Memory Mbah Nyai Azizah “Zah” Ma’shoem Lasem: Diminta Pakai Sarung-Peci dan Pindah dari HMI

Mbah Nyai Azizah “Zah” Ma’shoem Lasem
Mbah Nyai Azizah “Zah” Ma’shoem Lasem

banner 800x800

banner 800x800

banner 400x400

Oleh: Dr. Mohammad Nasih, Pengasuh Pondok Pesantren dan Sekolah Alam Nurul Furqon (Planet NUFO) Mlagen Rembang dan Rumah Perkaderan & Tahfidh al-Qur’an; Pengajar di FISIP UMJ & Pascasarjana Ilmu Politik UI ( Redaksi Ahli Hajinews.id ).

Hajinews.id – Mbah Nyai Azizah Ma’shoem, atau kami akrab memanggilnya Mbah Zah, adalah generasi kedua pengasuh Pesantren al-Hidayat, Soditan, Lasem, Rembang. Beliau adalah puteri ketujuh pasangan Kiai Ma’shoem dan Mbah Nyai Noeriyah yang merupakan dua guru utama Ibu saya, terutama dalam menghafalkan al-Qur’an. Karena harapan besar Mbah Ma’shoem kepada Ibu saya, menurut cerita Ibu saya, beliau memanggil Ibu saya Hafidhah, padahal nama asli Ibu saya Chudzaifah.

Bacaan Lainnya

Hubungan kekeluargaan ini terus berlanjut dengan Mbah Zah. Sampai-sampai bisa dikatakan tak pernah ada lebaran yang kami tidak sowan ke kediaman adik Kiai Ali Ma’shoem Krapyak, Yogyakarta ini. Saya dan ketiga saudara saya yang semuanya perempuan dan ketiganya mondok di Pesantren al-Hidayat di bawah asuhan Mbah Zah sudah seperti cucu-cucu sendiri. Sudah menjadi semacam konvensi di rumah saya, anak perempuan mondok di al-Hidayat, sedangkan anak laki-laki mondok di An-Nur.

Walaupun saat pertama kali saya melihat Mbah Zah sudah sepuh, tetapi sisa-sisa kecantikannya masih nampak sangat jelas. Bahkan bisa dikatakan tidak pernah luntur. Beliau lebih saya ingat sebagai perempuan dengan busana kebaya ala Jawa yang sangat rapi, dengan kain jarik batik di bagian bawah dan kerudung bulat hitam dipadu dengan semacam selendang panjang yang ditumpangkan. Kefasihan melantunkan ayat-ayat al-Qur’an sangat terasa. Karena itulah, Pesantren al-Hidayat di bawah asuhan Mbah Zah dikenal sebagai pesantren al-Qur’an. Di sinilah suadara-saudara perempuan saya menghafalkan al-Qur’an. Kecuali adik bungsu saya.

Perhatian Mbah Zah kepada kami, dan sesungguhnya juga kepada semua orang, sangat nampak. Setiap kali sowan ke rumah Mbah Zah, kami tidak hanya menikmati hidangan ringan, tetapi juga makan berat. Bukan hanya kami yang sowan Mbah Zah, tetapi sebaliknya, cukup sering juga Mbah Zah mengunjungi rumah kami di Desa Mlagen. Kadang memang menyengaja dan kadang karena ada acara di lokasi yang melewati jalan desa Mlagen. Ternyata ini adalah kebiasaan beliau, bershilaturrahim sekaligus memantau perkembangan santri-santri dalam kehidupan bermasyarakat. Dan beliau sering mengungkapkan kegembiraannya karena kedua orang tua saya menjadi pengajar al-Qur’an yang istiqamah.

Jeda paling lama tidak bertemu dan sowan Mbah Zah adalah ketika saya kuliah di Semarang. Sebab, saat itu saya juga jarang pulang. Mungkin empat bulan sekali pulang. Itu pun hanya sebentar-sebentar saja. Sebab, saya sedang gandrung dengan aktivitas baru di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Informasi bahwa saya bergabung dengan HMI ini rupanya sampai ke Mbah Zah. Namun, informasi tentang HMI nampaknya dibuat sangat distortif, misalnya HMI dikatakan sebagai organisasi yang membuat anggotanya telah keluar dari paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Suatu malam, entah mendapatkan nomor telephone dari mana, Mbah Zah menghubungi sekretariat HMI Korkom Walisongo dan pas saya sedang ada di sana. Saya agak kaget, karena mendapatkan panggilan dari Mbah Zah. Berarti ini urusan serius. Setelah menanyakan kabar, dan mungkin mengubungi saya di nomor ini untuk memastikan bahwa saya adalah aktivis HMI, Mbah Zah meminta saya agar pindah dari HMI dan bergabung dengan PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) saja. “Cung, kowe iki putune Mbah Ma’shoem kok dadi ora Ahlus Sunnah Wal Jama’aah. Pindah PMII ae yo. (Jawa: Nak, kamu ini cucu Mbah Ma’shoem kok jadi tidak Ahlus Sunnah Wal Jama’ah)”. Demikian kira-kira pesan dari Mbah Zah. Waktu itu saya hanya mengatakan: “Nggih, Mbah”. Saya berpikir sederhana saja, bahwa ini pasti ada orang yang memberikan informasi tetapi tidak memahami konstalasi organisasi.

Tidak hanya sekali, Mbah Zah kemudian kembali menghubungi saya dan menanyakan apakah saya sudah pindah dari HMI? Waktu itu, saya hanya mengatakan bahwa harus persiapan dulu untuk bisa pindah, karena saya sedang menjabat sebagai Sekretaris Umum HMI Komisariat IQBAL Fakultas Ushuluddin IAIN Semarang dan PMII belum melakukan rekrutmen anggota baru. Saya menganggap sikap Mbah Zah ini sebagai bentuk perhatian lebih kepada saya, sampai-sampai harus menelpon saya. Padahal saat itu, biaya sambungan telephone luar kota dan HP masih sangat mahal. Namun, Mbah Zah sampai-sampai berkenan melakukannya untuk saya yang sebenarnya bukan siapa-siapa.

Pada saat lebaran tahun 2000 saya meyakinkan Mbah Zah bahwa menjadi HMI bukan berarti keluar dari paham Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Pernikahan Anas “Mas Anas” Urbaningrum dengan Mbak Tia saya jadikan senjata. “Mas Anas, menantu Kiai Attabiq Ali adalah pimpinan HMI, Mbah”, kata saya dalam bahasa Jawa kromo inggil. Mbah Zah kemudian tidak lagi membahas tentang masalah ini dan hanya tersenyum. Saat berpamitan pulang, Mbah Zah memberikan sebuah bungkusan: “Iki tak kei sarung karo kethu. Nek shalat kudu sarungan karo kethunan yo, Cung, (Jawa: Ini kuberi sarung dan peci. Kalau shalat, harus pakai sarung dan peci ya, Nak)”. Saya tersenyum lebar dan menerimanya dengan bahagia. “Nggih, Mbah. In syaa’a Allah. Matur nuwun sanget, Mbah.”.

Saya tak lagi canggung kepada Mbah Zah. Bahkan suatu ketika, pada akhir tahun 2008, seingat saya, waktu itu saya sedang berada di ruangan staff ahli Wakil Ketua MPR Pak AM. Fatwa, setelah bertahun-tahun tidak sowan Mbah Zah, beliau tiba-tiba menghubungi saya via HP. Tentu saya agak kaget, karena di ujung sana yang berbicara adalah Mbah Zah. Dan di luar dugaan saya, Mbah Zah memberikan “tawaran khusus” kepada saya. Namun, karena berbagai pertimbangan, dan untuk tidak mengecewakan beliau, saya mengatakan bahwa saya akan shalat istikharah untuk memberikan jawaban kepada Mbah Zah.

Beberapa tahun kemudian, saya mengajak istri saya sowan ke Mbah Zah di al-Hidayat. Sikap Mbah Zah sama sekali tidak berubah. Tetap baik dan menganggap saya dan istri saya yang sudah beliau ketahui sebagai putri aktivis “Quraisy” Muhammadiyah Jawa Tengah, dengan sangat baik. “NU Muhammadiyah sing penting podo Islame (Jawa: NU Muhammadiyah yang penting sama-sama Islamnya), demikian kata beliau kemudian. Ibu saya yang mendengar itu terlihat berseri-seri. Sebab, dalam lingkungan ibu saya, isu Muhammadiyah-NU ini masih tergolong sensitif.

Beberapa tahun kemudian kami mendengar, Mbah Zah sedang dirawat di salah satu rumah sakit di Salatiga. Saya mengajak istri saya untuk membesuk beliau. Walaupun sudah sangat lemah, Mbah Zah masih bisa memberikan respon kepada kami. Dan hanya berselang beberapa hari, kami mendapatkan kabar viral, bahwa Mbah Zah telah kembali kepada Allah Swt. pada 10 Desember 2017 pukul 22.00 di RS. Tlogorejo Semarang dalam usia lebih dari 93 tahun. Saya merasa sangat kehilangan dan bersedih, tetapi merasa beruntung telah bertemu beliau pada hari menjelang hari terakhirnya. Semoga Allah memberikan terbaik terbaik kepada beliau. Aamiin.


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.