Gus Yahya: Mau Diterima Atau Tidak, Rais Aam PBNU Sudah Mundur dari Ketua Umum MUI

Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar (foto: detikcom)

banner 800x800

banner 800x800

banner 400x400

 

Hajinews.id – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf merespons penolakan pengunduran diri Miftachul Akhyar dari posisi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Bacaan Lainnya

Yahya menilai persoalan pengunduran Miftachul Akhyar dari MUI sudah selesai.

“Kan sudah selesai. Pengunduran diri dari ketum MUI toh? Udah selesai,” kata Gus Yahya, usai Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2022, di Hotel Yuan Garden, Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Jumat (20/5/2022).

Gus Yahya mengaku tak tahu persis apakah pengunduran Miftachul Akhyar diterima atau tidak oleh MUI.

“Ya saya ndak tahu, mau diterima atau ndak, wong Rais Aam udah mundur dari ketua MUI,” ucapnya.

Ditolak

Rapat pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menolak pengunduran diri KH Miftachul Akhyar dari jabatan ketua umum.

Sekjen MUI Amirsyah Tambunan mengungkapkan, keputusan ini diambil dalam rapat pimpinan yang digelar pada Selasa (15/3/2022) kemarin.

Dalam forum tersebut, peserta rapim memutuskan Miftachul Akhyar tetap menjabat sebagai ketua umum.

“Surat permohonan pengunduran diri Ketum MUI sudah dibahas dalam rapim.”

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf merespons penolakan pengunduran diri Miftachul Akhyar dari posisi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Secara aklamasi dan mufakat beliau diputuskan tetap sebagai ketua umum,” ujar Amirsyah saat dikonfirmasi, Rabu (16/3/2022).

Amirsyah mengungkapkan, berdasarkan amanah Munas MUI X meminta Miftachul memimpin MUI pada periode 2020-2025.

Sehingga, permohonan dari Miftachul Akhyar tidak dikabulkan oleh MUI.

“Artinya permohonan mundur sebagai ketum MUI tidak terima atau ditolak karena amanah Munas MUI X beliau memimpin MUI 2020- 2025,” jelas Amirsyah.

Sebelumnya, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar mengirimkan surat pengunduran diri dari jabatan Ketua Umum MUI.

Hal itu disampaikan oleh Miftah saat memberikan pengarahan dalam Rapat Gabungan Syuriyah-Tanfidziyah PBNU di Kampus Unusia Parung, Bogor, Jawa Barat, Rabu (9/3/2022).

“Di saat ahlul halli wal aqdi (Ahwa) Muktamar ke-34 NU menyetujui penetapan saya sebagai Rais Aam, ada usulan agar saya tidak merangkap jabatan.”

“Saya langsung menjawab sami’na wa atha’na (kami dengarkan dan kami patuhi),” ujar Miftah yang dikutip dari NU Online, Rabu (9/3/2022).

Ia mengaku tidak mendapatkan tekanan terkait keputusannya mundur dari jabatan Ketua Umum MUI.

“Jawaban itu bukan karena ada usulan tersebut, apalagi tekanan,” aku Miftah.

Miftah menceritakan proses pemilihan dirinya menjadi Ketua Umum MUI pada akhir November 2020.

Dua tahun sebelumnya, Miftah mengungkapkan dirinya diyakinkan untuk bersedia jadi Ketua Umum MUI.

“Semula saya keberatan, tapi kemudian saya takut menjadi orang pertama yang berbuat ‘bid’ah’ di dalam NU. Karena selama ini Rais Aam PBNU selalu menjabat Ketua Umum MUI,” ucap Miftah.

Saat ini, Kiai Miftah menambahkan, dirinya merasa ‘bid’ah’ itu sudah tidak ada lagi.

Sehingga dirinya berkomitmen untuk merealisasikan janji di hadapan Majelis ahlul halli wal aqdi dengan mengajukan pengunduran diri dari jabatan Ketua Umum MUI.


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.