Ngeri! Resesi Mengancam, Ternyata Bisa Lebih Parah dari Tahun 1998


banner 800x800

banner 800x800

banner 400x400

Hajinews.id — Krisis energi, pangan, dan keuangan membuat situasi sepanjang 2022 menjadi tak pasti yang akhir berujung pada resesi global.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Manap Pulungan memandang resesi global telah terjadi sejak awal tahun ini, karena saat itu, ekonomi global mengalami penurunan pertumbuhan yang diikuti dengan peningkatan inflasi atau stagflasi.

Bacaan Lainnya

Stagflasi adalah kondisi dimana pertumbuhan ekonomi cenderung stagnan bahkan turun, dibarengi dengan inflasi yang tinggi.

Peningkatan risiko stagflasi membuat resesi ekonomi akan sulit dihindari. Risiko stagflasi cukup besar dengan konsekuensi yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi negara berpenghasilan rendah dan menengah.

“Stagflasi akan sangat berbahaya karena dari sisi permintaan akan menggerus daya beli masyarakat, sementara dari sisi penawaran tenaga kerja akan berisiko pada pemutusan hubungan kerja (PHK),” jelas Abdul dikutip dari CNBC Indonesia, Senin, 01 Agustus 2022.

Ketika inflasi meningkat, berarti biaya input produksi bagi perusahaan akan meningkat. Pada satu sisi, produsen tidak bisa langsung menaikkan harga barang pokoknya, karena daya beli sedang rendah.

Abdul juga menjelaskan gejolak ekonomi global saat ini akan menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah atau depresiasi. Ketika depresiasi terjadi, semua agenda ekonomi akan terpengaruh.

“Pengaruh terhadap orang-orang kaya atau pengusaha itu terlihat dari lonjakan produksi biaya perusahaan mereka,” jelas Abdul.

“Bagi kita rakyat jelata ini kenanya lewat harga barang-barang pokok yang kita beli, kan sebagian besar bahan makanan kita diimpor, misalnya kedelai.” tambahnya.

Menurut Abdul krisis ekonomi yang akan terjadi, dampaknya akan lebih parah dari krisis 1998 dan 2008.

“Kalau krisis 1998 hanya terjadi di kawasan Asia. Sementara di luar Asia itu dia ekonominya rebound karena waktu itu ada kenaikan harga komoditas. Sama juga dengan 2008, yang terkena paling signifikan itu AS, tapi yang terkena kan hanya sektor keuangan, sementara sektor riil bisa bergerak,” jelas Abdul.

Nah, yang terjadi sekarang, situasi itu terbalik, di saat pandemi melanda semua sektor ekonomi mengalami penurunan. Ditambah lagi adanya gejolak geopolitik Rusia-Ukraina, yang diikuti melonjaknya harga komoditas dan inflasi.

“Akumulasi itu lah yang menyimpulkan situasi sekarang yang tidak baik-baik saja. Akan lebih buruk dibandingkan krisis ’98 dan 2008,” ujarnya.

Oleh karena itu, Abdul menyarankan agar otoritas terus meningkatkan ekonomi di dalam negeri. Harga-harga komoditas yang diatur pemerintah, agar ditahan dulu kenaikannya.

Implikasinya memang akan menggerogoti fiskal, tetapi jika harga-harga komoditas ditransmisikan kepada konsumen atau masyarakat, Abdul mengatakan ekonomi Indonesia akan sulit tumbuhnya dan masyarakat akan semakin menderita.

Sebelumnya World Bank, dalam laporan terbarunya bertajuk Global Economic Prospects edisi Juni 2022, menggambarkan rumitnya kondisi saat ini. Mereka memperingatkan resesi ekonomi muncul bersamaan dengan stagflasi akibat pandemi Covid-19, ditambah perang Rusia-Ukraina.

Bank Dunia bahkan menyebut, situasi sekarang memiliki banyak kemiripan dengan dekade 1970-an dimana gangguan sisi pasokan yang terus-menerus didahului oleh kebijakan moneter yang akomodatif di negara-negara maju.(dbs)


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.