Jika Terjadi Perbedaan Pendapat Kembalikan Kepada Allah dan Rasul-Nya

Perbedaan Pendapat
Hasanuddin (Ketua Umum PBHMI 2003-2005), Redaktur Pelaksana Hajinews.id

banner 800x800

banner 800x800

banner 400x400

Oleh Hasanuddin (Ketua Umum PBHMI 2003-2005), Redaktur Pelaksana Hajinews.id

Hajinews.id – Rasulullah Muhammad Saw sangat bijaksana dan memahami bahwa sangat mungkin akan terjadi perbedaan pendapat dikalangan umatnya. Beliau tidak menghendaki bahwa perbedaan pendapat itu, menyebabkan terjadi perpecahan apalagi konflik di kalangan umatnya. Sebab itu beliau berpesan, jika terjadi perbedaan pendapat kembalikan kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul-Nya (Hadits/Sunnah Nabi).

Bacaan Lainnya

Salah satu yang sudah klasik dan masih terus memicu perdebatan di kalangan umat Islam Indonesia adalah perihal “melihat hilal”. Pokok persoalannya terletak pada penggunaan “derajat” dalam melihat bulan. Sesuatu yang semestinya tidak perlu lagi terjadi, dengan telah tersedianya teknology canggih yang dapat membantu memudahkan dalam melihat bulan. Memang masih ada saja yang mempersoalkan apakah melihat bulan itu dengan menggunakan teknologi atau harus dengan mata telanjang.

Jika hal ini kita kembalikan kepada Sabda Nabi bahwa “apabila telah ada diantara kalian yang melihat bulan maka berpuasalah” , kita bisa mengatakan bahwa Nabi sama sekali tidak menyinggung soal penggunaan teknology di dalam pesannya itu. Sehingga penggunaan teknologi melihat bulan, sama sekali tidak terlarang untuk dilakukan. Islam sangat menganjurkan umatnya bahwa dalam pelaksanaan ajaran Islam, hendaknya mengedepankan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalilnya sangat banyak dalam Al-quran.

Sifat dari ilmu pengetahuan dan teknologi itu, senantiasa berkembang, mengalami kemajuan. Dan sebab itu, dalam pemanfaatan teknologi juga kita mesti mengikuti perkembangan kemajuan teknologi. Misalnya jika dulu hanya tersedia teropong sederhana, maka dewasa ini telah tersedia teleskop canggih, tersedia satelit canggih. Dengan teknologi canggih ini, kiranya telah teratasi hambatan untuk melihat bulan dengan bantuan teknologi, sehingga sudah seharusnya persoalan ini telah selesai. Tidak perlu lagi menimbulkan perbedaan pendapat.

Adapun mengenai berapa derajat hilal terlihat, Nabi SAW sama sekali tidak menyinggung soal berapa derajat terlihat. Jadi jika perbedaan terjadi karena soal “derajat”, ini dapat diabaikan karena Nabi tidak mempersoalkannya. Apalagi dengan bantuan teknologi canggih, masalah ini pasti telah dapat diatasi.

Lalu kenapa masih terjadi kesimpangsiuran soal penetapan jadwal awal dan akhir bulan puasa, Sholat Id, Shalat idul adha?

Kembalikanlah kepada Al-Quran dan Sunnah, jangan ngotot dengan pandangan keliru yang tidak memiliki dalil, seperti soal derajat-derajat dalam melihat bulan itu.


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.