Makam Mbah Maimoen dan Kiai Muslih Diziarahi Jamaah Umrah

Makam Mbah Maimoen dan Kiai Muslih Diziarahi Jamaah Umrah
ZIARAH DI MAKAM MBAH MAIMOEN: Jamaah umrah dari PT Masy’aril Haram Tour (Mastour) Semarang, dipimpin Diretur Utama KH Syarqowie Ghozali Amin melakukan ziarah di makam KH Muslih Abdurrohman bin Qosidil Haq Mranggen Demak dan KH Maimoen Zubair Sarang Rembang, di pemakaman Jannatul Ma’la sekitar 10 km dari Kota Suci Makkah, kemarin.

banner 800x800

banner 400x400

MAKKAH, Hajinews.id – Makam ulama kharismatik dari Jawa Tengah KH Maimoen Zubair Sarang Rembang dan KH Muslih Abdurrohman bin Qosidil Haq Mranggen Demak di pemakaman Jannatul Ma’la Kota Suci Makkah menjadi tempat yang selalu diziarahi jamaah umrah dari Indonesia.

‘’Mereka yang datang ke makam Mbah Maimoen dan Kiai Muslih tidak hanya dari Jawa Tengah tetapi datang dari seluruh Indonesia. Bahkan beberapa dari negara lain yang mengenal Mbak Moen dan Mbah Muslih. Biasanya mereka ziarah dulu di makam ummul mukminin istri Rasulullah Sayidati Khadidjah yang letaknya tidak jauh dari makam para ulama dari Indonesia,’’ kata Dirut Masy’aril Haram Tour (Mastour) KH Syarqowie Ghoizali Amin, kemarin.

Bacaan Lainnya

Dia membawa sekitar seratus jamaah Mastour berziarah di pemakaman yang letaknya sekitar 10 km dari Kota Suci Makkah itu. Sayangnya jamaah wanita belum diperbolehkan memasuki kawasan makam yang konon sudah ada sejak zaman jahiliyah itu. Sehingga hanya jamaah pria yang boleh masuk. Jamaah wanita menunggu di hotel masing-masing.

Pembacaan doa dipimpin oleh pimpinan rombongan (muthawif) yaitu KH Dikhyah bin Yusuf dan kakaknya R Muhibbin bin Yusuf dari Kaliwungu Kendal dan Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng Agus Fathuddin Yusuf.

Para jamaah membaca salam di pintu gerbang makam Jannatul Ma’la sebelum mereka berziarah. Titik pertama yang dituju adalah makam ummul mukminin istri Rasulullah Sayidati Khadidjah, kemudian Sayyid Muhammad AlMaliki AlHasani, KH Maimoen Zubair dan KH Muslih Abdurrohman bin Qosidil Haq. Tak sedikit murid-murid Mbah Moen dan Mbah Muslih yang menangis tersedu-sedu karena merasa terharu baru dua tahun setelah pandemi Covid-19 bisa menziarahi tempat istirahat guru mereka.

Ulama Nusantara

Syarqowie Ghozali menjelaskan, pemakaman bernama lengkap Maqbarah Jannatul Ma’la itu, sudah ada sejak zaman Arab jahiliah, sebelum Nabi Muhammad diutus mensyiarkan agama Islam di semenanjung Arab.

Ma’la dalam bahasa Arab memiliki arti tanah yang lebih tinggi. Istri Rasulullah, Khadijah; dan dua anaknya yaitu Al-Qosim bin Muhammad serta Abdullah bin Muhammad juga dimakamkan di tempat itu. Begitu juga kakek Nabi Muhammad, Abdul Muttalib bin Hasyim dan pamannya Abu Thalib juga dimakamkan di Ma’la.

Sedang Mbah Moen wafat saat menunaikan ibadah haji di Mekkah, pada Selasa, 6 Agustus 2019 dan dimakamkan di Ma’la pada hari yang sama. Kiai Muslih Abdurrohman bin Qosidil Haq adalah mursyid Thoriqoh Qosdiriyah Naqsabandiyah dan pengasuh pondok pesantren Futuhiyyah Suburan Mranggen Demak. ‘’Kiai Muslih wafat 1981,’’ katanya.

Selain dua nama itu terdapat sejumlah ulama nusantara yang dimakamkan di Jannatul Ma’la. Antara lain Syekh Nawawi bin Umar al-Bantani (29 Maret 1879),  Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (13 Maret 1916), Syekh Mahfudz al-Tarmasi (22 Maret 1920), Syekh Abdul Hamid al-Qudsi (12 Mei 1915) dan Syekh Ahmad Nahrawi al-Banyumasi (1926).

Nama ulama lainnya yaitu Syekh Sayyid Muhsin bin Ali al-Musawa (28 September 1935), Syekh Abdul Muhaimin bin Abdul Aziz al-Lasemi (1956), Syekh Ali bin Abdullah al-Banjari (1950), Syekh Muhammad Yasin bin Isa al-Padani (23 Juli 1990), Syekh Abdul Qadir al-Mandaili (18 Agustus 1965), KH Abdul Karim bin KHM Hasyim Asy’ari (1972), Syekh Abdullah Durdum al-Padani (27 April 1987) dan Syekh Abdul Fattah Rawa (2003).

Dilaporkan, pelaksanaan ibadah umrah pascapandemi Covid-19 sudah kembali normal. Tidak ada lagi keharusan memakai masker, handsanitizer dan menjaga jarak. Karantina saat masuk dan keluar Kota Suci Mekkah dan Madinah juga sudah ditiadakan. Hanya saja hingga kemarin lantai dasar tempat thawaf (math’af) hanya dikhususkan untuk jamaah pria dan wanita yang berpakaian ihram. Sedang jamaah yang hanya beribadah salat dan membaca Al-Qur’an menempati lantai dua, tiga dan pelataran masjid. (agus)


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.