Kepala UPT Perpustakaan IAIN Kudus Raih Doktor

Kepala UPT Perpustakaan IAIN Kudus Raih Doktor
FOTO BERSAMA: Kepala UPT Perpusatakaan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus Anisa Listiana foto bersama Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Prof Dr Abdul Ghofur dan para tim penguji usai ujian terbuka promosi doktor, Kamis (30/6).

banner 800x800

banner 800x800

banner 400x400

SEMARANG, Hajinews.id – Kepala UPT Perpustakaan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus Anisa Listiana meraih gelar doktor, Kamis (30/6). Anisa menyampaikan desertasi berjudul ‘’Berdamai Bersama Keadaan. Studi tentang Laku Spiritual sebagai Model Keagamaan Pengikut Syeh Jangkung di Wilayah Pesisir Utara Jawa Tengah’’.

Ujian terbuka promosi doktor dipimpin Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Semarang Prof Dr Abdul Ghofur dan Sekretaris Dr H Muhyar Fanani MAg. Promotor sekaligus penguji Prof Dr H Mudjahirin Thohir MA, Co Promotor Dr H Agus Nurhadi MA. Penguji eksternal Prof Dr H Supiyana MAg. Tiga penguji lainnya yaitu Dr H Abdul Muhayya MA, Dr H In’amuzzahidin MAg dan Dr H Sholihan MAg. Menurut Abdul Ghofur, Anisa merupakan Doktor Ke-243 UIN Walisongo Semarang.

Bacaan Lainnya

Kepala UPT Perpustakaan IAIN Kudus Raih Doktor

Menjawab pertanyaan salah satu penguji, Anisa Listiana mengatakan, perilaku spiritual di zaman kehidupan modern akan semakin laris dan dilakukan banyak orang. ‘’Persoalan makin rumit dan tumpang tindih, membutuhkan solusi pemecahannya. Salah satu yang bisa dilakukan laku spiritual seperti yang dilakukan pengikut Syeh Jangkung atau Saridin,’’ kata aktivis Muslimat NU itu.

Promotor merangkap penguji Prof Dr Mudjahirin Thohir MA menilai desertasi Anisa Listiana yang bersentuhan dengan dunia ghaib perlu diperdalam lagi di lingkungan UIN Walisongo Semarang. ‘’Banyak orang menyelesaikan masalah lari ke dunia ghaib, Memang tidak bisa dinalar tapi bisa dijawab secara ilmiah. Inilah salah satu bagian tugas doktor UIN Walisongo. Kosep berkah, ada Qulhu kuwalik, shalawat kepepet, bagaimana menarasikan secara akademik yang menuntut berpikir rasionalis dan empirik,’’ kata Guru Besar Antropologi Undip itu.

Hadir pada kesempatan itu mantan Rektor IAIN Kudus Prof Dr Mudzakir, mantan Wakil Rektor Prof Dr Supaat, suami Slamet Syaifuddin MAg MPd dan dua anaknya Ziyan Falichun Najed dan Zivanna Dafifa Nadvi.

Syeh Jangkung

Anisa Listiana dalam desertasinya mengatakan, Syekh Jangkung atau Saridin merupakan salah satu tokoh yang mendapatkan sebutan waliyullah oleh masyarakat, utamanya di wilayah pesisir utara Jawa Tengah.  Namun unik dan berbeda dari tokoh yang mendapat sebutan Waliyullah di pesisir utara Jawa.

‘’Dia tidak masuk dalam kategori Walisongo, namun makamnya banyak diziarahi sebagaimana makam Walisongo lainnya. Para pengikutnya menempatkan Syekh Jangkung sebagai seorang yang  mengajarakan laku spiritual keagamaan. Laku spiritual tersebut sebagai  aktivitas keyakinan dan praktik olah jiwa dalam upaya untuk mencapai ’kasampurnaning urip.’ (Kesempurnaan hidup),’’ katanya.

Dengan laku spiritual itu menurut Anisa Listiana, diharapkan manusia mampu beradaptasi dengan dinamika dan dialektika kehidupan. Seberapa baik manusia mampu beradabtasi dengan dinamika dan dialektika kehidupan bisa diukur dari seberapa baik kualitas laku spiritual yang dilakukan.

Studi itu menurutnya bertujuan menjawab pertanyaan Mengapa Laku spiritual keagamaan pengikut Syekh Jangkung di wilayah pesisir utara Jawa Tengah menjadi sarana berdamai dengan keadaan bagi para pengikutnya?

Bagaimanakah relevansi Laku spiritual keagamaan tersebut bagi kehidupan pengikutnya dan filsafat hidup mereka? Dan bagaimanakah peran Laku spiritual keagamaan pengikut Syekh Jangkung di wilayah pesisir utara Jawa Tengah tersebut dalam dinamika sosial, budaya dan agama kehidupan modern?. Menutur Anisa, permasalahan tersebut dibahas melalui studi lapangan. Lokasi penelitian sebagai sumber data melalui wawancara bebas, observasi partisipan, dan studi dokumentasi. Semua data dianalisis dengan pendekatan fenomenologi dan analisis deskriptif dengan menggunakan logika induksi, deduksi dan refleksi.

‘’Kajian ini menunjukkan beberapa penemuan antara lain bagi pengikut Syekh Jangkung setiap individu atau orang berkeinginan untuk mendapatkan kesempurnaan hidup ’kasampurnaning urip.’ Namun kesempurnaan hidup tersebut tidak hadir dengan sendiri. Ia harus dicapai melalui Laku spiritual keagamaan,’’ katanya.

Dengan Laku spiritual keagamaan tersebut, menurut pengikut Syekh Jangkung seorang individu akan berupaya dengan aktivitas keyakinan dan praktik olah jiwa melalui beberapa ‘laku’ spiritual untuk menjadi mampu memahami siapa dirinya, orang lain, alam dan bahkan yang utama dengan penciptanya sebagai yang tertinggi. Kemampuan tersebut adalah sebuah derajat pencapaian ’kasampurnaning urip’ (Kesempurnaan hidup). ‘Kasampurnaning urip iku cedakke manungso marang gustine tanpa ananing wates’ (Kesempurnaan hidup itu (bisa diraih) dengan dekatnya manusia tanpa adanya pembatas antara manusia dengan Tuhannya). Menurut pengikut Syekh Jangkung jika individu sudah menjalankan laku spiritual maka ia sudah berproses dalam mencapai ataupun meraih ’Kasampurnaning urip’ (Kesempurnaan hidup). Pada tahap ini seorang individu akan mendapatkan kesejahteraan hidup. Kesejahteraan hidup itu bisa berupa kebahagian ruhani dan tercukupinya kebutuhan jasmani serta mampu beradaptasi secara baik dan tepat dengan dialektika kehidupan, apapun bentuknya. Oleh karena itu, Laku spiritual keagamaan bagi para pengikut Syekh Jangkung merupakan jalan yang harus dilalui dalam rangka beradabtasi dan bersikap yang tepat terhadap dinamika kehidupan, apapun keadaannya. Sehingga oleh karenanya, orang yang mampu beradabtasi dan bersikap tepat terhadap dialektika dan dinamika kehidupan menurut pengikut Syekh Jangkung adalah orang yang  sudah mampu berdamai dengan keadaan. Bagi pengikut Syekh Jangkung, laku ini terdiri dari 4 (empat) tingkatan atau hierarkhi. Tingkat tertinggi disebut sembah roso. Dibawah sembah roso ada sembah jiwo, sembah cipto dan sembah rogo. Di dalam masing-masing tingkatan / hierarki sembah tersebut ada beragam aktivitas laku yang berbeda.

Pengikut Syekh Jangkung berpandangan bahwa spiritualitas merupakan perjuangan untuk menjawab atau mendapatkan kekuatan ketika sedang menghadapi penyakit fisik, stres emosional, keterasingan sosial, bahkan ketakutan menghadapi ancaman kematian. Namun secara umum laku spiritual yang dilakukan oleh pengikut Syekh Jangkung disadari oleh mereka sebagai laku kehidupan yang akan memberikan pribadi mampu:

  1. Merumuskan arti personal yang positif tentang tujuan keberadaan kehidupan di dunia.
  2. Mengembangkan arti penderitaan dan meyakini hikmah dari suatu kejadian atau penderitaan.
  3. Menjalin hubungan positif dan dinamis melalui keyakinan, rasa percaya dan cinta kasih yang tinggi.
  4. Membina integritas personal dan merasa diri berharga.
  5. Merasakan kehidupan yang terarah terlihat melalui harapan.
  6. Mengembangkan hubungan antar manusia dengan positif.

Laku spiritual pengikut Syekh Jangkung memiliki peran dan fungsi yang vital dalam kehidupan manusia baik secara individual maupun sosial kemasyarakatan. Laku spiritual pengikut Syekh Jangkung paling tidak memiliki tiga peran penting dalam relasi sosial, budaya dan agama. a) dari perspektif relasi sosial, maka laku spiritual keagamaan Syekh jangkung dapat berperan sebagai simulacra mistisisme, suatu titik balik, yaitu mengarahkan dan mengembalikan perilaku individu dari pola hidup hedonis dan hasrat keberbutuhannya seperti melaksanakan laku spiritual guna mengembalikan hutang (nyarutang) dan guna mencapai suatu kejayaan (memperoleh posisi kepemimpinan tertentu-lurah, bupati, DPRD misalnya) kepada makna laku spiritual sebagai sarana menciptakan keharmonisan diri dengan kehidupan. b) laku spiritual keagamaan dapat membantu mendorong terciptanya persetujuan mengenai sifat dan isi kewajiban-kewajiban sosial dengan memberikan nilai-nilai yang berfungsi menyalurkan sikap para anggota masyarakat dan menetapkan isi kewajiban-kewajiban sosial masyarakat dalam sebuah kebudayaan. Dalam peranannya ini laku spiritual pengikut Syekh Jangkung telah membantu menciptakan sistem-sistem nilai budaya yang terpadu dan utuh. Ketiga, laku spiritual pengikut Syekh Jangkung mampu memainkan peran vital dalam memberikan kekuatan memaksa yang mendukung dan memperkuat pelaksanaan ajaran agama seorang individu, dan menanamkan pemahaman yang tepat bagaimana menjadi seorang yang beragama.  Karena itulah dengan peran laku spiritual pengikut Syekh Jangkung sebagaimana dijelaskan tersebut maka laku spiritual pengikut Syekh Jangkung  merupakan aktivitas yang bersifat fungsional dalam dinamika sosial, budaya dan agama kehidupan modernional.


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.