Darah Tinggi Kambuh Saat Puasa, Lebih Baik Minum Obat Hipertensi Saat Pagi atau Malam Hari? Ini Anjuran yang Benar!

Darah Tinggi Kambuh Saat Puasa
Darah Tinggi Kambuh Saat Puasa

banner 800x800

banner 800x800

banner 400x400
Hajinews.id Puasa adalah menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan shiyam, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Lantas bagaimana untuk penderita darah tinggi?

Bacaan Lainnya

Seperti yang kita tahu, penderita darah tinggi dianjurkan untuk minum obat hipertensi setiap hari, dan tidak boleh putus.

Jika putus, dikhawatirkan bisa membuat darah tinggi melonjak.

Kondisi ini berbahaya, bisa sebabkan penyakit kronis yang mematikan, atau membuat lumpuh.

Misal, stroke.

Lantas untuk aturan minum obat hipertensi selama puasa, bagaimana aturannya?

Menurut laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), ada dua jenis obat hipertensi.

Obat pengontrol tekanan darah dari golongan Ace Inhibitor (captopril, ramipril), lebih dianjurkan untuk dikonsumsi sebelum makan.

Karena penyerapan obat tersebut rentan terganggu oleh makanan.

Sedangkan obat antihipertensi dari propranolol, amlodipin, candesartan, disarankan untuk dikonsumsi setelah makan.

Menurut Kemenkes, obat-obatan tersebut dianjurkan untuk diminum pada pagi hari.

Karena ada studi yang menunjukkan tekanan darah mencapai angka paling tinggi pada pukul 09.00-11.00 dan paling rendah di malam hari setelah Anda tidur.

Sehingga, mengacu riset tersebut, obat antihipertensi disarankan untuk diminum antara pukul 09.00-11.00.

Minum obat darah tinggi malam hari sebelum tidur

Kendati ada anjuran untuk minum obat antihipertensi pada pagi hari, studi yang dipublikasikan di European Heart Journal (2018) menyebut minum obat tekanan darah tinggi di malam hari lebih baik daripada pagi hari.

Riset dari ahli di Spanyol tersebut meneliti 19.000 penderita hipertensi yang rutin minum obat antitekanan darah tinggi dari tahun 2008 sampai 2018.

Hasilnya, pasien yang minum obat sebelum tidur, risiko serangan jantungnya turun 44 persen, peluang gagal jantung turun 42 persen, risiko stroke turun 49 persen, dan risiko kematian karena penyakit kardiovaskular turun 45 persen.

Perwakilan peneliti Ramon Hermida dari University of Vigo menyampaikan, penurunan risiko komplikasi hipertensi tersebut terkait kontrol tekanan darah yang lebih baik saat tidur.

“Kami telah mendokumentasikan, tekanan darah saat tidur adalah penanda paling signifikan dari risiko kardiovaskular,” jelasnya, seperti dilansir dari GridHealth.

Namun, Hermida memberikan catatan objek risetnya tersebut memiliki ritme tidur yang teratur, seperti bangun tidur di pagi hari dan tidur malam tidak terganggu.

Nah, dari dua waktu itu mana yang paling pas dan cocok untuk kita?

Masing-masing individu baiknya mengonsultasikannya dengan dokter.

Sebab, seperti yang sudah disebutkan di atas, aturan dan dosis darah tinggi masing-masing individu bisa berbeda.

Menurut ahli jantung dari RS Lenox Hill di New York, AS, Dr. Satjit Bhusri, berpendapat pasien perlu berkonsultasi dengan dokternya terkait waktu minum obat.

Menurutnya, waktu terbaik minum obat bagi pasien tergantung dengan kondisi fisik, aktivitas, dan tekanan darah masing-masing.

Alih-alih terlibat dalam perdebatan waktu minum obat, Bhusri lebih menekankan pada pentingnya konsistensi untuk mengoptimalkan kontrol tekanan darah.

Namun yang harus ditaati sama, harus rutin mengonsumsinya tidak boleh putus.

 

 


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.