PDIP Bebaskan Ganjar Pilih Jalan Politik, Ikut Partai atau Ambisi Pribadi


banner 800x800

banner 400x400

Hajinews.id — Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menyebut bahwa partainya membebaskan setiap kader, termasuk Ganjar Pranowo, memilih jalan politik. Mengingat, Gubernur Jawa Tengah itu sudah dilirik partai lain sebagai bakal calon presiden, sementara PDIP belum menentukan pilihan.

“Dalam perspektif ini, setiap anggota, kader itu bebas. Untuk melakukan pilihan-pilihan politiknya. Apakah kader akan menyatukan diri pada kepentingan partai yang lebih besar atau digerakkan oleh ambisi-ambisi individual. Berpartai itu menyatukan diri dalam kepentingan kolektif bagi bangsa dan negara,” ujar Hasto di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan pada Rabu, 23 Juni 2022.

Bacaan Lainnya

Namun Hasto berkali-kali mengingatkan partai lain, memilih pemimpin semestinya menggunakan sistem kaderisasi dan tidak adanya bajak-membajak kader partai lain.

Salah satu partai yang melirik Ganjar sebagai bakal capres adalah Partai NasDem. Ganjar masuk dalam daftar satu dari tiga nama bakal capres rekomendasi Partai NasDem.

Ganjar mengaku belum mendapat kiriman surat rekomendasi tersebut dari Partai NasDem, sehingga ia juga belum memberikan respons. Namun, Ganjar menegaskan bahwa dirinya setia pada PDIP.

“Saya terima kasih mendapatkan kehormatan itu, tapi saya PDI Perjuangan,” kata Ganjar, Kamis pekan lalu

Rakernas Partai NasDem menghasilkan tiga kandidat bakal calon presiden yakni; Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa, dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Kepada Tempo, Ketua DPP Partai NasDem Willy Aditya mengungkap sejumlah alasan partainya mengusung kandidat eksternal. Alasan pertama, partainya ingin mengembalikan pelembagaan partai politik. Partai-partai modern saat ini dinilai telah bergeser dari pelembagaan. Ketidakterlembaganya partai politik ini tampak dari terlalu dominannya figur top leader bahkan sejak awal kelahirannya.

“Tidak banyak ketua umum partai yang mau sacrifice seperti Pak Surya. You can imagine, orang bangun partai pasti mau ketua umumnya jadi calon presiden. Tapi Pak Surya mau berkorban,” ujar Willy kepada Tempo di bilangan Senayan, Jumat, 17 Juni 2022.

Menurut Willy, partai hakikatnya berperan sebagai jembatan atau sarana transportasi. “Kami ingin menjadi partai publik, kalau dianalogikan ya seperti busway,” ujar dia.

Sementara itu, ia menyebut Partai NasDem terus melakukan kaderisasi internal. Namun Partai NasDem yang berdiri pada 2011, ujar dia, tidak bisa dibandingkan dengan PDIP misalnya yang sudah berdiri hampir setengah abad lalu, ditambah sejarah panjang sejarah sebelumnya.

“Enggak apple to apple kalau NasDem disandingkan dengan PDIP. Partai itu udah bangkotan, punya anak punya cucu. Kami ini punya anak aja belum. Jadi kalau dibandingkan dengan sistem kaderisasi, kenapa tidak kader internal? Bos, yang satu lahirnya kapan, yang satu lahirnya di kota, satu lagi di desa. Enggak adil, dong,” ujar Willy.

Menurut dia, akan ada saatnya bagi partai NasDem memajukan kader sendiri. Namun untuk saat ini, pilihan paling rasional bagi NasDem adalah mengusung kader eksternal yang secara elektabilitas tinggi, disamping juga memiliki kapasitas yang mumpuni.

“Kami harus objektif dan realistis, kami ini partai rasional. Enggak mungkin kami memaksakan diri. Kenapa kita harus sok-sokan,” tuturnya.


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.