jadi sasaran intoleransi bilang: “gubernur itu sekarang inklusif terhadap berbagai kelompok agama.” saya bilang: “kl ga ngerti bodoh aja. orang itu jangankan nyabanin greja, disuruh makan babi pun akan dia makan kalau bisa jamin dia jadi presiden.” 🙏 (Sengaja tidak diubah sedikit pun isi Twit-nya sampai pada huruf yang semestinya huruf besar tertulis kecil, tetap ditulis sebagaimana adanya).

Semua orang pastilah tahu sasaran opini itu. Banyak komen menyayangkan petinggi SMRC, yang mesti nyambi sebagai influencer atau buzzer. Opini yang dibuat serasa penuh kebencian khas buzzer. Seperti orang kehilangan akal sehat saja, yang lalu main kasar membuat opini buruk tentang Anies Baswedan.

Prof. Saiful Mujani seperti kehabisan cara untuk membuat elektabilitas Anies mengecil. Segala cara lewat metode survei telah dilakukan, tapi rasanya tidak membuat elektabilitas Anies tergerus. Anies tetap kokoh setidaknya di 3 besar. Bahkan pada lembaga survei tertentu Anies ada di 2 besar, bahkan bertengger teratas.

Apa yang dilakukan itu seperti ikhtiar menjatuhkan Anies tidak lewat lembaga survei. Tapi lewat opini, yang dianggap mampu membuat citra buruk pada Anies Baswedan. Dianggap bisa menggerus elektabilitas Anies. Meski belum berhasil. Elektabilitas Anies tidak mengecil, jika tidak mau dikatakan justru menguat.

Membuat opini di luar lembaga survei sepertinya sudah jadi pilihan petinggi SMRC. Main pada dua kaki. Lewat hasil rilis survei, dan lewat opini pembusukan yang disebar. Itu juga bisa dilihat dari apa yang disampaikan Saidiman Ahmad, peneliti senior pada SMRC. Saidiman perlu membuat opini, dan itu tentang Mutiara Annisa Baswedan (Tiara), putri Anies Baswedan, yang pekan kemarin melangsungkan resepsi pernikahan.

Saidiman Ahmad sampai perlu bantuan “menggaet” Najwa Shihab segala. Menyamakan Tiara dengan Najwa, yang sama-sama tidak mengenakan hijab. Soal itu semua orang sudah tahu. Hanya saja Saidiman ingin memberi tekanan, bahwa Anies tidak bisa “mendidik” sang putri untuk mau mengenakan hijab. Dan itu dikesankan sebagai kegagalan.

Motif Saidiman Ahmad pastilah ingin membenturkan Anies dengan kelompok Islam yang selama ini mendukungnya. Setidaknya untuk itu, ia berupaya keras. Ini yang dilakukan petinggi SMRC, menebar opini busuk. Dan itu untuk memuluskan kandidat yang dijagokannya. Sedang Najwa hanya dipakai sebagai pelengkap disandingkan dengan Tiara, agar opini yang dibuat tak tampak kasar.

Permainan yang ditampilkan petinggi SMRC, itu seperti mereka yang tidak paham saja teori dasar pembentuk elektabilitas. Sehingga tampak bersemangat men-down grade elektabilitas seorang Anies Baswedan dengan cara awam. Pastilah itu sia-sia.

Karakter Anies akan terus dirusak dengan cara kasar. Tidak dicukupkan pada Anies, tapi menyasar juga orang-orang disekeliling Anies. Laku petinggi SMRC itu offside. Keluar dari kode etik seharusnya.

Tidak perlu dicari SMRC bekerja untuk siapa. Tidak perlu diungkap meski secara samar. Menaikkan elektabilitas, mereka yang membayar, jadi keharusan mayoritas lembaga survei, tidak cuma SMRC. Bahkan tidak cukup sampai disitu. Perlu juga dibuat opini “manis-manis” tentang kandidat yang membayarnya, guna mempengaruhi pilihan masyarakat. Semua dibuat menjadi terang-benderang: tentang keberpihakan dan sebaliknya.

Tentang SMRC dan lembaga survei lainnya itu bekerja untuk kandidat siapa, dan karenanya perlu menggiring opini menjatuhkan kandidat lainnya, itu bisa dilihat lewat jejak digitalnya. Hal mudah untuk melacaknya, tentu jika berkehendak.


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.