Kisah Haji Sukses: Sonaun, Petani dari Pati yang Bisa Naik Haji dan saat Ini Sudah Berada di Tanah Suci

Petani dari Pati yang Bisa Naik Haji
Sonaun

banner 800x800

banner 400x400
Hajinews.id – Bisa menunaikan ibadah haji 2022 merupakan sebuah kebahagiaan luar biasa. Hal ini juga dialami Sonaun, Jemaah haji dari Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah.

“Saya bersyukur sekali bisa naik haji. Waktu masih muda ya tidak terpikir. Wong saya ini sembahyang lima waktu saja baru mulai umur 25 tahun,” kata pria yang berpofesi sebagai petani itu, seperti dikutip dari laman Kementerian Agama, Selasa (7/6/2022).

Bacaan Lainnya

Sonaun adalah anak kedua dari enam bersaudara. Dia lahir di Pati, 10 Juni 1965, dari pasangan almarhum Ngasiyo-Fatimah.

Pada tanggal 10 Juni 2022 nanti ia akan berulang tahun ke-57. Ini akan jadi momen istimewa dan tak terlupakan baginya, karena pas ulang tahun ada di Madinah.

Sonaun masuk Embarkasi Solo pada 3 Juni 2022. Sebelum berangkat, orang kampung diundang untuk acara walimatus safar. KH Amir, tokoh NU setempat yang memimpin acara.

Saking senangnya bisa berangkat haji, Sonaun enteng saja mengeluarkan tidak kurang dari 20 juta untuk acara tersebut. “Ini rasa syukur saya dan istri, Mas. Pulang haji juga akan ada syukuran lagi,” katanya.

Sonaun tergabung dengan kloter 1 Embarkasi Solo (SOC 1) yang berangkat 4 Juni, pukul 00.30 WIB. Pesawat Garuda yang mengantarnya mendarat di Bandara Amir Mohammad bin Abdul Aziz (AMAA), Madinah, pada hari yang sama, sekitar pukul 08.58 waktu Arab Saudi (WAS).

Saat ditemui Senin pagi (6/7/2022), Sonaun sedang beristirahat di kamarnya bersama empat jemaah lain dari Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati. Sonaun sendiri berasal dari Desa Brati, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Sebagaimana umumnya masyarakat Kecamatan Kayen, Sonaun berprofesi sebagai petani. Tapi dia terbilang petani yang istimewa, karena memiliki sawah 1 hektar. Selain itu, istri Sonaun, bernama Kusriwati (47 tahun) bekerja di toko kelontong miliknya.

Ikhtiar pasangan yang sama-sama bekerja ini yang membuat Sonaun yang cuma petani dan Kusriwati bisa menabung untuk mendaftar haji. “Hasil tani saya ditabung. Kebutuhan hidup sehari-hari dari istri yang pedagang kelontong,” terang bapak tiga anak dan dua cucu ini.

Sonaun menceritakan bahwa dirinya mendaftar haji tahun 2011 dengan total setoran untuk suami-istri sebesar 50 juta. “Beruntung sekali istri saya itu jualan, jadi saya bisa nabung,” tegasnya.

Pembayaran haji dilunasi pada tahun 2020 sebelum adanya kebijakan untuk membatalkan keberangkatan dikarenakan pandemi Covid-19 mengguncang Tanah Air. Suami istri membayar masing-masing Rp 11.250.000. Biaya haji total Rp 36,3 juta.

Ikhtiar Sonaun di bidang pertanian tidak cuma menghantarkannya ke tanah suci menunaikan rukun Islam kelima, tapi juga berhasil membuat anak-anaknya mengenyam pendidikan lebih baik darinya yang cuma lulusan SD, begitu juga istri, cuma lulusan SD. Selain sekolah, anak-anaknya juga mendapatkan pendidikan agama di pesantren.

Anak pertamanya (Siti Mutmainnah) dan anak keduanya (Muhammad Yusuf) alumni Pesantren An-Nur Mojolawaran, Gabus, Pati. Pesantren ini didirikan oleh KH Nur Kholis. Anak terakhirnya, Abdul Hidayat, masih nyantri di Pesantren Al-Kholil, Pasuruan, Kayen, Pati. “Awalnya di Kudus, tapi musim corona saya pindah yang dekat rumah saja,” katanya.

Meminjam istilah Clifford Geertz, Sonaun sekarang telah menjadi santri seutuhnya, yakni telah melaksanakan lima rukun Islam. Yang dulu tidak sembayang, sekarang sembayang, yang dulu tidak puasa, sudah puasa. Bahkan saat jelang umur 50 aktif di pengajian Yasinan dan Tahlilan.

 

 


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.