Hikmah Pagi : Panduan Islam Merawat Orang Tua





 

Hajinews.id – Sewaktu kecil, orangtua merawat dan mengasuh kita dengan penuh kasih sayang. Ayah dan ibu berupaya memenuhi segala kebutuhan kita dengan berbagai keterbatasan mereka. Kini, setelah kita dewasa, saatnya ‘membalas budi’ dengan merawat orang tua kita yang sudah berusia senja. Bagaimanakah panduan Islam tentang cara interaksi anak dengan orang tua, terutama dengan orang tua yang sudah sepuh?

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Dalam kitab Nashoihul Ibad karya Imam Nawawi, sahabat Nabi, Umar bin Khattab diriwayatkan berkata yang artinya:

“Seandainya tiada kekhawatiran dianggap mengetahui hal-hal yang ghaib, niscaya aku bersaksi golongan berikut adalah penghuni surga, yaitu fakir yang mempunyai tanggungan (keluarga), istri yang diridhai suaminya dan istri yang menyedekahkan mahar kepada suaminya, orang yang diridhai kedua orang tuanya dan orang yang bertaubat dari dosa.”

Imam Nawawi menjelaskan perkataan ini adalah hadist mauquf atau hadits yang diberitakan oleh para shahabat dari sabda Rasulullah SAW. Meski begitu, dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa orang yang mendapat ridha dari orang tuanya termasuk dari golongan ahli surga. tentunya keridha-an orang tua didapat dengan cara memperlakukan orang tua dengan baik, berupaya membuat mereka senang hingga merawat mereka saat usia renta.

Sebuah sabda Nabi Muhammad SAW bahkan menjelaskan, orang-orang yang tidak mendapat keridhaan orang tua, padahal masih bisa mendapati orang tua saat renta adalah orang yang terhina.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ »

“Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, ”(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.”(HR. Muslim)

Ridha orang tua, ridha Allah SWT

Dari Abdullah bin Amru, Rasulullah SAW bersabda:

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَ سَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi).

Perlakuan yang baik kepada orang tua akan membuat mereka ridha kepada anak-anaknya. Sebaliknya, jika orang tua justru murka kepada anaknya, maka saat itu juga anak-anak orang tua tersebut mendapat murka Allah SWT.

Amalan para Nabi

Selain diajarkan oleh Rasulullah, berbakti kepada orang tua juga adalah amalan para Nabi dan orang-orang saleh terdahulu.

Dalam Alquran, Allah SWT berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri’.” (QS. Al Ahqaf: 15)

Berbakti kepada orang tua juga merupakan perilaku Nabi Isa AS:

Allah SWT berfirman:

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آَتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا (30) وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ مَا دُمْتُ حَيًّا (31) وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا (32)

“Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam: 30-32).

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.