Transformasi Manusia Rabbaniyyun

Tansformasi Manusia Rabbaniyyun
Hasanuddin (Ketua Umum PBHMI 2003-2005), Redaktur Pelaksana Hajinews.id




Oleh Hasanuddin (Ketua Umum PBHMI 2003-2005), Redaktur Pelaksana Hajinews.id

Hajinews.id – Kalau Ka’bah ini kita pahami sebagai Tubuh manusia, maka pada tubuh manusia itulah berkumpulnya seluruh entitas ciptaan. Di dalamnya ada tabiat malaikat, ada, jin, ada iblis, ada manusia, ada hewan, tumbuhan dan aneka makhluk mikroskopis (biomolecular) yang tidak teramati turut hidup. Semuanya itu berkumpul dan disebut sebagai “manusia”.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Nabi Ibrahim dikenal sebagai nenek moyang dari nafsu, karena kesuksesannya sebagai sosok manusia pertama yang sukses mengendalikan nafsunya dan memeliharanya sebagai bagian dari dirinya, serta menjadikannya sebagai “maqam”-nya dalam “meninggikan” harkat dan martabatnya. Diatas “reruntuhan” atau ketundukan nafsu inilah sholat (penyerahan diri) itu diperintahkan untuk ditegakkan. Membersihkan tubuh dengan demikian adalah “meninggikan Ka’bah” (Baitullah). Karena tubuh manusia (Adam) itu diciptakan dari hakikat Nurullah yang “hudur” melalui proses “Billahi”. Transformasi perjalanan “turun” dari nurullah melalui enam fase penciptaan, mencapai kesempurnaannya dengan kehadiran species manusia sebagai puncak transformasi Rabbaniah.

“Bersihkanlah rumah-KU” tiada lain adalah menjernihkan semua “kekeruhan” akibat percampuran tabiati dalam proses penjadian. Hanya dengan “tubuh yang bersih” itulah terpenuhi apa yang dicakup oleh kata “rumah-KU”. Sebagaimana Dia telah menetapkannya sebagai arsy bagi-Nya. Jika “rumah-KU” ini telah “bersih” maka bertakwalah para penghuni tubuh itu mengitari arsy. Dengan demikian “bersih” disini mesti dipahami bahwa totalitas tabiati (malaikati, hawa nafsu (iblis), biomolecular semuanya telah menjadi muslim. Keadaan inilah yang dimaksudkan oleh Nabi Muhammad SAW, bahwa; tiap Nabi, memiliki Qarin-nya masing-masing dari kalangan Jin dan Syaitan; namun pada diri beliau keduanya telah menjadi muslim sehingga semuanya taat dan patuh kepada Nabi Muhammad SAW.

“Orang-orang yang melakukan tawaf, itikaf, rujuk dan sujud”. Dengan demikian dimaksudkan bahwa semua species yang menetap dalam tubuh itu, telah menjadi muslim dan turut serta menjalankan syariat Islam. Pada saat itulah terwujud apa yang dimaksud “tempat berkumpul yang aman dan damai”.

Jika “diri” telah menjadi “Baitullah” maka ia menjadi “kiblat” diri, bagi dirinya sendiri. Sehingga mereka yang ingat kepada Allah, akan melihat dirinya sendiri. Karena cermin yang datar itu akan memantulkan bayangan diri yang bercermin. Sehingga siapa yang menyaksikan dirinya, sesungguhnya Dia telah disaksikan oleh-Nya.

Kira-kira demikianlah “makna batin” dari firman Allah SWT berikut ini:

وَاِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَاَمْنًاۗ وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّىۗ وَعَهِدْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْعٰكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ

wa iż ja‘alnal-baita maṡābatal lin-nāsi wa amnā, wattakhiżū mim maqāmi ibrāhīma muṣallā, wa ‘ahidnā ilā ibrāhīma wa ismā‘īla an ṭahhirā baitiya liṭ-ṭā’ifīna wal-‘ākifīna war-rukka‘is-sujūd

Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Ka’bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat salat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang iktikaf, orang yang rukuk dan orang yang sujud!” (Q.S Al-Baqarah [2] : 125)

Catatan ini bisa diurai lebih panjang, namun kami cukupkan sekian saja pada kesempatan ini.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan bimbingan-Nya. Dan kepada-Nya lah segala urusan dikembalikan.

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.