Saat Matahari Terbit Bersinar dari Tubuh JK

Matahari Terbit Bersinar dari Tubuh JK
JK




Oleh: Ano suparno

Penulis Jalanan
FREELANCER Pernah di Trans TV sebagai Reporter, Kameraman lalu Kepala Biro TRANS. Sebelumnya, sebagai Stringer Tetap BBC London siaran Indonesia, reporter hingga Station Manager Smart FM Makassar. Setelah di Trans, saya mendirikan dan mengelolah TV Lokal sebagai Dirut. Sekarang Konsultan Media dan Personal

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Hajinews.id – Tak ada yang lebih viral di negeri ini selain kabar terbitnya  anugerah tertinggi dari Negeri Matahari Terbit Jepang  kepada putra yang lahir dari Timur Indonesia, HM Jusuf Kalla.

Sepak terjang Jusuf Kalla sejak dua kali sebagai Wakil Presiden RI dan sebagai pengusaha yang telah memberikan kontribusi positif bagi Jepang dan Indonesia menyebabkan Kaisar Jepang mengganjarnya gelar tertinggi yang hanya diberikan kepada orang orang spesial bagi kekaiasaran dan pemerintahan Jepang.

Cukup lama saya menyimak arti penghargaan ini  bagi Jusuf Kalla  hendak mencari tau  dari sisi mana tergapai rasa kekagumanku atas penghargaan ini.  Pertanyaan pertanyaan seperti ini muncul, tentu wajar. Bukankah rangkaian anugerah atau penghargaan kerapkali disematkan pada tokoh tokoh di republik ini? dan telah menjadi rahasia umum dibalik setiap penghargaan itu.  Tetapi apa yang menarik dari penghargaan untuk JK? Bukan sekadar sebab berasal dari Jepang. Pasti ada sesuatu yang menarik atas penghargaan ini apalagi doserahkan di altar Istana Kekaisaran Jepang.

Bukan juga sekadar  pada istilah “Grand Cordon of the order of the Rising Sun”.   Bukan ini. Lalu kemudian saya mencoba tracking kalimat ini “Grand Cordon of the order of the Rising Sun”. Dan hanya  sekejap mata google menyodorkan kepada saya tentang “Orde Matahari Terbit” dan Bunga Paulownia.

Rupanya dari istilah itu lah history tentang “Grand Cordon of the order of the Rising Sun” lahir lalu diberikan kepada tokoh yang memiliki makna penting bagi pemerintahan Jepang.

JK menerima penghargaan itu  bukan sekadar lambang penghargaan tertinggi dari negeri matahari terbit tetapi selendang yang disematkan pada lengan kanan JK adalah lencana yang memiliki nilai dan kultur bagi Jepang. Segala nilai, history, budaya dan etos kerja rakyat Jepang terpancar dalam setiap lekukan lencana, emas dan Bunga Paulownia yang melekat pada selendang.

Pula terhadap isi piagam yang menyempurnakan  lencana berselendang tersebut. Termasuk makna tentang Negeri Matahari Terbit, terpancar melalui lencana yang melekat pada tubuh Jusuf Kalla. Sekiranya dari pemahaman itulah sehingga kekaguman saya atas penghargaan itu semakin dalam. Dan tentunya akan sangat bermakna bagi JK maupun bangsa Indonesia. Sebab setiap yang melekat pada selempang tersebut memiliki arti bagi kehidupan dan jiwa bangsa Jepang.

Makna tentang Matahari Terbit terangkum pada setiap sudut lencana, bunga Paulownia dan cakram.

Bagi Jepang, pertamakali menerbitkan penghargaan ini menamainya Orde Matahari Terbit atau Kyokujitsu-sh. Sebuah tanda kehormatan Jepang, yang didirikan pada 1875 oleh Kaisar Meiji.   Melalui laman Wikipedia, Orde Matahari Terbit merupakan  tanda jasa nasional pertama yang dianugerahkan oleh pemerintah Jepang pada 10 April 1875 melalui  dekret Dewan Negara.

Di dalam lencana tersebut, seperti lencana yang tersemat pada tubuh Jusuf Kalla  menampilkan pancaran sinar matahari  yang memang di desain seperti Matahari Terbit sebagaimana lambang dan konsep Matahari Terbit dari tanah Jepang.

Orde tertinggi bagi  Jepang adalah Orde Krisantemum yang hanya ditujukan bagi kepala negara atau keluarga kerajaan.

Orde tertinggi lain seperti yang disematka pada lengan JK merupakan salah satu penghargaan dari jenis Orde Bunga Paulownia, suatu penghargaan tertinggi  yang hanya dianugerahi kepada orang-orang yang memiliki  jasa terkenal dalam bidang hubungan internasional, promosi budaya Jepang, kemajuan dalam bidang mereka, pengembangan dalam kesejahteraan, atau penyelamatan lingkungan hidup.

Segala jiwa dan makna kehidupan bagi Jepang kini tersemat melalui selendang yang melekat pada tubuh JK.

Yah, sejak Selasa 10 Mei 2022 kita telah melihat foto foto Jusuf Kalla berselandang kebesaran yang diselempangkan pada pundak sebelah kanannya.

Pada riwayat pemberian anugerah yang diberikan Jepang kepada tokoh  non Jepang, jika  terselempang pada bagian kanan maka dapat diartikan sebagai lencana untuk Selempang Kebesaran di mana dalam lencana itu terlihat sudut delapan yang di tengahnya terdapat cakram matahari beremail merah.

Pada setiap bagian  yang terdiri dari delapan sudut  itu telah  disepuh pada bagian atas yang masing masing terdiri dari tiga sinar  yang  melambangkan sinar matahari.

Cakram tersebut  dikaitkan pita berwarna putih perpinggir merah lalu tersematkan daun bunga Paulownia beremail  hijau.  Selain pernak pernak yang memiliki arti tersemat pada selendang JK terdapat satu lagi cakram yang disematkan pada dada bagian kiri di mana terdapat tiga sinar yang telah disepuh dan memiliki perpanjangan sinar dari lencana yang tersemat pada selempang kanan Jusuf Kalla.

Tidak semua penghargaan dari Jepang tersemat cakram pada dada bagian kiri. Jika cakram tersebut tersemat pada dada bagian kanan maka penghargaan itu  merupakan penerima kelas kedua.

Penghargaan yang diterima oleh JK merupakan kesempatan yang sangat langka sebab Jepang atau kekaisaran  Jepang tak mengeluarkan anugerah ini setiap sekali setahun seperti anugerah anugerah lainnya baik nasional pun internasional.

Wikipedia mencatat,  Jepang pernah mengeluarkan penghargaan ini kepada tiga kepala negara  lainnya  yakni Mantan Perdana Menteri India Dr. Manmohan Singh, PM pertama Singapura Lee Kuan Yew serta mantan Perdana Menteri Malaysia Dr. Mahathir Mohammad.

Oh iya. terdapat  satu hal lagi yang JK dapatkan dari sakralnya penghargaan ini yakni semacam diploma  atau piagam yang disiapkan bersama dengan penanda kehormatan lainnya. Seperti diploma diploma lainnya pada tulisan yang tertera dalam piagam tersebut terdapat bubuhan tangan pribadi Kaisar.  Dalam piagam itu, ilustrasinya kira kira seperti ini.

Sumber Foto : Husain Abdullah, Jubir JK 
“Dengan rahmat dari Surga, Kaisar Jepang, duduk di atas takhta yang telah diduduki oleh dinasti yang sama sejak dahulu kala,Kami memberikan Kelas  Orde  Matahari kepada  HM Jusuf Kalla seorang warga negara  Indonesia  sebagai ekspresi atas niat baik yang kami persembahkan kepadanya.

Sebagai penyaksian, kami telah menetapkan tangan kami yang menyebabkan dicapkannya Segel Besar Negara di Istana Kekaisaran, Tokyo, hari ketiga belas bulan kelima tahun keempat Shwa”

Tulisan tentang JK bukan kali pertama melalui blog ini.  Beberapakali saya menulis  “Dunia JK”  terutama pada aktivitasnya sebagai tokoh perdamaian dunia. Walaupun saya juga berasal dari Makassar bukan berarti  dekat atau akbrab dengan JK akan tetapi saya mengenal JK lebih pada sebatas sebagai jurnalis yang kerap menemui dan wawancara dengannya.

Ketika JK mendamaikan konflik Ambon dan Poso di Malino, di situlah saya sangat memahami bagaimana peran seorang JK saat menangani konflik berkepanjangan bernunasa sara sehingga radio BBC London kala itu kerap menempatkan liputanku tentang peristiwa yang didamaikan oleh JK, pada urutan laporan utama yang memiliki durasi dua hingga empat menit. Peran peran itulah pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa JK akan terus berbuat dan sukses pada kemanusiaan dan perdamaian selain bidang lain yang melekat padanya. Sebagai pengusaha dan politisi tentunya.

Pun saat JK terjun langsung pada bencana Tsunami di Aceh tahun 2004, tergurat wajah keikhlasan dan ketegaran namun penuh keyakinan bahwa dirinya akan sanggup menangani bencana yang menewaskan ratusan ribu warga Aceh dan Sumatra. Teringat Bencana Tsunami dan Likuifaksi di Palu di mana pada awal bencana terjadi kesemrawutan penanganan. Tetapi saat JK bersama timnya tiba di lokasi, ada rasa lega bagi bangsa ini bahwa penanganan bencana segera akan teratasi.

Peran peran JK sepanjang dua kali menjabat sebagai Wakil Presiden  RI benar benar menempatkan posisinya bukan sebagai  wapres biasa tetapi Super Wapres.

Terakhir saat JK bertandang ke Afhganistan guna melanjutkan lawatannya untuk proses perdamaian di tanah Pahstun,  tulisan saya sungguh  sangat mengalir. Itulah sebabnya mengapa saya sangat gemar untuk  menulis tentang JK pada setiap perannya mendamaikan dunia serta perannya pada segala bencana di tanah air termasuk membantu Jepang ketika terjadi bencana gempa bumi dan Tsunami di negeri matahari terbit, negara asal penghargaan tertinggi untuk JK.

Peran JK dalam membantu Jepang pada setiap kebijakannya saat sebagai Wapres, menteri dan pengusaha adalah alasan penting bagi pemerintahan Jepang untuk menerbitkan anugerah tertinggi bagi JK. Atas setiap kebijakan kebijakannya tersebut hubungan Indonesia dengan Jepang meningkat bahkan semakin erat, hingga detik ini. Ada JK di balik hubungan yang begitu erat.

Bukan hanya pada isi ekonomi politik tetapi pada bantuan penanganan bencana, sosial dan hubungan kerjasama antara kedua negara tak lepas dari peran Jusuf Kalla terutama pada saat JK menjabat sebagai Wapres.

Tepat pada tahun 2022 ini, hubungan Indonesia dan Jepang genap berusia 64 tahun. Pada dekade usia yang sudah semakin menua tentu terdapat  peran JK yang  membina sekaligus mempertahankan hubungan kedua negara agar tetap berjalan harmonis dan semakin bersahabat.

Kita masih ingat pada peringatan 60 tahun hubungan Indonesia – Jepang, JK menekankan agar hubungan kedua negara jangan lagi  sekedar hubungan diplomatik  tetapi momentum bagi kedua negara untuk membangun hubungan antar semua kalangan, “kesempatan emas bagi keduanya” tandas JK (20/1/2018).  JK berharap agar pada tahun tahun mendatang pemuda Indonesia dan Jepang mempererat tali persahabatan serta interaksi antar masyarakat bagi kedua negara.

JK masih sangat yakin bahwa ruang ruang persahabatan kedua negara dalam segala bidang masih sangat terbuka lebar dan jalannya masing panjang bagi kedua negara.

Membangun dan membina hubungan kedua negara ini tak boleh pupus atau renggang. Mungkin itulah sebabnya pada peringatan 60 tahun hubungan Indonesia — Jepang,  JK sangat berharap agar Indonesia dan Jepang meningkatkan lagi hubungan bukan sekadar pada hubungan diplomatik tetapi meluas hingga pada ruang ruang kehidupan bermasyarakat.

Sebab mengawali hubungan antara Indonesia dan Jepang pasca Perang Dunia II  sungguh sangat berliku dan terjal. Catatan kritis Masashi Nishihara dalam buku Sukarno, Ratna Sari Dewi & Pampasan Perang : Hubungan Indonesia Jepang — Indonesia, 1951-1966 menyadarkan kita tentang pentingnya merawat hubungan kedua negara yang nyaris pupus saat proses negosiasi berlangsung.

Kedua negara menemui jalan buntu ketika membahas nilai pampasan perang yang diajukan Indonesia serta kesanggupan Jepang melalui skema pembayaran. Tujuh tahun, waktu yang cukup lama bagi kedua negara untuk mengikat hubungan diplomatik tepatnya pada 15 April 1958.

Sejak saat itulah hubungan kedua negara mulai merajut hingga pada puncaknya pada tahun 2018, Jepang merupakan investor nomor dua terbesar di Indonesia.

Dan JK hadir pada setiap perjalanan itu.

Sebagai penulis, Saya mengucapkan selamat dan sukses kepada HM. Jusuf Kalla atas anugerah GRAND CORDON OF THE ORDER OF THE RISING SUN.

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.