Perbedaan Idul Adha 2022 di Indonesia dan Arab Saudi, UAS: Makkah Itu Punya Mathla’ Sendiri

Perbedaan Idul Adha 2022
Perbedaan Idul Adha 2022

banner 800x800

banner 800x800

banner 400x400
Hajinews.id Umat muslim Indonesia mengawali bulan Dzulhijjah 1443 Hijriah dengan dengan dua perbedaan.

Sehingga menyebabkan perbedaan dalam merayakan Hari Raya Idul Adha 1443 H.

Bacaan Lainnya

Organisasi Muhammadiyah mengawali bulan Dzulhijjah 1443 H pada Kamis 30 Juni 2022, sedangkan Nahdlatul Ulama (NU) pada 1 Juli 2022.

Karena itu, Muhammadiyah melaksanakan Idul Adha pada Sabtu 9 Juli 2022, dan NU pada 10 Juli 2022.

Selain itu, Pemerintah Arab Saudi menetapkan awal Dzulhijjah pada 30 Juni 2022, yang artinya Idul Adha 1443 H jatuh pada 9 Juli 2022.

Perbedaan ini kemudian perdebatan di lini media sosial, salah satunya akun TikTok @pujisantoso506 yang membandingkan perbedaan penetapan Idul Adha 1443 H di Indonesia dan Arab Saudi.

Unggahan itu pun mengundang ragam komentar dari warganet.

“Gw ikut arab, masa iya disana lebaran kita masih puasa (Dzulhijjah),” kata seorang pengguna TikTok.

“Saya ikut rukyatul global saja, karena wukuf di Arafah hari Jumat berarti lebaran hari Sabtu,” kata Rita Yusnita.

Terkait hal ini, Ustadz Abdul Somad (UAS) memberi penjelasan mengapa hal ini bisa menjadi perbedaan.

Bahkan ia mengajak umat muslim Indonesia untuk mengikuti keputusan yang ada di Indonesia.

Hal ini berawal dari satu jamaah yang bertanya kepadanya terkait perbedaan Idul Adha 1443 H di Indonesia dan Arab Saudi.

“Kita ikut Makkah apa Pekanbaru Ustadz?,” kata jamaah tersebut ke UAS.

Ustadz Abdul Somad kemudian menjawab bahwa Makkah dan Pekanbaru memiliki mathla’ sendiri.

Yang dimaksud dengan mathla’ yaitu saat terbitnya hilal di suatu wilayah (negara).

“Makkah tu punya mathla’ sendiri, Pekanbaru punya mathla’ sendiri,” kata UAS.

Karena itu, jelas UAS, Makkah punya syuruq sendiri, begitu pun juga Pekanbaru punya syuruq sendiri.

“Tak sama. Mana bisa kita ikut Makkah. Kalau kita di Pekanbaru ikut Makkah. Berarti shalat zhuhur kita jam 15.30 WIB,” ucap UAS.

Lantas, jamaah tersebut kembali menanyakan kepada UAS terkait perbedaan Arab Saudi yang lebih dahulu melaksanakan Idul Adha 1443 H daripada Indonesia.

Kemudian UAS menjawab, “waktu shalat pakai waktu matahari, kita di timur lebih dulu. Kalau awal bulan tu ikut Hilal, bulan, yang di barat lebih dulu”.

Jamaah itu kemudian menanyakan lagi ke UAS, “Tapi kan puasa Arafah tu ikut Wuquf Ustadz?”.

Mendapati pertanyaan itu, UAS kemudian meminta jamaah tersebut untuk memahami Wuquf di Arab Saudi mengikuti waktu wilayah mana.

“Wuquf ikut apa? Ikut tanggal 9. Tanggal 9 ikut apa? Ikut tanggal 1. Tanggal 1 ikut apa? Ikut hilal. Jadi puasa tu tanggal 9, bukan tanggal 8, bukan pulak tanggal 10,” terang UAS.

Karena itu, Ustadz Abdul Somad meminta umat muslim untuk menghargai perbedaan ini dengan mengikuti mathla’ masing-masing daerah.

“Ikut mathla’ daerah masing-masing” tegas UAS.

Namun apakah hal ini pernah terjadi pada zaman Salaf?

UAS pun menjawab bahwa perbedaan ini juga pernah terjadi.

“Kuraib dari Madinah ke Syam. Di Syam mereka melihat Hilal malam Jum’at. Ibnu Abbas di Madinah melihat Hilal malam Sabtu,” terang UAS.

“Syam dengan Madinah aja beda mathla’, apalagi Makkah dengan Pekanbaru” pungkasnya.

Wakil Presiden RI, KH Ma’ruf Amin dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga meminta umat muslim Indonesia bersikap dewasa dan bijak serta menghargai dalam perbedaan penentuan awal Dzulhijja 1443 H.

 

 


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.