Konsistensi Gubernur Khofifah Indar Parawansa


banner 800x800

banner 400x400

Hajinews.id — Satu hasil survei baru dikeluarkan Charta Politika, satu lembaga survei kredibel. Temanya tentang simulasi beberapa tokoh yang selama ini dipandang berpeluang masuk bursa pemilihan presiden (Pilpres) 2024 mendatang.

Dikutip dari beritajatim, dari sederet nama tokoh politik nasional itu, Gubernur Jawa Timur yang juga Anggota Dewan Kehormatan Pengurus Pusat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (PP IPHI) Khofifah Indar Parawansa, satu di antaranya. Bersama Puan Maharani, Ketua DPR RI dan Ketua DPP PDIP, Khofifah adalah tokoh politik nasional bergender wanita yang dinilai berpeluang masuk bursa Pilpres 2014.

Bacaan Lainnya

Survei terbaru Charta Politika tersebut digelar pada 10-17 April 2022 di 122 desa/kelurahan yang tersebar di Indonesia. Melibatkan 1.220 responden.

Nama Khofifah ketika dipasangkan dengan Anies Baswedan, tingkat elektabilitasnya 27,3%, lebih rendah dibanding Ganjar Pranowo-Sandiaga Uno dengan 34,3%. Pasangan Anies-Khofifah lebih tinggi dibanding pasangan Prabowo Subianto-Puan Maharani dengan 23,8%. Sebanyak 14,6% responden tidak menjawab atau menjawab tidak tahu.

Pada simulasi lainnya, pasangan Ganjar Pranowo-Khofifah Indar Parawansa memiliki tingkat elektabilitas 33,3%. Lebih tinggi dibanding pasangan Anies Baswedan-AHY dengan 27,0%, Prabowo Subianto-Puan Maharani dengan 25,5% dan Ganjar Pranowo-Ridwan Kamil dengan 34,1%.

Khofifah dan Puan adalah dua tokoh politik yang sama-sama berpeluang masuk buras Pilpres 2024. Keduanya berasal dari latar belakang berbeda. Khofifah dari kalangan Islam Tradisional (NU). Kenyang di ranah legislatif dan eksekutif.

Di wilayah eksekutif, selain pernah menjabat sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Kepala BKKBN, Kementerian Sosial juga pernah dipimpin politikus kelahiran Kota Surabaya ini.

Dua partai berlatar Islam pernah jadi tempat Khofifah meniti karir; Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Pengalaman dan jam terbang Khofifah di eksekutif dan legislatif bersifat paripurna. Memegang jabatan kementerian memberikan banyak pengalaman bagi Khofifah secara sektoral. Jabatan Gubernur Jatim (2019-2024) memupuk pengalaman empiris teritorial dan sektoral kepada Ketua Umum PP Muslimat NU ini.

Dengan latar belakang aktivisme sosial yang lama dipadu dengan aktivisme politik yang kenyang pengalaman, membuat Khofifah diperhitungkan dalam bursa Pilpres 2024. Tentunya latar belakang organisasi aktivisme sosial yang selama ini digeluti: Nahdlatul Ulama (NU), adalah poin penting dan strategis bagi Khofifah.

Secara faktual, tak banyak tokoh NU yang dijagokan berpeluang masuk bursa Pilpres 2024. Khofifah satu di antaranya, di samping Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin).

Beberapa hari setelah Lebaran 2022, Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Prabowo Subianto, juga bertemu dan menggelar silaturahmi dengan Khofifah di Gedung Negara Grahadi Surabaya. Silaturahmi ini dalam konteks hablun minannas (hubungan antarmanusia), sesama anak bangsa yang sama-sama diberikan kepercayaan sebagai pejabat penting.

Tak urung, silaturahmi antarkeduanya dikait-kaitkan dengan momentum politik 2024, mengingat keduanya adalah sama-sama aktif bergerak di ranah politik. Jauh-jauh hari sebelum itu, nyaris semua tokoh politik bertemu dan silaturahmi dengan Khofifah. Dari Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Demokrat AHY, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, dan lainnya.

Pendekatan politik yang dilakukan para tokoh politik tersebut terhadap Khofifah akan memiliki makna politik substantif ketika tokoh wanita ini didukung dan diusung dalam Pilpres 2024, baik sebagai capres atau cawapres.

Kenapa positioning politik Khofifah sangat penting dalam konteks ini? Pertama, Khofifah merupakan politikus dan aktivis sosial yang kenyang pengalaman, baik di jalur kemasyarakatan, ranah legislatif, dan wilayah eksekutif. Kapasitas politik pribadinya tak perlu diragukan.

Dia pernah terjun 3 kali dalam kontestasi Pilgub Jatim (2008, 2013, dan 2018). Kendati sempat dua kali menelan pil pahit kekalahan, energi dan semangat politiknya tak pernah kendur, sehingga mampu memenangkan Pilgub Jatim 2018 dengan raihan suara meyakinkan vis a vis pasangan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Puti Guntur Soekarnoputra.

Kedua, sebagai aktivis sosial NU yang istiqomah, elite-elite politik nasional tentu memperhitungkan dan memperhatikan track record Khofifah secara seksama. Khofifah menjadi representasi aktivis sosial dan politik dari ranah NU yang bisa berkomunikasi dan membangun relasi dengan semua kalangan, baik kaum nasionalis maupun politikus religius.

Khofifah tak pernah berpikir dan tak mengembangkan wacana nasionalis-religius secara dikotomis. Sebab, kedua aliran politik tersebut dalam konteks ke-Indonesia-an justru saling melengkapi dan memperkuat.

Di luar parpol, NU merupakan kelembagaan nonpolitik, yang bergerak di bidang sosial keagamaan dan pencerahan umat yang memiliki pengaruh kuat di lanskap politik Indonesia kontemporer, selain ormas Islam Muhammadiyah. Dengan jumlah massa (jamaah) yang besar, yang jumlahnya lebih dari 100 juta jamaah, NU secara mekanis politik berada di posisi strategis dalam bingkai demokrasi elektoral, yang diimplementasikan Indonesia sebagai pola untuk menentukan dan memiliki pemimpin politik.

Ketiga, kepemimpinan Khofifah sebagai Gubernur Jatim makin memperkuat dan mengukuhkan posisi politiknya sebagai politikus yang diperhitungkan. Lanskap politik Indonesia modern menempatkan Jatim tak sekadar penting dalam konteks demografi politik, dengan jumlah pemilih lebih dari 32 juta pemilih.

Jauh lebih penting dari dimensi demografi politik adalah Jatim dari aspek share ekonomi. Dengan kekuatan product domestic regional bruto (PDRB) sekitar Rp 2.400 triliun (2021), memposisikan Jatim berada di bawah DKI Jakarta. Share PDRB Jatim terhadap product domestic bruto (PDB) sekitar 14-15 persen.

Secara empiris politik, dari dua kali perhelatan kontestasi Pilpres 2014 dan 2019, Jatim dengan dominasi pemilih kaum Islam Tradisional (NU) menjadi kartu penentu kemenangan pasangan capres dan cawapres (Jokowi-JK di Pilpres 2014 dan Jokowi-KH Ma’ruf Amin di Pilpres 2019).

Dominasi pemilih politik Islam Tradisional di Jatim sebagai kekuatan politik strategis, secara historis, terbangun dan terpelihara secara konsisten sejak Pemilu 1955 hingga sekarang. Jatim jadi kandang terkuat dan terbesar pemilih Islam Tradisional.

Karena itu, siapa pun capres di Pilpres 2024 mendatang yang ingin merebut banyak dukungan dari pemilih Islam Tradisional, maka capres dimaksud harus menggarap dan mengonsolidasikan sumber daya politiknya di Jatim sejak dini dan kontinyu.

Artikel di atas sekadar ulasan dan analisis sederhana dalam melihat figur Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dalam konteks politik kekinian, terutama dalam beberapa tempo terakhir.

Kerja-kerja politik yang bersifat populis itu penting dalam rangka mempersuasi dan merebut dukungan massa. Yang penting juga diperhatikan adalah identifikasi politik personal seorang tokoh politik juga mesti jelas dan dipahami publik secara tepat dan benar. Dalam konteks ini, tak ada suara yang meragukan Khofifah adalah politikus NU yang konsisten dan terus berjuang bersama ormas Islam Tradisional sejak terjun di ranah politik dan gerakan aktivisme sosial dari dulu hingga hari ini.

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.