Qadar (Ukuran/Takaran)

Qadar
Hasanuddin (Ketua Umum PBHMI 2003-2005), Redaktur Pelaksana Hajinews.id

banner 800x800

banner 400x400

Oleh Hasanuddin (Ketua Umum PBHMI 2003-2005), Redaktur Pelaksana Hajinews.id

Hajinews.id – Bagi manusia, apa yang dapat mereka ukur amat sangat terbatas kepada alat ukur yang mereka gunakan. Dan alat ukur yang digunakan itu tentulah alat ukur buatan manusia itu sendiri. Alat ukur buatan manusia itu terbatas kemampuannya untuk hanya menjangkau apa yang berwujud bendawi saja dan tidak mampu mengukur apa yang tidak berwujud bendawi. Misalnya soal iman atau kepercayaan, pengetahuan, rezeki, masa depan seseorang semua itu tidak mampu diukur oleh alat ukur buatan manusia. Sebab itu tidak satupun manusia misalnya yang dapat menentukan apa dan bagaimana keadaan seseorang di hari esok. Belum lagi misalnya jika yang dimaksud itu perihal hal-hal yang terkait dengan Tuhan. Tidak satu alat ukur pun yang dapat digunakan mengukur-Nya dalam semua aspek yang dapat ditujukan pada-Nya. Dan karena itu pula segala hal terkait dengan Ketuhanan atau Keilahian, manusia tidak memiliki pengetahuan apa-apa, selain yang Allah sendiri telah beritahukan. Demikianlah Allah berfirman la ilma lana illa maa allamtana (tiada kami memiliki pengetahuan selain apa yang Engkau (Allah) beritahukan kepada kami). Sikap seperti inilah yang seharusnya senantiasa dimiliki seorang hamba. Pengetahuan sejatinya hanya milik Allah, dan Allah berikan kepada manusia dengan qadar (ukuran) tertentu bagi tiap-tiap manusia. Sebab itu hanya Allah pula yang memiliki pengetahuan secara pasti perihal seberapa tingkat pengetahuan yang dimiliki seseorang. Demikian halnya dalam hal iman, dalam hal rezeki, dalam hal nasib akan masa depan seseorang semuanya hanya dalam pengetahuan Allah swt. Semua itu masuk dalam apa yang disebut sebagai “yang ghaib” atau diluar jangkauan pengetahuan manusia.

Bacaan Lainnya

Bisa saja seseorang membuat perkiraan-perkiraan, melalui pengambilan kesimpulan berdasarkan fenomena-fenomena atau gejala-gejala yang nampak pada sesuatu atau seseorang. Tapi pahamilah bahwa setiap perkiraan itu senantiasa berada dalam hukum kemungkinan-kemungkinan, dan tidak berada dalam hukum kepastian.

Disinilah kita mesti benar-benar harus berhati-hati agar tidak tergelincir dalam kesesatan yang nyata. Kesesatan yang nyata itu misalnya, mengeluarkan sebuah pernyataan bahwa si fulan pasti masuk surga atau si fulan pasti masuk neraka, tanpa mengikuti sebuah dalil yang disampaikan Allah dan Rasul-Nya sebagai rujukan. Harus dihindari hal demikian, karena kita sama sekali tidak memiliki pengetahuan apakah si fulan telah diterima amal ibadahnya, tidak memiliki pengetahuan apakah si fulan telah di terima taubatnya, tidak memiliki pengetahuan apakah besok si fulan akan melakukan dosa besar, atau si fulan akan melakukan pertobatan dan diterima taubatnya sebelum meninggal. Bisa jadi hari ini kita secara kasat mata menyaksikan si fulan melakukan dosa besar, tapi bisa jadi besok ia bertaubat. Bisa pula sebaliknya, hari ini kita menyaksikan si fulan melakukan kebaikan, namun besok ia melakukan dosa besar. Bisa jadi hari ini si fulan melaksanakan ajaran Islam (muslim) bisa jadi esok ia ingkar dari ajaran Islam. Sebaliknya bisa jadi si fulan hari ini non-muslim, namun esok bisa jadi ia telah menjadi muslim. Semua itu berada dalam kekuasaan Allah.

Yang mesti kita senantiasa ingat adalah Rahmat Allah mengalahkan murka-Nya.

Dengan memahami qadar, kita insya Allah akan senantiasa bersyukur atas segala yang Allah telah berikan, maupun yang belum Allah berikan. Yang telah diberikan kepada orang lain, maupun yang belum Allah berikan kepada orang lain. Lihatlah selalu pada sisi baik, dan jangan lihat pada sisi yang buruk. Karena sesungguhnya sisi yang buruk itu sejatinya tidak ada. Sisi buruk itu hanya bayang-bayang saja dari sisi yang baik. Sesungguhnya kebaikan itu milik Allah dan dari Allah, dan karena itulah hanya yang baik itulah yang memiliki eksistensi. Sementara yang buruk itu tidak memiliki eksistensi. Eksistensi manusia itu pemberian dari Allah, hanya Dia saja yang memiliki eksistensi. Qadar kebaikan manusia itu, ditentukan oleh eksistensi dirinya. Dan Allah telah menetapkan pemberian eksistensi-Nya bagi manusia sebagai hamba-Nya. Tidak ada eksistensi bagi yang tidak mau menjadi hamba Allah. Kepemilikan harta benda, sama sekali tidak memiliki arti apa-apa tanpa menerima status sebagai hamba Allah. Bukankah semua harta benda itu milik-Nya? Hindarilah ketergantungan kepada harta benda, karena sesungguhnya diri manusia itu jauh lebih mulia daripada semua harta benda itu. Harta benda itu tidak diberi eksistensi oleh Allah, melainkan hanya sebagai sarana bagi manusia dalam mengabdi kepada-Nya.

Semoga Allah swt senantiasa memberikan bimbingan-Nya bagi kita semua. La ilma lana illa maa allam tana.

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.