Relasi Hati dan Pikiran

Relasi Hati dan Pikiran
Relasi Hati dan Pikiran




Oleh: Prof. Abd. Rasyid Masri,  Akademisi dan Pebisnis

Hajinews.id – MANUSIA dalam bahasa Ilahi, makhluk yang diciptakan lemah dan memiliki sifat mudah berkeluh kesah. Setiap manusia pasti pernah merasakan hati gelisah. Tapi adakah  relasi antara hati gelisah dengan pikiran yang kacau?

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Relasi hati gelisah dengan pikiran kacau dan stres seseorang, jelas ada, bahkan saking berpengaruh,  terkadang sampai menyalahkan diri sendiri dan Tuhan, atas derita yang dialami.

Bila kita menemukan seseorang yang stres pemikirannya dengan berbagai tugas-tugas dan beban hidup duniawi. Maka diberi solusi hidup, dan minta jangan sekali-kali sampai menyalahkan diri sendiri, apalagi menyalahkan Tuhan. Maafkanlah diri sendiri dan mohon maaflah kepada Tuhan.

Orang gelisah hatinya sebaiknya banyak melakukan refreshing di tempat-tempat yang sejuk dan menyenangkan hati. Mendekati masjid, perbanyak ibadah, ikuti kebiasaan yang baik, seperti rekreasi dan kumpul dengan kawan-kawan yang menyenangkan.

Setiap orang penting menata hatinya dan menghindari hati yang dendam, benci berlebihan. Sebab kedua hal tersebut berkontribusi besar melahirkan kegelisahan hidup dan kekacauan pikiran seseorang.

Sebab kalau memelihara kebencian, maka terkadang kebaikan seseorang tak akan pernah terlihat oleh mata, sehingga disinilah pentingnya menata hati.

Dalam Islam hati sebagai qalb, bersifat mudah berubah-ubah dan di bolak-balikan. Terkadang paginya beriman tapi di makam hari berbuat maksiat. Itulah sifat hati.

Sebab hati yang baik jadi indikator seseorang itu baik. Rasul bersabda: Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, dan kalau daging tersebut baik maja baiklah seluruh tubuhnya dan begitu sebaliknya (H.R. Al Bukhari).

KH Aa Gym menyebut hati manusia itu ibarat cermin, jika tidak dirawat, tidak ditata, maka mudah terjangkiti kotoran dan debu. Tentu maksudnya debu-debu dosa.

Ibnu Qayum Al Jauziah, melihat hati manusia yang terdiri dari hati yang sakit (gelisah), hati yang mati, hati yang selamat. Semoga kita semua dapat menata hati menjadi qalbun salim, yakni hati yang tenang, hati yang tidak gelisah dan pikiran yang tenang.

Jangan ada dendam, jangan ada kebencian berlebihan, jangan ada dusta. Hadirkan kejujuran karena kejujuran mengantarkan seseorang masuk dalam surga dengan ridho Allah SWT. (*)

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.